Hindari Israf: Hidup Seimbang adalah Kunci Berkah

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I

Kita hidup di zaman yang aneh. Di zaman di mana orang pamer sisa makanan yang dibuang di tong sampah, sementara di sebelahnya ada yang kelaparan. Di zaman di mana lemari penuh baju, tapi masih merasa tidak punya baju. Inilah penyakit yang dalam Islam disebut ISRAF.

Bacaan Lainnya

Apa Hakikat Israf?

Para Ulama mendefinisikan:
Israf adalah melampaui batas kewajaran dalam perkara yang halal.

Beda tipis dengan Tabdzir. Kalau Israf itu berlebihan dalam hal yang halal, Tabdzir itu menghamburkan harta untuk hal yang haram dan tidak bermanfaat. Keduanya adalah saudara kembar yang dibenci Allah.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengatakan: Israf adalah pangkal dari segala akhlak tercela. Dari israf lahirlah sombong, riya, dan hubbud dunya (cinta dunia berlebihan).

Dalil-Dalil Larangan Israf:

A. Dari Al-Qur’an: QS. Al-A’raf: 31

“Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
Ayat ini turun bukan hanya soal makan, tapi soal seluruh gaya hidup. Allah memberikan rezeki untuk dinikmati, bukan untuk disia-siakan.
​
QS. Al-Isra: 26-27

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.”
Lihatlah, Allah tidak mengatakan pemboros itu seperti syaitan, tapi saudaranya syaitan. Artinya satu frekuensi, satu sifat: tidak tahu syukur.
​
QS. Al-Furqan: 67 – Ini ciri Ibadurrahman (Hamba Allah yang sejati):

“Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”

Islam itu agama pertengahan, wasathiyah. Tidak pelit, tidak juga boros.
B. Dari Hadits:

Rasulullah SAW bersabda: “Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan (israf) dan tanpa kesombongan (makhilah).” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah – Hadits Hasan)

Hadits yang sangat populer, dari Miqdam bin Ma’dikarib: “Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang menegakkan tulang punggungnya. Jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Tirmidzi, no. 2380 – Hasan Shahih)

Inilah konsep diet 1400 tahun lalu yang baru sekarang diakui dunia medis modern.

Kisah Sejarah: Pelajaran dari Pendahulu
Kisah

1: Khalifah Umar bin Khattab RA dan Daging

Suatu hari, Umar melihat Jabir bin Abdillah membawa daging. Umar bertanya, “Apa ini?” Jabir menjawab, “Saya sedang ingin makan daging, lalu saya beli.” Umar menangis dan berkata dengan tegas:
“Apakah setiap kali engkau menginginkan sesuatu, engkau langsung membelinya? Takutkah engkau menjadi orang yang disebutkan dalam ayat: ‘Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya’ (QS Al-Ahqaf: 20)?”

Bagi Umar, menahan hawa nafsu dari membeli yang diinginkan, bukan yang dibutuhkan, adalah jihad.

Kisah 2: Qarun, Simbol Puncak Israf

Allah abadikan di QS Al-Qashash: 76-82. Qarun diberi harta yang kunci-kunci gudangnya saja harus dipikul oleh orang-orang kuat. Apa yang dia lakukan? Dia keluar dengan kemewahannya untuk pamer (flexing). “Ia keluar kepada kaumnya dalam kemegahannya.” Akhirnya Allah benamkan dia beserta hartanya ke dalam bumi. Israf hartanya tidak menyelamatkannya.

Kisah 3: Rasulullah SAW Menegur Wudhu yang Berlebihan

Rasulullah pernah melewati Sa’ad bin Abi Waqqash yang sedang berwudhu. Rasulullah bersabda, “Mengapa engkau berlebih-lebihan (israf) dalam wudhu?” Sa’ad bertanya, “Apakah dalam wudhu ada israf?” Rasulullah menjawab, “Ya, sekalipun engkau berada di sungai yang mengalir.” (HR. Ibnu Majah)

Pelajaran: Dalam ibadah sekalipun, jika menggunakan air berlebihan, itu disebut Israf. Apalagi dalam perkara dunia?

Konteks Kekinian: Wajah Baru Israf di Era Digital

Dulu israf itu soal makan dan harta. Hari ini wajahnya jauh lebih canggih:

1. Israf Makanan (Food Waste): Fenomena Mukbang ekstrem, pesan makanan 10 menu hanya untuk konten, lalu sisanya dibuang. Padahal Rasulullah melarang kita menyisakan makanan. Indonesia adalah penghasil sampah makanan terbesar ke-2 di dunia. Satu piring nasi yang kita buang, bisa jadi adalah hak orang lain.

2. Israf Pakaian & Harta (Flexing & Fast Fashion): Beli baju bukan karena butuh, tapi karena ingin pamer di Instagram, TikTok. Trend fast fashion – beli, pakai sekali untuk foto, buang. Ini yang Allah sebut tabdzir. Padahal ada 3 lemari, tapi merasa tidak punya baju.

3. Israf Waktu & Kuota (Scroll Berlebihan): Berjam-jam scrolling TikTok, Instagram, menonton hal yang tidak bermanfaat. Mata lelah, hati kosong, waktu terbuang. Ini Israf waktu, padahal waktu adalah modal utama kita menuju akhirat.

4. Israf dalam Ibadah: Semangat ibadah sampai melampaui batas syariat, hingga mengabaikan hak tubuh, hak istri, hak keluarga. Puasa terus-menerus tanpa berbuka, shalat malam semalaman hingga tidak bekerja keesokan harinya. Islam melarang ini. Rasulullah menegur sahabat yang melakukan itu.

Obat dan Solusi: Bagaimana Menghindari Israf?

Pertama: Prinsip Wasathiyah. Biasakan bertanya sebelum membeli: “Apakah saya BUTUH ini, atau hanya INGIN ini?” Butuh itu kebutuhan, ingin itu hawa nafsu.

Kedua: Ingat Konsep Istikhlaf. Harta kita bukan milik kita, tapi titipan Allah. Kita hanyalah pengelola (khalifah). Kelak akan ditanya: Dari mana kau peroleh dan ke mana kau belanjakan?

Ketiga: Biasakan Hidup Sederhana (Zuhud), bukan Miskin. Zuhud bukan berarti memakai baju compang-camping. Zuhud adalah meletakkan dunia di tangan, bukan di hati. Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang kaya raya, pakaiannya sangat sederhana.
Manfaat jika kita meninggalkan Israf:
Hati menjadi tenang karena tidak dikejar gengsi, rezeki menjadi berkah, keuangan lebih terencana, dan yang paling penting, kita dicintai Allah karena Allah mencintai hamba yang sederhana.
Mari kita tutup dengan doa:

Allahumma inna nas-aluka nafsan qani’atan, wa rizqan halalan thayyiban, wa amalan mutaqabbalan. Ya Allah, berikan kami jiwa yang qana’ah (merasa cukup), rezeki yang halal dan baik, dan amal yang diterima.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *