Potensi 10.052 Hektare, 13.973 KK Petani dan Estimasi Investasi Rp50 Miliar
MAKASSAR — BELA RAKYAT – Kabupaten Bulukumba memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai salah satu pusat industri pengolahan kelapa di kawasan selatan Sulawesi Selatan.
Dengan potensi areal kelapa sekitar 10.052 hektare, produksi sekitar 5.433 ton per tahun, serta basis sekitar 13.973 kepala keluarga (KK) petani, Bulukumba memiliki modal penting untuk mendorong hilirisasi kelapa dari komoditas mentah menjadi produk industri bernilai tambah.
Melihat potensi tersebut, Wakil Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan sekaligus Ketua Umum Forum Komunikasi Pengusaha Bulukumba (FKPB), Syafruddin Mualla, mendorong masuknya investasi untuk membangun industri pengolahan kelapa terintegrasi di Bulukumba.
Menurutnya, peluang tersebut tidak hanya perlu dilihat sebagai pembangunan satu pabrik, tetapi sebagai bagian dari pengembangan Bulukumba Regional Coconut Industry Hub, yaitu pusat pengolahan yang menghubungkan bahan baku, petani, industri, logistik dan pasar dalam satu ekosistem bisnis.
“Potensi ini jangan hanya kita lihat sebagai komoditas yang dijual dalam bentuk bahan mentah. Kita harus mulai berpikir bagaimana Bulukumba dapat menjadi salah satu pusat pengolahan kelapa di kawasan selatan Sulawesi Selatan, sehingga nilai tambahnya tercipta di daerah,” kata Syafruddin.
Dari Komoditas Menjadi Industri
Pembangunan pabrik kelapa terintegrasi dinilai dapat menjadi salah satu langkah konkret untuk mendorong hilirisasi komoditas perkebunan di Bulukumba.
Konsep industri yang didorong tidak hanya berfokus pada satu produk. Berbagai bagian kelapa dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk seperti Virgin Coconut Oil (VCO), briket, coco fiber, nata de coco, serta berbagai produk turunan lainnya sesuai teknologi dan kebutuhan pasar.
Konsep tersebut juga dapat dikembangkan dengan pendekatan industri minim limbah atau zero waste, sehingga bagian kelapa yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat kembali menghasilkan nilai ekonomi.
“Kalau dikelola secara terintegrasi, satu komoditas bisa menghasilkan banyak produk. Ini yang membuat industri kelapa menarik untuk dikembangkan,” ujarnya.
Peluang Investasi Sekitar Rp50 Miliar
Pembangunan industri pengolahan kelapa terintegrasi di Bulukumba diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp50 miliar.
Dalam proyeksi awal bisnis, proyek ini memiliki potensi omzet sekitar Rp41,56 miliar per tahun dengan EBITDA sekitar Rp15,51 miliar. Proyeksi finansial awal juga menunjukkan IRR 30,88 persen dengan estimasi periode pengembalian investasi sekitar 3 tahun 3 bulan.
Angka tersebut merupakan proyeksi awal sehingga tetap membutuhkan kajian dan validasi lebih lanjut, termasuk dari sisi teknis, bahan baku, kapasitas produksi, pasar, teknologi, pembiayaan dan kelayakan bisnis sebelum menjadi dasar keputusan investasi.
“Investor tentu akan melakukan kajian sendiri. Yang kita dorong sekarang adalah membuka peluang dan mempertemukan potensi Bulukumba dengan investor yang memiliki kapasitas untuk mengembangkan industri ini,” jelas Syafruddin.
Bulukumba Regional Coconut Industry Hub
Kekuatan proyek ini bukan hanya pada produksi kelapa di Bulukumba, tetapi juga pada peluang membangun jaringan bahan baku regional.
Bulukumba memiliki basis produksi dan petani kelapa yang dapat menjadi fondasi utama. Sementara itu, daerah sekitar seperti Kepulauan Selayar, Bantaeng dan Sinjai dapat menjadi bagian dari jaringan pemasok potensial seiring dengan perkembangan kapasitas industri.
Salah satu wilayah pendukung yang memiliki potensi sangat besar adalah Kabupaten Kepulauan Selayar.
Data tahun 2024 menunjukkan luas areal kelapa di Kepulauan Selayar mencapai sekitar 19.765 hektare dengan produksi sekitar 26.829,46 ton.
Besarnya potensi tersebut membuka peluang terbentuknya jaringan pasokan bahan baku regional antara Bulukumba dan Selayar melalui pola kemitraan, kontrak pasokan, perdagangan antardaerah maupun mekanisme bisnis lainnya yang saling menguntungkan.
“Bulukumba memiliki basis kelapa sendiri. Selayar memiliki potensi bahan baku yang besar. Kita tidak melihat Selayar sebagai pesaing, tetapi sebagai bagian dari ekosistem industri kelapa regional,” kata Syafruddin.
Jaringan pasokan tersebut juga dapat diperluas ke kabupaten sekitar seperti Bantaeng dan Sinjai sesuai kebutuhan dan kapasitas industri.
