“Izinkan saya berhijrah dari isu ijazah ….,” ujar Dokter Tifa melalui akun X-nya @DokterTifa, Kamis (6/8/2026). Demikian pengumuman online-nya.
Ibu Tifa atau jamak menamakan dirinya sebagai Dokter Tifa, dengan terbuka menyatakan perubahan sikapnya dalam urusan isu sengkarut ijazah Jokowi. Perubahan itu adalah bahwa dia tidak lagi mengusik keabsahan ijazah Jokowi yang tentu saja mengusik legitimasi Jokowi sebagai presiden selama ini. Apa pasal dan urusannya sehingga secepat itu Ibu Tifa berubah, kita tidak tertarik juga mengupasnya. Tapi yang mengusik adalah mengapa begitu banyak orang menyeret-nyeret kata kramat dan historis dalam peradaban agung Islam, yaitu hijrah. Seolah kata ini seperti rinso sachetan yang murah untuk mencuci peristiwa yang baru berlalu atau masa lalu banyak orang.
Dulu ada artis “menyeramkan” berubah nama menjadi Nuray Istiqbal hingga heboh dan laris sebagai merek dagang even, juga membawa kata kramat hijrah. Dan tentu masih banyak lagi sensasi-sensasi yang mengorbankan daya sakral dari kata hijrah itu.
Lalu apa hijrah itu sebenarnya dalam konteks historis lahir dan pertumbuhan ajaran dan umat Islam?
Hijrah memang artinya berpindah atau migrasi. Taoi dalam konteks sejarah kesadaran Islam, hijrah ini memiliki signifikansi istimewa. Begitu istimewanya hijrah ini, oleh musyawarah para sahabat Nabi dipimpin Khalifah Umar bin Khattab, peristiwa hijrah diputuskan sebagai tonggak titik nol sejarah umat Islam. Sejak itu, kalender juga diubah dan dimulai dari peristiwa Hijrah. Menunjukkan betapa agungnya Hijrah itu.
Bila kita refleksikan, makna hijrah itu meliputi beberapa aspek: bergerak, berpindah lokasi, berpindah suasana, berpindah strategi, hijrah bukan maksud berpaling dan menyerah mengejar tujuan, dan goalnya tetap penaklukan lawan.
Mari kita uraikan sedikit tentang 6 aspek dari hijrah tersebut.
(1) Bergerak
Bergerak sejauh lebih kurang 400 km dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah).
Bergerak secara teratur, klandestin (diam-diam), massal dan terpimpin oleh Nabi. Bukan tanpa koordinasi.
Bergerak dengan tujuan yang jelas dan politis.
Gerakan mobilisasi bawah tanah ke Madinah ini, tidak menempuh jalur utama yang biasa, melainkan melalui rute memutar lewat Gua Tsur dan jalur pesisir barat demi mengelabui kaum Quraisy. Waktu sekitar 8 hari perjalanan dengan berjalan kaki dan unta.
(2). Berpindah Lokasi
Berpindah dari lokasi lama, Mekkah di bawah kontrol musuh ke lokasi baru, Yatsrib yang memberi peluang untuk dikendalikan oleh Nabi. Kenyataannya, Nabi langsung membuat fakta pertahanan bersama (Piagam Madinah) seluruh komponen penduduk Yatsrib yang membuka ruang berikutnya bagi Nabi dan Muhajirin mendapatkan legitimasi dan kepemimpinan di Madinah.
(3) Berpindah Suasana
Berpindah dari suasana yang menjepit (menindas) kepada suasana yang leluasa dan menguntungkan secara moral, spritual, ekonomi, sosial dan politis.
(4) Berpindah Strategi
Berpindah dari strategi defensif kepada strategi ofensif. Sejak di Madinah, Nabi mulai mempraktikkan ekspedisi-ekspedisi intelijen dan penghadangan konvoi dagang kafir qurays.
Di Madinah, Nabi menyusun pasukan tempur Badar yang menang untuk pertama kalinya dengan gemilang.
(5) Hijrah Bukan Gaya dan Aksi Berpaling dan Menyerah, Tapi Membangun Kekuatan untuk Aksi Ofensif dan Penaklukan (Fatah)
Nabi dan anggota pergerakannya, tidak pernah berpaling dari tujuan penaklukan Mekkah.
(6) Hasil Akhir: Penaklukan Sempurna
Pada tahun 8 setelah Hijrah, akhirnya Mekkah ditaklukkan dengan cara damai, berupa mobilisasi massal sebanyak 10.000 orang, berjalan dari Madinah ke Mekkah yang dikenal dengan Fathu Makkah atau Penaklukan Mekkah. Akhirnya, Hijaz pun berada dalam kontrol Nabi Muhammad dan umat Islam.
Jadi secara luas, Hijrah itu adalah Pergerakan Nabi untuk membangun pijakan basis yang lebih kondusif lalu kemudian penaklukan dan perluasan kehadiran dan otoritas Islam.
Semoga kita kembali berhati-hati dalam menggunakan kata hijrah sebagai label yang benar-benar tepat dan sesuai.
Oleh: Syahrul E Dasopang, Seorang Da’i Tulisan






