Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I
Pernahkah kita berhenti sejenak dari kesibukan dunia, lalu bertanya kepada diri sendiri: untuk apa sebenarnya kita hidup? Ke mana waktu yang selama ini kita habiskan? Apa yang sudah kita lakukan dengan ilmu yang kita miliki? Dari mana harta yang kita kumpulkan berasal, dan untuk apa kita menggunakannya? Serta apakah tubuh yang Allah titipkan kepada kita telah digunakan untuk melakukan kebaikan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan sekadar renungan biasa. Semuanya mengingatkan kita bahwa kehidupan di dunia bukanlah perjalanan tanpa tujuan. Ada amanah yang harus dijaga, ada kesempatan yang harus dimanfaatkan, dan ada pertanggungjawaban yang kelak akan kita hadapi di hadapan Allah SWT.
Sering kali manusia terlalu sibuk mengejar sesuatu yang terlihat oleh mata, tetapi lupa mempersiapkan sesuatu yang akan menentukan keselamatannya di akhirat. Kita bekerja keras untuk memperoleh penghasilan, berusaha meningkatkan kedudukan, mengumpulkan kekayaan, dan membangun nama baik di tengah masyarakat. Semua itu tidak salah selama dilakukan dengan cara yang halal dan tidak melalaikan kewajiban kepada Allah.
Namun, jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita lupa bahwa umur semakin berkurang, kesempatan semakin terbatas, dan kematian dapat datang kapan saja tanpa menunggu kita siap.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas nikmat yang telah diterimanya. Karena itu, ada empat perkara penting yang patut menjadi bahan introspeksi dalam kehidupan kita: umur, ilmu, harta, dan tubuh.
1. Tentang Umur: Untuk Apa Waktu Kita Dihabiskan?
Umur merupakan salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Dengan umur, kita memiliki kesempatan untuk beribadah, mencari ilmu, bekerja, membahagiakan keluarga, membantu sesama, serta memperbaiki kesalahan yang pernah kita lakukan.
Namun, umur juga merupakan amanah yang tidak dapat diulang. Waktu yang telah berlalu tidak mungkin kembali, sekalipun kita memiliki kekayaan yang melimpah atau kedudukan yang tinggi.
Setiap hari yang kita jalani sesungguhnya membawa kita semakin dekat kepada akhir kehidupan. Ketika usia bertambah, bukan hanya angka umur yang meningkat, melainkan kesempatan hidup di dunia juga semakin berkurang.
Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang terbaik adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya, sedangkan orang yang terburuk adalah orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya.” (HR. At-Tirmidzi)
Pesan hadis ini sangat dalam. Panjang umur bukanlah ukuran mutlak keberhasilan seseorang. Umur yang panjang akan menjadi keberuntungan apabila dipenuhi dengan amal saleh, ketakwaan, manfaat bagi sesama, serta kesungguhan untuk memperbaiki diri.
Sebaliknya, umur panjang dapat menjadi kerugian apabila seseorang terus-menerus menghabiskan waktunya dalam kemaksiatan, kezaliman, permusuhan, dan perbuatan yang merugikan orang lain tanpa keinginan untuk bertobat.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Sudah berapa usia saya sekarang?” Akan tetapi, tanyakan pula, “Apa yang sudah saya lakukan selama hidup ini?”
Sudahkah kita berbakti kepada kedua orang tua? Sudahkah kita memberikan kasih sayang kepada keluarga? Sudahkah kita menunaikan kewajiban kepada Allah SWT? Sudahkah kita membantu orang yang membutuhkan? Sudahkah kita meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti?
Jangan sampai kita memiliki umur yang panjang, tetapi sedikit amal kebaikan. Jangan sampai kita dikenal banyak orang di dunia, tetapi melupakan hubungan kita dengan Allah SWT.
Gunakanlah waktu untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, menuntut ilmu, bekerja dengan jujur, dan memberikan manfaat bagi kehidupan orang lain.
Apabila hari ini kita masih diberi kesempatan untuk hidup, berarti masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Jangan menunggu tua untuk bertobat, jangan menunggu sakit untuk mengingat Allah, dan jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya sesuatu yang selama ini kita miliki.
Sebab, waktu yang berlalu tidak dapat kembali, tetapi waktu yang masih tersisa dapat kita gunakan untuk memperbaiki masa depan kita di akhirat.
2. Tentang Ilmu: Sejauh Mana Ilmu Itu Diamalkan?
Ilmu merupakan nikmat yang sangat berharga. Dengan ilmu, manusia dapat membedakan yang benar dan yang salah, memahami kewajiban, mengambil keputusan dengan bijaksana, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Namun, ilmu bukan sekadar sesuatu yang harus dikumpulkan, dihafalkan, atau dibanggakan. Ilmu juga membawa tanggung jawab.
Seseorang mungkin memiliki gelar akademik yang tinggi, pengetahuan yang luas, dan kemampuan berbicara yang mengagumkan. Akan tetapi, semua itu harus tercermin dalam sikap, perilaku, kejujuran, dan manfaat yang diberikan kepada orang lain.
Ilmu agama, misalnya, seharusnya mendorong seseorang semakin taat kepada Allah SWT, semakin santun kepada sesama, serta semakin berhati-hati dalam bertindak. Ilmu tentang kejujuran seharusnya menjadikan seseorang menjauhi kebohongan. Ilmu tentang keadilan seharusnya mendorong seseorang untuk tidak menzalimi orang lain.
Demikian pula ilmu yang diperoleh melalui pendidikan, pengalaman, dan pekerjaan. Semuanya dapat menjadi jalan kebaikan apabila digunakan untuk membantu menyelesaikan persoalan masyarakat, menciptakan kemajuan, dan meningkatkan kesejahteraan bersama.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff: 2–3)
Ayat ini mengingatkan kita agar menjaga kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Jangan sampai kita pandai menasihati orang lain, tetapi mengabaikan nasihat yang ditujukan kepada diri sendiri.
Jangan sampai kita mengajarkan kejujuran, tetapi terbiasa berbohong. Jangan sampai kita berbicara tentang kepedulian, tetapi menutup mata ketika melihat orang lain mengalami kesulitan.
Ilmu seharusnya menjadikan seseorang semakin rendah hati, bukan semakin sombong. Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki, semestinya semakin besar pula kesadaran bahwa masih banyak hal yang belum diketahui.
Karena itu, jangan pernah berhenti belajar. Carilah ilmu yang bermanfaat, amalkan sesuai kemampuan, dan bagikan kepada orang lain dengan cara yang baik.
Apabila kita memiliki ilmu agama, gunakanlah untuk membimbing diri dan keluarga menuju kebaikan. Apabila kita memiliki ilmu profesional, gunakanlah untuk bekerja secara amanah. Apabila kita memiliki kemampuan memimpin, gunakanlah untuk memperjuangkan kepentingan bersama, bukan sekadar kepentingan pribadi.
Ilmu yang bermanfaat bukan hanya membuat seseorang terlihat pintar, tetapi juga membantu dirinya menjadi lebih baik dan menghadirkan kebaikan bagi orang lain.
3. Tentang Harta: Dari Mana Diperoleh dan Ke Mana Dibelanjakan?
Harta merupakan salah satu ujian besar dalam kehidupan manusia. Dengan harta, seseorang dapat memenuhi kebutuhan keluarga, menyekolahkan anak, membantu orang tua, membayar kewajiban, bersedekah, serta mendukung berbagai kegiatan yang bermanfaat.
Namun, harta juga dapat menjadi sumber kelalaian apabila membuat seseorang lupa kepada Allah SWT, menghalalkan segala cara, meremehkan hak orang lain, atau terjebak dalam keserakahan.
Tidak ada yang salah dengan menjadi kaya. Islam tidak melarang umatnya bekerja keras, memiliki usaha, memperoleh penghasilan yang baik, ataupun membangun kehidupan yang sejahtera. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana harta tersebut diperoleh dan bagaimana harta itu digunakan.
Dalam ajaran Islam, pertanggungjawaban mengenai harta mencakup dua pertanyaan mendasar.
Pertama, dari mana harta itu diperoleh?
Apakah melalui pekerjaan yang halal, perdagangan yang jujur, usaha yang sah, dan penghasilan yang tidak merugikan orang lain? Ataukah melalui penipuan, korupsi, penggelapan, suap, perampasan hak, dan cara-cara yang dilarang agama?
Harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar dapat membawa kerugian, bukan hanya bagi pemiliknya, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat yang terdampak oleh perbuatannya.
Karena itu, jangan hanya mengejar besarnya penghasilan. Perhatikan pula kehalalan sumbernya. Penghasilan yang sederhana tetapi diperoleh secara jujur dan halal jauh lebih menenteramkan daripada kekayaan melimpah yang dibangun di atas kezaliman.
Kedua, untuk apa harta itu dibelanjakan?
Apakah digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang baik, menafkahi keluarga, membantu orang yang kesulitan, membayar zakat ketika telah memenuhi syarat, bersedekah, dan mendukung kegiatan yang bermanfaat? Ataukah justru dihabiskan untuk kemaksiatan, kesombongan, pemborosan, dan perbuatan yang merugikan sesama?
Allah SWT berfirman: “Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.” (QS. At-Takatsur: 8)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT bukan sesuatu yang boleh diperlakukan tanpa tanggung jawab.
Harta yang kita miliki hari ini pada akhirnya akan kita tinggalkan. Rumah, kendaraan, tabungan, jabatan, dan berbagai barang berharga tidak akan ikut bersama kita ketika meninggalkan dunia. Yang akan kita pertanggungjawabkan adalah cara kita memperoleh dan menggunakannya.
Jangan sampai kita terlalu sibuk memperbesar kekayaan, tetapi lupa menunaikan hak keluarga. Jangan sampai kita mampu membeli barang-barang mewah, tetapi tidak tergerak membantu orang yang sedang kelaparan. Jangan sampai kita bangga dengan banyaknya harta, tetapi melupakan zakat, sedekah, dan kewajiban lainnya.
Kekayaan sejati bukan hanya tentang berapa banyak yang berhasil dikumpulkan, melainkan juga tentang seberapa baik harta tersebut digunakan.
Bisa jadi seseorang memiliki kekayaan yang sangat besar, tetapi hidupnya dipenuhi kegelisahan karena terus-menerus merasa kurang. Sebaliknya, seseorang yang memiliki penghasilan sederhana dapat merasakan ketenteraman karena hidup dengan jujur, bersyukur, dan tidak melupakan orang lain.
Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, carilah rezeki yang halal, kelola harta dengan bijaksana, dan jadikan sebagian rezeki sebagai jalan untuk membantu sesama.
Jangan hanya berusaha meninggalkan harta untuk keluarga, tetapi berusahalah pula meninggalkan teladan kejujuran, kepedulian, dan kebaikan.
Tubuh yang kita miliki merupakan nikmat dan amanah dari Allah SWT. Mata, telinga, tangan, kaki, pikiran, tenaga, serta kesehatan memungkinkan kita menjalani kehidupan dan melakukan berbagai aktivitas.
Sering kali kita baru menyadari betapa berharganya kesehatan setelah jatuh sakit. Ketika tubuh masih kuat, kita merasa dapat melakukan apa saja. Ketika kesehatan mulai menurun, barulah kita menyadari bahwa kemampuan bergerak, bekerja, beribadah, dan berkumpul bersama keluarga merupakan nikmat yang tidak ternilai.
Rasulullah SAW mengingatkan umatnya agar memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya: masa muda sebelum masa tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, waktu luang sebelum sibuk, dan hidup sebelum mati. (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)
Pesan tersebut mengajarkan kita untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang masih tersedia.
Selagi sehat, gunakan tubuh untuk beribadah, bekerja dengan jujur, mencari ilmu, membantu orang tua, mendampingi keluarga, serta menolong mereka yang membutuhkan.
Gunakan tangan untuk bekerja dan memberi pertolongan, bukan untuk menyakiti. Gunakan lisan untuk berkata jujur, menyampaikan nasihat, dan menghibur orang yang sedang bersedih, bukan untuk memfitnah, menghina, atau menyebarkan kebencian.
Gunakan mata untuk melihat hal-hal yang bermanfaat dan mengambil pelajaran dari kehidupan. Gunakan telinga untuk mendengarkan nasihat yang baik, bukan hanya mencari-cari keburukan orang lain.
Gunakan kaki untuk mendatangi tempat-tempat yang membawa kebaikan, memenuhi kebutuhan keluarga, mengunjungi orang sakit, dan membantu mereka yang membutuhkan pertolongan.
Kesehatan juga harus dijaga dengan pola hidup yang baik, istirahat yang cukup, makanan yang layak, dan usaha untuk menghindari kebiasaan yang merusak diri.
Merawat tubuh bukan berarti hanya mengejar penampilan atau kekuatan fisik. Merawat tubuh juga merupakan bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
Jangan menunggu sakit untuk mulai beribadah dengan sungguh-sungguh. Jangan menunggu tubuh melemah untuk menyadari pentingnya kesehatan. Jangan menunggu usia tua untuk melakukan kebaikan yang sebenarnya dapat kita lakukan sejak sekarang.
Kita tidak pernah mengetahui berapa lama kesempatan ini akan diberikan. Oleh sebab itu, gunakan kemampuan yang ada untuk melakukan sesuatu yang bernilai di sisi Allah SWT.
Tubuh yang sehat adalah kesempatan untuk berbuat baik. Tenaga yang kuat adalah peluang untuk menolong. Dan kehidupan yang masih diberikan adalah kesempatan untuk memperbanyak amal saleh.
Kehidupan Dunia Adalah Amanah, Bukan Tempat Tinggal Selamanya
Keempat perkara tersebut mengajarkan satu hal yang sangat penting: kehidupan ini bukan semata-mata tentang apa yang kita miliki, melainkan tentang bagaimana kita mempertanggungjawabkan apa yang telah Allah titipkan.
Umur adalah kesempatan yang harus digunakan dengan baik. Ilmu adalah amanah yang harus diamalkan. Harta adalah titipan yang harus diperoleh secara halal dan digunakan dengan benar. Tubuh adalah nikmat yang harus dijaga dan dimanfaatkan untuk kebaikan.
Semua itu saling berkaitan. Umur yang panjang seharusnya memberi ruang untuk memperbanyak amal. Ilmu seharusnya menuntun kita menggunakan harta secara bijaksana. Harta seharusnya membantu kita memenuhi kewajiban dan menolong sesama. Tubuh yang sehat seharusnya menjadi sarana untuk menjalankan berbagai kebaikan tersebut.
Jangan sampai kita menghabiskan umur untuk mengejar harta, tetapi kehilangan kesempatan beribadah. Jangan sampai kita memiliki ilmu yang luas, tetapi menggunakannya untuk menipu orang lain. Jangan sampai kita memiliki tubuh yang kuat, tetapi memanfaatkannya untuk melakukan kezaliman.
Dunia memang penting, tetapi jangan menjadikan dunia sebagai satu-satunya tujuan hidup.
Bekerjalah seolah-olah kita memiliki banyak kesempatan untuk membangun masa depan, tetapi jangan pernah melupakan bahwa setiap manusia memiliki batas usia. Raihlah cita-cita, bangunlah usaha, perjuangkan kehidupan yang lebih baik, dan bahagiakan keluarga. Namun, lakukan semua itu dengan tetap menjaga iman, kejujuran, dan tanggung jawab kepada Allah SWT.
Kita tidak harus menunggu menjadi kaya untuk bersedekah. Kita tidak harus menjadi orang berpendidikan tinggi untuk menyampaikan kebaikan. Kita tidak harus memiliki jabatan untuk membantu masyarakat. Bahkan senyuman yang tulus, perkataan yang menenangkan, dan pertolongan kecil yang diberikan dengan ikhlas dapat menjadi bagian dari amal kebaikan.
Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Sebaliknya, jangan pula meremehkan dosa hanya karena terlihat kecil. Biasakan diri untuk mengevaluasi perbuatan, meminta ampun kepada Allah SWT, dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Apabila pernah melakukan kesalahan, bertobatlah. Apabila pernah menyakiti seseorang, berusahalah meminta maaf dan memperbaiki keadaan. Apabila pernah mengambil hak orang lain, kembalikanlah sesuai kemampuan dan ketentuan yang berlaku. Apabila selama ini lalai beribadah, mulailah memperbaikinya hari ini.
Jangan biarkan penyesalan datang ketika kesempatan telah berakhir.
Muhasabah Diri Sebelum Hari Pertanggungjawaban
Sebelum tidur malam ini, cobalah bertanya kepada diri sendiri:
1. Apakah hari ini umur saya telah digunakan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat?
2. Apakah ilmu yang saya miliki telah membantu saya menjadi pribadi yang lebih baik?
3. Apakah rezeki yang saya peroleh berasal dari jalan yang halal dan telah digunakan untuk memenuhi kewajiban?
4. Apakah tubuh dan kesehatan saya telah dimanfaatkan untuk beribadah, bekerja dengan jujur, serta membantu sesama?
5. Apakah hari ini saya telah menyakiti seseorang melalui perkataan atau perbuatan?
6. Apakah ada kewajiban kepada Allah atau hak sesama manusia yang masih harus saya tunaikan?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membuat kita berputus asa, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa selalu ada ruang untuk memperbaiki diri selama Allah masih memberikan kesempatan hidup.
Jangan mengukur keberhasilan hanya dari jabatan yang berhasil diraih, rumah yang berhasil dibangun, kendaraan yang berhasil dibeli, atau banyaknya orang yang mengenal nama kita.
Ukurlah pula keberhasilan dari kejujuran yang kita jaga, amanah yang kita tunaikan, keluarga yang kita bahagiakan, orang yang kita bantu, ilmu yang kita amalkan, serta ibadah yang terus kita perbaiki.
Pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang seberapa tinggi kita berdiri di hadapan manusia, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani amanah di hadapan Allah SWT.
Kita semua sedang berjalan menuju akhir kehidupan. Tidak ada yang dapat memastikan kapan perjalanan itu berakhir. Karena itu, jangan menunda kebaikan, jangan memelihara kesombongan, jangan membiarkan hati dikuasai kebencian, dan jangan merasa bahwa kesempatan untuk bertobat akan selalu tersedia esok hari.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang mampu memanfaatkan umur dengan amal saleh, menggunakan ilmu untuk kemaslahatan, memperoleh dan membelanjakan harta dengan cara yang diridai-Nya, serta menjaga tubuh sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Semoga setiap langkah kita menjadi jalan menuju kebaikan, setiap rezeki menjadi sumber keberkahan, setiap ilmu menjadi manfaat, dan setiap kesempatan hidup menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ingatlah, kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa, menjalani kehidupan dengan berbagai titipan, dan kelak meninggalkan dunia tanpa membawa harta benda yang kita kumpulkan. Karena itu, jangan hanya sibuk memperkaya kehidupan di dunia, tetapi persiapkan pula bekal untuk kehidupan akhirat.
Semoga ketika tiba saatnya kita kembali kepada Allah SWT, kita tidak hanya meninggalkan nama dan kenangan, tetapi juga meninggalkan amal saleh, kebaikan, dan manfaat yang terus dirasakan oleh orang lain.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.






