Manusia Mengalami 2 Kematian dan 2 Kehidupan: Perjalanan Panjang dari Tiada Menuju Kekal

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI /F-PKS / Kalimantan Selatan I

Seringkali kita mengira hidup ini hanya sekali: lahir, hidup, lalu mati selesai. Padahal Al-Qur’an membongkar rahasia besar bahwa kita telah, sedang, dan akan menjalani rangkaian kehidupan dan kematian yang jauh lebih panjang. Inilah yang membuat seorang mukmin tidak pernah takut mati, tapi takut tidak siap menyambut kehidupan setelahnya.

Bacaan Lainnya

Allah Ta’ala berfirman sebagai teguran yang sangat keras bagi yang lalai:

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” (QS. Al-Baqarah: 28)

Ayat ini adalah poros utama pembahasan kita. Para ulama tafsir menjelaskan secara detail fase ini.

I. TAFSIR DUA KEMATIAN DAN DUA KEHIDUPAN

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sahabat ahli tafsir, menjelaskan:

1. Mati Pertama: Fase Ketidakadaan

Ini adalah saat kita belum ada. Kita masih berupa tanah, air mani yang belum diberi ruh, belum berbentuk. Kita disebut amwatan (mati) karena belum memiliki kehidupan. Dalilnya juga diperkuat:

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْئًا مَّذْكُورًا

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al-Insan: 1)

Imam Ath-Thabari dalam Jami’ul Bayan menjelaskan, mati pertama adalah keadaan sebelum ditiupkan ruh di alam rahim.

2. Hidup Pertama: Alam Ruh dan Alam Rahim

Inilah kehidupan pertama kita. Jauh sebelum di dunia, Allah telah menciptakan ruh-ruh kita.

Dalil paling agung tentang ini adalah peristiwa Alam Alastu:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’.” (QS. Al-A’raf: 172)

Inilah hidup pertama kita di alam ruh. Kita semua sudah bersyahadat. Itulah mengapa fitrah manusia mencari Tuhan.

Kemudian hidup pertama dilanjutkan di alam rahim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘alaqah selama itu juga, kemudian menjadi mudhghah selama itu juga, kemudian diutus malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya…” (HR. Bukhari & Muslim)

Saat ruh ditiupkan usia 120 hari, itulah kita resmi menjadi manusia yang hidup.

3. Mati Kedua: Kematian di Dunia

Ini adalah kematian yang kita saksikan dan takuti. Berpisahnya ruh dari jasad. Inilah pintu gerbang utama.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)

4. Hidup Kedua: Kehidupan Dunia Sekarang

Inilah yang sedang kita jalani. Disebut hidup kedua karena setelah mati pertama. Dunia adalah ladang, bukan tujuan.

Allah berfirman menguatkan konsep dua mati dua hidup ini di surat lain:

قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَىٰ خُرُوجٍ مِّن سَبِيلٍ

“Mereka menjawab: ‘Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?’” (QS. Ghafir / Al-Mu’min: 11)

Ayat ini adalah penyesalan penduduk neraka yang baru sadar akan fase ini.

II. FASE SETELAH MATI KEDUA – PERJALANAN YANG LEBIH PANJANG

Kematian fisik bukanlah akhir, melainkan awal.

1. Alam Barzakh: Alam Penantian

Barzakh artinya pembatas. Ruh tidak kembali ke dunia, tidak langsung ke akhirat, tapi di alam kubur.

Rasulullah SAW menceritakan kisah fitnah kubur. Dari Al-Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, hadits yang panjang tentang bagaimana dua malaikat Munkar dan Nakir datang bertanya: Man Rabbuka? Ma dinuka? Man nabiyyuka?

Jika mukmin, kuburnya diluaskan sejauh mata memandang, dibukakan pintu surga, datang amal sholehnya dalam wujud indah. Jika kafir/munafik, kuburnya disempitkan hingga tulangnya bersilangan, dibukakan pintu neraka. (HR. Abu Daud, Ahmad, dishahihkan Al-Albani)

Inilah mengapa Rasulullah selalu berlindung dari adzab kubur di setiap tasyahud akhir.

2. Yaumul Ba’ts: Hari Kebangkitan

Setelah malaikat Israfil meniup sangkakala pertama, semua mati. Lalu tiupan kedua, semua bangkit.