Dengan konsep tersebut, Bulukumba tidak hanya ditawarkan sebagai lokasi pabrik, tetapi sebagai Regional Coconut Industry Hub yang menghubungkan bahan baku dari berbagai wilayah dengan industri, pasar domestik dan pasar ekspor.
Mengapa Bulukumba?
Syafruddin menilai keputusan menentukan lokasi industri tidak cukup hanya berdasarkan besarnya produksi bahan baku.
Investor juga akan mempertimbangkan berbagai faktor seperti akses logistik, transportasi, tenaga kerja, lahan, utilitas, kedekatan dengan pasar, biaya distribusi dan peluang pengembangan industri.
Karena itu, Bulukumba perlu ditawarkan sebagai bagian dari ekosistem industri kelapa regional yang memiliki basis bahan baku sendiri sekaligus akses terhadap potensi bahan baku di wilayah sekitarnya.
“Investor tentu akan menghitung semuanya. Bukan hanya di mana produksi kelapanya paling besar, tetapi juga bagaimana biaya logistik, akses pasar, infrastruktur dan seluruh ekosistem industrinya. Karena itu kita ingin menawarkan Bulukumba sebagai hub, bukan sekadar lokasi pabrik,” jelasnya.
Membuka Pasar bagi Petani
Pembangunan industri pengolahan kelapa diharapkan memberikan manfaat langsung kepada petani.
Dengan adanya industri, petani memiliki peluang memperoleh akses pasar yang lebih terstruktur dan kepastian penyerapan bahan baku. Di sisi lain, industri memperoleh jaringan pasokan yang lebih berkelanjutan.
“Industri ini harus memberikan manfaat kepada kedua belah pihak. Investor mendapatkan keuntungan, tetapi petani juga mendapatkan pasar dan nilai ekonomi yang lebih baik dari hasil perkebunannya,” katanya.
Selain petani, keberadaan industri juga berpotensi menggerakkan sektor transportasi, perdagangan, logistik, tenaga kerja, pengemasan, distribusi hingga berbagai usaha pendukung lainnya.
Terbuka bagi Investor dan Strategic Partner
Peluang pembangunan industri pengolahan kelapa terintegrasi di Bulukumba terbuka bagi investor swasta nasional maupun investor asing yang memiliki kemampuan modal, teknologi, manajemen dan akses pasar.
Selain investor swasta, peluang kerja sama dengan BUMN, perusahaan daerah maupun strategic partner lainnya juga terbuka sepanjang memiliki kesesuaian dengan model bisnis dan hasil kajian kelayakan investasi.
Investor yang memiliki pengalaman di bidang agroindustri, pengolahan kelapa, industri makanan dan minuman, perdagangan, ekspor maupun teknologi pengolahan dapat menjadi mitra strategis.
“Yang kita dorong adalah terbukanya peluang seluas-luasnya bagi dunia usaha. Investor swasta nasional, investor asing, BUMN maupun strategic partner lainnya dapat mengambil peran sesuai kapasitas dan model kerja sama yang disepakati,” kata Syafruddin.
Pemerintah daerah, lanjutnya, dapat berperan dalam menyediakan data dan memberikan fasilitasi sesuai kewenangannya, sementara investasi, teknologi, pengelolaan usaha dan pengembangan pasar dapat dikembangkan bersama investor dan mitra bisnis berdasarkan kajian yang profesional.
Bulukumba Jangan Hanya Menjual Bahan Mentah
Syafruddin berharap pengembangan industri kelapa dapat menjadi salah satu langkah nyata untuk mengubah pola ekonomi Bulukumba dari daerah penghasil komoditas menjadi daerah yang juga menghasilkan produk industri.
“Jangan sampai kelapa kita keluar dari Bulukumba dalam bentuk bahan mentah, kemudian nilai tambah dan industrinya justru berkembang di daerah lain. Kalau bisa kita bangun industrinya di sini, kenapa tidak?” katanya.
Menurutnya, potensi 10.052 hektare, produksi sekitar 5.433 ton per tahun dan basis 13.973 KK petani merupakan modal awal yang layak ditawarkan kepada dunia usaha.
Potensi tersebut dapat diperkuat dengan membangun jaringan bahan baku regional dari Selayar serta kabupaten sekitar seperti Bantaeng dan Sinjai.
“Yang kita bangun bukan hanya pabrik. Kita ingin membangun ekosistem industri kelapa. Bulukumba punya basis bahan baku, Selayar memiliki potensi yang besar, dan daerah sekitar juga dapat menjadi bagian dari jaringan pasokan. Tugas kita adalah menghubungkan potensi tersebut dengan modal, teknologi dan pasar,” ujar Syafruddin.
Dengan dukungan investasi, teknologi, logistik dan akses pasar, Bulukumba memiliki peluang untuk berkembang sebagai Regional Coconut Industry Hub, yang mengubah komoditas kelapa menjadi nilai tambah, lapangan kerja dan sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi kawasan selatan Sulawesi Selatan.
Gagasan tersebut terbuka untuk dikaji dan dikembangkan bersama investor maupun strategic partner yang memiliki kapasitas modal, teknologi, jaringan pasar dan pengalaman dalam industri pengolahan kelapa.






