BEKASI – BELA RAKYAT – Kalau mau cari calon Wakil Bupati yang hidupnya enak dari lahir, jangan pilih Sarif Marhaendi.
Tapi kalau mau cari Wakil Bupati yang tahu rasanya menghirup bau sampah TPA setiap hari, yang tahu rasanya jalan desa rusak dilewati truk berton-ton, yang tahu rasanya warga kecil harus berteriak dulu baru didengar – inilah orangnya.
Dia Tidak Pencitraan, Dia Korban Sekaligus Pejuang
Orang lain bicara TPA Burangkeng dari ruang AC. Sarif Marhaendi tinggal di sana.
Desa Burangkeng, Setu. Di sanalah ia lahir. Di sanalah rumahnya. Di sanalah anak-istrinya menghirup udara yang sama dengan warga terdampak.
Karena itu, saat semua diam, dia yang maju.
Saat warga Burangkeng dibilang hanya butuh kompensasi, dia yang dobrak meja rapat dan bilang: Warga butuh keadilan!
Apa yang sudah ia rebut untuk rakyat?
• Kompensasi warga terdampak TPA, ia paksa ditambah kuotanya. Jangan cuma segelintir yang dapat.
• Jalan Lingkar Warga, agar anak sekolah tidak berebut jalan dengan truk sampah raksasa.
• Pagar Beton dan IPAL, agar air lindi tidak lagi meracuni sawah dan sumur warga.
• Lahan Teknologi Daur Ulang, agar Bekasi berhenti jadi kota sampah, mulai jadi kota yang mengolah sampah.
8 dari 10 usulannya di Komisi III DPRD dijadikan Program Prioritas Kabupaten Bekasi 2025. Itu bukan lobi elite. Itu hasil ketok palu karena desakan rakyat yang ia bawa ke dalam rapat.
“Saya hanya menjalankan fungsi representasi. Kalau ada masalah di dapil saya, wajib saya perjuangkan hak masyarakat agar dapat keadilan,” katanya.
Kalimat sederhana, tapi pejabat lain belum tentu berani ucapkan.
Bela Rakyat Kecil di Parlemen
Di DPRD Kabupaten Bekasi Dapil 1 – Setu, Cikarang Barat, Cikarang Selatan – ia duduk di Komisi III, Komisi Pembangunan dan Lingkungan Hidup. Tapi kerja dia bukan cuma sidak proyek.
Saat reses di Cijengkol, Setu, warga curhat: Jalan rusak, drainase mampet, posyandu bocor. Semua usulan infrastruktur. Sarif catat satu per satu.
Lalu dia lihat APBD Bekasi yang katanya efisien karena transfer pusat dipotong. Orang lain panik. Dia cari solusi tanpa mencekik rakyat kecil.
Dia bilang: Jangan naikan PBB rakyat! Kejar pajak yang selama ini lolos!
• Pajak katering pabrik-pabrik besar yang nilainya miliaran
• Pajak reklame raksasa di jalan protokol yang tidak bayar
• Pajak limbah logam industri yang selama ini tidak tergarap
Itu cara berpikir Sarjana Ekonomi yang berpihak. Bukan menekan yang kecil, tapi menagih yang besar yang selama ini ngemplang.
Kenapa Harus Wakil Bupati dari Rakyat?
Sarif Marhaendi paham, jabatan Wakil Bupati bukan jabatan gaya-gayaan. Wakil Bupati adalah ban serep yang harus jadi bemper rakyat.
1. Kalau Bupati sibuk urusan istana, Wakil Bupati harus ada di got, di TPA, di jalan rusak. Dia sudah terbiasa.
2. Kalau APBD tipis, Wakil Bupati harus kreatif cari duit, bukan kreatif cari utang.
Ilmu ekonominya untuk itu.
3. Kalau anak muda Bekasi dicekoki narkoba, Wakil Bupati harus pasang badan.
Sebagai Ketua Umum FORTAL Nusantara – Forum Masyarakat Anti Obat Terlarang – dia sudah perang lawan bandar, bukan baru wacana.
Modalnya Bukan Uang, Modalnya Luka Rakyat
• 16.329 suara di Pileg 2024, bukan beli, tapi dikasih rakyat karena dipercaya.
• Putra asli Burangkeng, bukan pendatang saat musim pemilu.
• Anggota DPRD aktif yang sidak langsung ke lapangan, bukan cuma absen rapat.
• Ketua Ormas Anti Narkoba se-Nusantara, bukti dia peduli masa depan anak-anak kita.
Bekasi tidak butuh Wakil Bupati yang pintar pidato di hotel bintang lima.
Bekasi butuh Wakil Bupati yang berani berantem di rapat anggaran demi jalan desa, demi kompensasi warga TPA, demi anak muda yang bersih dari narkoba.
Sarif Marhaendi, S.E Dari Burangkeng, Untuk Bekasi yang Berkeadilan.
Bukan calon titipan. Calon titipan rakyat.






