Rasanya sulit ada yang menyangkal, bahwa manusia selalu dan tak pernah berhenti mencari sumber kebahagian hakiki. Tak pernah berhenti mencari, pertanda kehilangan pada jiwanya. Sumber kebahagiaan macam apa yang dicarinya?
Tergantung keadaan hidupnya dan keadaan jiwanya. Setiap insan menggambarkan dan menakar sendiri surganya. Si miskin yang kekurangan uang menakar surganya jika dirinya mempunyai uang melimpah. Sebab dipikirnya, dengan uang yang dimilikinya, dia dapat membeli setiap sumber kebahagian dan kenikmatan yang terhalang dijangkaunya oleh karena sebab tiada uang padanya. Maka setiap waktu dia berpikir dan bekerja bagaimana ia sampai pada takaran surganya itu.
Sedangkan si kaya lain lagi. Uang tak ada kurang padanya. Setiap kebutuhan yang masih bisa dibeli dengan uang, bisa dijangkau dan dinikmatinya. Tapi masalahnya, tidak semua dapat ditebusnya dengan uang. Kalau rumah yang indah dan nyaman, dapatlah dibelinya lalu dinikmatinya.
Kalau hidangan makanan yang paling lezat di muka bumi, selama masih bisa dibeli, tak ada soal baginya. Kalau menyalurkan syahwat biologisnya selama masih bisa dibeli dengan uang, hal itu tak menjadi masalah yang menghalang baginya. Pokoknya selama masih bisa dibayar dengan uang dan materi apa pun, bagi si kaya, itu tak lagi perkara yang berat dan susah.
Namun setiap kenikmatan itu sudah dibeli dan dinikmatinya. Tetapi masih saja banyak kenikmatan yang mnghauskan jiwanya. Pendeknya, jiwanya tak pernah kenyang dan selalu lapar kenikmatan demi kenikmatan. Setiap kali kenikmatan satu, misalnya dia mencoba rasa nikmatnya makanan khas Arab, setelah berkali-kali dirasainya, timbullah dorongan padanya untuk mencicipi rasa nikmat makanan khas Jepang.
Setelah berkali-kali pula dirasainya makanan khas Jepang itu, ingin pula dirinya merasai nikmat makanan khas Thailand. Terus demikian tak ada finalnya dorongan untuk mencari kenikmatan itu. Seolah kenikmatan itu hilang dan tak kunjung ditemukan. Sebab sebenarnya kenikmatan itu, bukanlah bersembunyi pada bumbu dan bahan baku makanan itu. Kenikmatan ragawi itu terselip di ujung lidahnya, pada syaraf-syaraf pencecap yang merasai makanan-makanan yang beraneka jenis, tekstur, aroma, rasa, warna, dan segalanya itu.
Syaraf-syaraf dan hormon yang dikeluarkannya untuk melumat makanan itulah yang ternyata paling bertanggung jawab menentukan nikmat dan selera pada setiap makanan yang dicicipinya berganti-ganti itu. Syaraf dan hormon itu sendiri tidak berdiri sendiri, keduanya ada karena keseluruhan organ dan sistem tubuhnya berfungsi baik dan sehat, sehingga memungkinkan fungsi syaraf dan hormonnya dapat bekerja mereaksi makanan yang dimasukkan ke mulutnya.
Aduhai ternyata lezatnya makanan itu, tidak ditentukan oleh faktor makanan itu sendiri. Betapapun lezatnya nasi panas dengan rendang padang dan kepiting yang digulai bersama udang, kalau diberikan pada orang dalam keadaan sakit diabetes, kelezatan itu hilang padanya. Bagaimana tidak? Dia tak akan menyentuh hidangan semacam itu demi menghindari unsur gula pada nasi yang mengebul. Baginya lebih baik diberikan padanya seonggok rebusan kentang dan ubi. Sudah hilang padanya selera dengan hidangan semacam itu. Lalu dimana surga itu? Pada selera? Lalu dimana selera itu muncul? Pada makanan atau pada tubuh yang mereaksi? Atau pada pikiran yang cemas dengan risiko penyakit? Relatif sakali surga itu, bukan?
Surga itu tidak hilang. Hanya terasa hilang dan terus dicari-cari tanpa henti pada orang dengan dorongan syahwat yang terus dirawat dan dimanjakan. Jika syahwat itu tidak dimanjakan atau dipaksa mengalah demi keselamatan, seperti orang pantang makan unsur gula karena ingin sehat dari penyakit, tiba-tiba saja kenikmatan itu meredup dan pergi begitu saja.
Nyatanya syahwat yang tak pernah puas itu, bisa juga berdamai dengan orang yang memilih lebih utama keselamatan dan kesehatan dirinya. Lalu kalau begitu, keselamatan dirikah esensi surga itu? Sebab kalau diri tidak selamat, buat apa kenikmatan dan hawa nafsu atau syahwat dipuaskan?
Sampai di sini kita mengetahui betapa rapuh, relatif dan tergantungnya kenikmatan yang selalu manusia kejar dan habiskan sumberdaya demi melayani dan memuaskannya. Ternyata hakikatnya setipis dan seringkih itu.
Pantaslah yang disuruh pada kita bukanlah memuaskan hawa nafsu dan mengejar kenikmatan, tapi keselamatan hidup. Dan tidak sampai di situ saja, tapi lengkap yang disuruh pada kita: keselamatan di dunia dan akhirat. Bagaimana kita mencapai dua keselamatan itu? Tentulah sudah sama-sama kita tahu: tunduk dan ridla pada setiap suruhan dan larangan Allah yang menganugerahkan kita nyawa, tubuh dan alam sumber penunjang kehidupan kita ini.
Itulah ternyata yang paling esensial yang harusnya kita perhatikan daripada memanjakan nafsu syahwat yang tak ada puasnya itu. Sebab syahwat itu merupakan pembakar energi agar kita hidup dengan baik, tapi bukan maksud hidup itu sendiri.
Oleh: Abul Ghany, Penulis Buku






