Muhamad Nur Purnamasidi: MPLS Harus Menjadi Fondasi Sekolah Aman, Nyaman, dan Bebas Bullying

JAKARTA: BELA RAKYAT – Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kembali menjadi perhatian publik seiring dimulainya tahun ajaran baru. Di tengah berbagai harapan agar peserta didik dapat beradaptasi dengan lingkungan pendidikan yang baru, Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Muhamad Nur Purnamasidi menegaskan bahwa MPLS tidak boleh dipandang sebagai kegiatan seremonial semata. Menurutnya, momentum tersebut harus menjadi fondasi utama dalam membangun lingkungan sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari kekerasan maupun perundungan (bullying).

Pernyataan tersebut disampaikan Purnamasidi saat dimintai tanggapan mengenai pelaksanaan MPLS di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (13/7/2026).

Bacaan Lainnya

MPLS Menjadi Titik Awal Adaptasi Peserta Didik

Muhamad Nur Purnamasidi menilai hari pertama peserta didik memasuki jenjang pendidikan baru merupakan fase yang sangat menentukan proses penyesuaian mereka terhadap lingkungan belajar.

Baginya, perpindahan dari lingkungan lama menuju sekolah baru membutuhkan proses adaptasi yang harus difasilitasi secara baik oleh seluruh unsur pendidikan.

“MPLS itu adalah hari pertama anak kita berpindah dari lingkungan yang lama ke lingkungan yang baru. Tentu ini perlu penyesuaian, yang pada intinya bagaimana siswa bisa merasa diterima dan memahami lingkungan tempat mereka akan melakukan proses belajar mengajar,” ujar Purnamasidi.

Ia menjelaskan bahwa keberhasilan proses adaptasi pada masa awal sekolah akan berpengaruh terhadap kenyamanan siswa selama mengikuti proses pembelajaran di kemudian hari.

Sekolah Aman Bukan Hanya Tanggung Jawab Guru

Dalam pandangannya, menciptakan lingkungan pendidikan yang aman tidak bisa hanya dibebankan kepada pihak sekolah ataupun tenaga pendidik.

Purnamasidi menekankan bahwa keberhasilan menciptakan sekolah yang bebas dari kekerasan memerlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

Mulai dari guru, kepala sekolah, orang tua, hingga komite sekolah harus memiliki komitmen yang sama dalam menjaga peserta didik agar merasa aman secara fisik maupun psikologis.

Purnamasidi menilai sinergi tersebut menjadi modal utama dalam membangun budaya sekolah yang sehat sejak hari pertama kegiatan belajar dimulai.

Kesepahaman Sekolah dan Orang Tua Sangat Menentukan

Legislator asal Fraksi Partai Gollar Komisi X DPR RI ini menegaskan, MPLS juga menjadi momentum penting untuk membangun komunikasi antara sekolah dengan orang tua.

Kesepahaman mengenai proses pembelajaran, perlindungan peserta didik, hingga perhatian terhadap kesehatan fisik dan mental anak harus dibangun sejak awal.

“Ini adalah awal bagi lembaga pendidikan untuk membangun kesepakatan antara sekolah, tenaga pendidik, dan orang tua. Anak-anak harus merasa nyaman dan terlindungi, baik kesehatannya maupun secara kejiwaannya,” katanya.

Purnamasidi menilai komunikasi yang baik sejak awal akan memperkuat pengawasan terhadap perkembangan peserta didik selama berada di lingkungan sekolah.

Bullying Harus Dicegah Sejak Hari Pertama Sekolah

Dalam keterangannya, Purnamasidi juga memberikan perhatian khusus terhadap potensi terjadinya perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan.

Ia menegaskan bahwa masa pengenalan sekolah merupakan kesempatan strategis untuk membangun budaya saling menghormati serta menanamkan nilai-nilai kebersamaan kepada seluruh peserta didik.

Tak hanya itu, ia juga menjelaskan, langkah pencegahan harus dilakukan sejak awal agar potensi kekerasan tidak berkembang di kemudian hari.

“Ini penentu bagi semua stakeholder pendidikan untuk bisa meminimalkan proses kekerasan atau bullying yang mungkin potensinya akan terjadi di masa mendatang,” tegasnya.

Peran Komite Sekolah Perlu Diperkuat

Selain guru dan orang tua, Muhamad Nur Purnamasidi juga mendorong penguatan fungsi komite sekolah sebagai mitra strategis dalam mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang aman.

Ia berpandangan bahwa pengawasan terhadap perkembangan peserta didik tidak dapat dilakukan secara sepihak, melainkan membutuhkan komunikasi yang intensif dan berkelanjutan antara sekolah dan keluarga.

Dengan adanya kolaborasi tersebut, setiap persoalan yang muncul dapat dideteksi lebih dini sehingga penyelesaiannya dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

MPLS Diharapkan Menjadi Fondasi Pendidikan yang Inklusif

Purnamasidi berharap pelaksanaan MPLS benar-benar dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk membangun budaya sekolah yang ramah terhadap seluruh peserta didik.

Ia menyampaikan, ketika siswa merasa diterima, aman, dan terlindungi sejak hari pertama, maka proses pembelajaran akan berlangsung lebih kondusif sehingga potensi akademik maupun karakter peserta didik dapat berkembang secara optimal.

Melalui sinergi antara sekolah, tenaga pendidik, orang tua, dan komite sekolah, ia optimistis lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas bullying dapat diwujudkan sebagaimana tujuan utama penyelenggaraan MPLS.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *