Ina Titi Sri Wulandari: Alumni Keperawatan UNAIR yang Menembus Karier Profesional di Jepang

SAITAMA – Menjadi perawat profesional tidak hanya membuka peluang untuk berkarier di dalam negeri, tetapi juga memberikan kesempatan untuk berkiprah di tingkat internasional. Hal tersebut dibuktikan oleh Ina Titi Sri Wulandari, S.Kep., Ns., RN., alumni Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (UNAIR) yang kini menjalani karier profesional sebagai perawat di Fuke Hospital, Saitama, Jepang.

Nama Ina Titi Sri Wulandari tercatat dalam laman resmi alumni Fakultas Keperawatan UNAIR sebagai salah satu alumni yang berkiprah di luar negeri. Ia menyelesaikan pendidikan keperawatan di UNAIR pada 2009 dan kemudian melanjutkan perjalanan profesionalnya hingga mampu memasuki sistem pelayanan kesehatan di Jepang.

Bacaan Lainnya

Kiprah tersebut menjadi salah satu gambaran nyata bahwa lulusan Fakultas Keperawatan UNAIR memiliki peluang untuk mengembangkan karier tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di lingkungan pelayanan kesehatan internasional.

Berawal dari Karier di Indonesia

Sebelum berkarier di Jepang, Ina telah memiliki pengalaman profesional di bidang kesehatan di Indonesia. Ia pernah bekerja di RS PHC Surabaya dan kemudian menjalani peran sebagai dosen di Universitas Katolik Widya Mandala. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kompetensi klinis dan profesionalnya sebelum mengambil keputusan untuk mengembangkan karier ke luar negeri.

Kesempatan untuk bekerja di Jepang muncul ketika Ina memperoleh informasi mengenai peluang kerja perawat melalui program G2G IJEPA (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement). Ia kemudian mencoba mengikuti proses seleksi tersebut.

Keputusan untuk mencoba kesempatan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan kariernya. Dari Indonesia, Ina kemudian harus menjalani berbagai tahapan persiapan dan pelatihan sebelum dapat bekerja dalam sistem pelayanan kesehatan Jepang.

Menjadi Perawat di Fuke Hospital, Saitama
Saat ini, Ina tercatat sebagai perawat di Fuke Hospital yang berada di Saitama, Jepang. Informasi tersebut tercantum dalam laman resmi Fakultas Keperawatan UNAIR dan kembali ditegaskan dalam publikasi UNAIR News pada Januari 2026.

Bekerja sebagai perawat di Jepang bukan sekadar persoalan berpindah negara. Ina harus beradaptasi dengan sistem pelayanan kesehatan, budaya kerja, bahasa, serta standar profesional yang berbeda dengan Indonesia.

Dalam wawancaranya dengan UNAIR News, Ina mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar adalah culture shock. Meskipun sebelumnya telah memiliki pengalaman sebagai perawat senior di Indonesia, ketika memasuki lingkungan kerja Jepang ia harus bersedia memulai kembali dari tahap awal dan mengikuti aturan serta budaya kerja yang berlaku. Pengalaman tersebut menjadi proses pembelajaran yang membentuk dirinya menjadi tenaga profesional yang semakin disiplin, teliti, dan tangguh.

Kompetensi Saja Tidak Cukup

Pengalaman Ina menunjukkan bahwa, kemampuan klinis merupakan salah satu modal penting untuk berkarier di luar negeri, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan.

Menurut pengalaman yang dibagikannya, perawat yang ingin bekerja di Jepang perlu memiliki kemampuan beradaptasi, kekuatan mental, kedisiplinan, kemampuan berkomunikasi, serta kemauan untuk terus belajar.

Perbedaan bahasa juga menjadi tantangan tersendiri. Dalam lingkungan pelayanan kesehatan, penguasaan bahasa tidak hanya diperlukan untuk percakapan sehari-hari, tetapi juga untuk memahami instruksi, menjalankan prosedur, melakukan dokumentasi, serta membangun komunikasi profesional dengan pasien dan tenaga kesehatan lainnya.

Lingkungan kerja di Fuke Hospital yang menuntut kemandirian, ketelitian, dan kepatuhan terhadap prosedur turut membentuk pengalaman profesional Ina. Menurutnya, bekerja di Jepang membuat dirinya semakin memahami pentingnya ketepatan dan tanggung jawab dalam setiap tindakan keperawatan.

Berbagi Pengalaman kepada Calon Perawat Indonesia

Pengalaman Ina di Jepang tidak hanya berhenti pada praktik profesional. Ia juga pernah dilibatkan sebagai narasumber dalam kegiatan yang memberikan wawasan kepada calon perawat Indonesia yang ingin berkarier di Jepang.

Dalam kegiatan tersebut, Ina membagikan pengalaman mengenai kiat menembus persaingan menjadi perawat di Jepang dan menghadapi gegar budaya dalam dunia medis Jepang. Pada saat kegiatan tersebut, ia juga telah tinggal di Jepang selama sekitar 10 tahun dan berbagi pengalaman mengenai tantangan serta persiapan yang dibutuhkan untuk mengikuti ujian perawat di Jepang.

Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman profesional seorang alumni dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi perawat berikutnya.

Selain itu, nama Ina Titi Sri Wulandari juga tercatat sebagai salah satu penulis “Buku Saku Menjadi Ners dan Pramurukti di Jepang”, yang diterbitkan pada 2022. Karya tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi dalam memberikan informasi mengenai peluang dan persiapan berkarier sebagai tenaga keperawatan di Jepang.

Membawa Nama Keperawatan Indonesia ke Tingkat Global

Perjalanan Ina Titi Sri Wulandari menunjukkan bahwa, karier keperawatan dapat berkembang melampaui batas geografis. Pendidikan yang diperoleh di Fakultas Keperawatan UNAIR menjadi salah satu fondasi dalam perjalanan profesionalnya hingga mampu beradaptasi dengan sistem pelayanan kesehatan di Jepang.

Kisah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa, daya saing perawat Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik dan kompetensi klinis, tetapi juga oleh keberanian untuk menghadapi perubahan, kemampuan beradaptasi, penguasaan bahasa, serta ketahanan mental.

Bagi mahasiswa dan lulusan keperawatan, pengalaman Ina memberikan pesan bahwa peluang karier internasional terbuka bagi mereka yang mempersiapkan diri secara serius. Tantangan bahasa dan perbedaan budaya bukan alasan untuk berhenti bermimpi, tetapi menjadi bagian dari proses yang harus dipersiapkan dan dihadapi.

Inspirasi bagi Generasi Perawat Muda

Lebih dari satu dekade setelah menyelesaikan pendidikan keperawatan di UNAIR, Ina Titi Sri Wulandari terus menunjukkan bahwa perjalanan seorang perawat dapat berkembang dalam berbagai arah. Dari pengalaman bekerja di Indonesia, menjalani peran sebagai pendidik, hingga akhirnya berkarier sebagai perawat di Jepang, setiap tahap perjalanan tersebut memberikan pengalaman yang memperkaya kompetensi profesionalnya.

Kini, sebagai salah satu alumni Fakultas Keperawatan UNAIR yang berkiprah di luar negeri, Ina menjadi bagian dari jejaring alumni yang membawa nama institusi dan profesi keperawatan Indonesia ke panggung internasional. Laman resmi Fakultas Keperawatan UNAIR sendiri mencatat Ina sebagai alumni yang berkarier di Fuke Hospital, Saitama, Jepang.

Kisah Ina menjadi pengingat bahwa profesi keperawatan memiliki ruang pengembangan karier yang luas. Dengan pendidikan yang kuat, kompetensi profesional, kemampuan beradaptasi, dan keberanian mengambil peluang, perawat Indonesia dapat membangun karier hingga ke tingkat global. (ari)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *