JAKARTA – BELA RAKYAT – MERAH PUSAKA STRATEGIK INDONESIA (MPSI) menyoroti potensi ekonomi masyarakat adat Kalai Woyu Maklew di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, melalui pengolahan hasil panen kelapa menjadi kopra. Potensi ini dinilai dapat menjadi salah satu sumber peningkatan pendapatan masyarakat apabila didukung oleh akses pasar dan kemitraan usaha yang memadai.
Dalam pemantauan di lapangan, Tim MPSI menemukan bahwa masyarakat telah mengolah kelapa menjadi kopra. Namun, hasil produksi tersebut masih menghadapi kendala pemasaran karena belum mendapatkan pembeli yang sesuai. Keterbatasan jaringan perdagangan menjadi tantangan tersendiri, mengingat usaha pengolahan dan pemasaran kopra masih tergolong baru bagi masyarakat setempat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi sumber daya alam yang dimiliki masyarakat adat belum sepenuhnya memberikan nilai ekonomi optimal. Padahal, apabila dikelola secara berkelanjutan dan didukung rantai pemasaran yang baik, kopra berpeluang menjadi komoditas produktif yang dapat meningkatkan pendapatan keluarga.
MPSI memandang bahwa pemerintah perlu memberikan perhatian nyata terhadap pengembangan usaha kopra masyarakat Kampung Wanam, khususnya melalui fasilitasi akses pasar dan pencarian calon pembeli yang mampu menyerap hasil produksi masyarakat secara berkelanjutan.
Dukungan pemerintah diharapkan tidak berhenti pada pendampingan produksi, tetapi juga mencakup penghubungan masyarakat dengan pedagang pengumpul, pelaku industri pengolahan kelapa, serta mitra usaha potensial lainnya.
Selain itu, diperlukan dukungan berupa informasi harga pasar yang transparan, peningkatan kualitas kopra, penguatan kapasitas produksi, serta pendampingan pengelolaan usaha agar masyarakat memperoleh nilai jual yang layak.
Bagi masyarakat adat Kalai Woyu Maklew, persoalan yang dihadapi bukan semata-mata bagaimana menghasilkan kopra, melainkan bagaimana memastikan hasil produksi tersebut dapat terjual dengan harga yang wajar dan memberikan manfaat ekonomi secara nyata.
MPSI menilai bahwa pengembangan kopra perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat adat berbasis potensi lokal. Pengelolaan usaha secara berkelompok dapat menjadi salah satu pilihan untuk menghimpun hasil produksi, memperkuat posisi tawar, dan membangun kemitraan dengan calon pembeli.
Untuk mendukung langkah tersebut, diperlukan pendataan volume produksi, kualitas kopra, biaya pengolahan, serta kemampuan pasokan masyarakat. Data ini penting sebagai dasar dalam menjajaki kerja sama perdagangan dan memastikan kebutuhan calon pembeli dapat dipenuhi.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan hubungan yang lebih seimbang antara produsen dan pembeli, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penghasil komoditas, tetapi juga memiliki kesempatan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik dari sumber daya yang mereka kelola.
MPSI menegaskan bahwa potensi ekonomi masyarakat Papua, termasuk masyarakat adat Kalai Woyu Maklew di Kampung Wanam, membutuhkan dukungan yang konkret, terarah, dan berkelanjutan.
Kehadiran pemerintah dalam memfasilitasi pemasaran menjadi salah satu langkah penting untuk menjembatani hasil produksi masyarakat dengan kebutuhan pasar. Tanpa akses pembeli yang jelas, potensi produksi berisiko belum memberikan manfaat ekonomi sebagaimana yang diharapkan.
Oleh karena itu, MPSI mendorong pemerintah dan para pemangku kepentingan terkait untuk bersama-sama membuka akses pasar, menjajaki kemitraan usaha, serta memastikan hasil panen kelapa masyarakat dapat terserap dengan baik.
Potensi sudah ada, masyarakat sudah berproduksi, dan kopra sudah dihasilkan. Kini, yang dibutuhkan adalah akses pasar, kepastian pembeli, serta dukungan nyata agar potensi ekonomi adat Kalai Woyu Maklew dapat berkembang dan memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat Kampung Wanam.