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنظُرُونَ

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar: 68)

3. Hidup Ketiga: Kehidupan Abadi

Inilah puncak. Kehidupan yang tidak ada matinya lagi. Hanya ada dua tempat kembali:

فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ

“Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.” (QS. Asy-Syura: 7)

III. KISAH-KISAH DAN SEJARAH YANG MENGUATKAN

1. Kisah Penciptaan Nabi Adam ‘Alaihissalam

Allah menciptakan Adam dari tanah (mati pertama), lalu meniupkan ruh (hidup pertama). Para malaikat sujud. Inilah prototipe perjalanan kita semua. Kita semua berasal dari tanah yang mati, dihidupkan Allah.

2. Kisah Uzair yang Dimatikan 100 Tahun

Untuk membuktikan kekuasaan menghidupkan setelah mati:
“Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh… Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya (kembali).” (QS. Al-Baqarah: 259)

Uzair ‘alaihissalam melihat langsung bagaimana Allah mematikan dan menghidupkan, sebagai bukti fase kedua menuju ketiga.

3. Kisah Ashabul Kahfi

Pemuda yang ditidurkan Allah 309 tahun. Mereka mengalami “kematian” kecil sebagai bukti kebangkitan. Ketika bangun, mereka mengira baru sehari.

4. Kisah Pertanyaan Quraish tentang Ruh
Orang Yahudi menyuruh Quraish bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang ruh. Turunlah ayat: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku.” (QS. Al-Isra: 85). Menunjukkan hidup pertama di alam ruh adalah misteri ilahi.

IV. HAL-HAL LAYAK DIMASUKKAN SEBAGAI PELAJARAN

1. Hakikat Dunia Hanya Sebentar

Jika hidup pertama di alam ruh ribuan tahun sebelum dunia, dan hidup ketiga kekal selamanya, maka hidup di dunia yang 60-70 tahun ini hanya seperti kedipan. Jangan tertipu.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah dunia dibanding akhirat melainkan seperti seseorang yang mencelupkan jarinya ke lautan, lihatlah apa yang tersisa di jarinya.” (HR. Muslim)

2. Bekal Harus Disiapkan di Hidup Kedua

Amal hanya bisa dilakukan di hidup kedua (dunia) ini. Di alam barzakh, pintu amal sudah tertutup kecuali 3 perkara: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, anak sholeh yang mendoakan. (HR. Muslim)

3. Urgensi Tahajud di Sepertiga Malam

Kita menutup tulisan dengan ajakan tahajud, ini sangat tepat. Karena di sepertiga malam terakhir, Allah turun ke langit dunia dan berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, siapa yang meminta akan Aku beri.” (HR. Bukhari Muslim). Tahajud adalah cara terbaik menambah keimanan untuk menghadapi mati kedua.

4. Persiapan Menghadapi Mati Kedua
Perbanyak dzikir Laa ilaha illallah, karena siapa akhir kalimatnya itu, dijamin surga. (HR. Abu Daud). Sering mengingat penghancur kelezatan, yaitu mati. (HR. Tirmidzi)

V. PENUTUP: KESADARAN SEORANG MUKMIN

Wahai saudaraku, kita sudah pernah mati, sudah pernah hidup di alam ruh dan rahim, sekarang sedang hidup di dunia, pasti akan mati lagi, dan pasti akan hidup selamanya di akhirat.

Maka janganlah kita menjadi manusia yang menyesal seperti dalam QS. Ghafir: 11 tadi yang berkata “Hal ada jalan keluar?” Jawabannya tidak ada.

Fase-fase ini menunjukkan Allah Maha Adil dan Maha Kuasa. Dia yang mampu menciptakan dari tiada menjadi ada, pasti mampu menghidupkan kembali tulang belulang yang sudah hancur.

Tugas kita sekarang adalah di hidup kedua ini: perbanyak sujud, perbanyak taubat, jadikan sepertiga malam terakhir sebagai waktu curhat paling intim dengan Allah, sebelum datang mati kedua yang tidak bisa ditunda sedetik pun.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)
Semoga kita termasuk jiwa yang tenang itu.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis untuk mengingatkan diri sendiri dan saudara seiman. Silahkan disebarkan jika bermanfaat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *