BANGMALAN: BELA RAKYAT – Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI menegaskan komitmennya untuk mengawal berbagai persoalan yang dihadapi petani garam nasional. Melalui kunjungan kerja spesifik dan Festival Aspirasi di Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Ketua BAM DPR RI Ahmad Heryawan menyoroti pentingnya membangun kemandirian garam nasional dengan menempatkan kesejahteraan petani sebagai prioritas utama.
Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari upaya DPR RI menghimpun berbagai persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat pesisir, mulai dari produktivitas yang masih rendah, ketidakpastian harga, hingga masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor garam.
Garam, Komoditas Strategis yang Belum Mandiri
Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan sekitar 70 persen wilayahnya berupa lautan. Potensi tersebut seharusnya mampu menjadikan Indonesia sebagai negara yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan garam nasional.
Namun fakta di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda. Kebutuhan garam nasional yang mencapai sekitar 4,8 juta ton per tahun belum sepenuhnya mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Akibatnya, impor masih menjadi salah satu pilihan untuk memenuhi kebutuhan industri maupun konsumsi.
Menurut Ahmad Heryawan, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus segera diselesaikan melalui kebijakan yang berpihak kepada petani garam.
“Kondisi ini menjadi perhatian bersama. Diperlukan upaya peningkatan produktivitas dan penguatan kebijakan agar potensi yang dimiliki dapat dimanfaatkan secara optimal,” ujar Ahmad Heryawan saat memberikan keterangan di Bangkalan.
Ahmad Heryawan: Negara Harus Hadir Membela Petani Garam
Politisi Fraksi PKS itu menegaskan bahwa petani garam merupakan bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus memperkuat ekonomi nasional. Karena itu, menurutnya negara tidak boleh membiarkan petani menghadapi berbagai tantangan sendirian.
Ia menilai keberpihakan terhadap petani garam bukan hanya menyangkut persoalan ekonomi semata, tetapi juga berkaitan dengan upaya membangun kemandirian bangsa.
“Pengembangan produksi garam nasional akan memberikan dampak ekonomi yang luas, termasuk penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir,” tegas Ahmad Heryawan.
Menurutnya, apabila produksi garam nasional meningkat, maka ketergantungan terhadap impor secara bertahap dapat ditekan sehingga manfaat ekonominya akan langsung dirasakan masyarakat.
Dua Agenda Besar yang Didorong BAM DPR RI
Dalam Festival Aspirasi tersebut, Ahmad Heryawan mengungkapkan terdapat dua agenda utama yang menjadi perhatian BAM DPR RI.
Pertama adalah peningkatan produktivitas melalui pemanfaatan teknologi modern, perbaikan sarana produksi, serta dukungan terhadap petani garam agar mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih baik.
Modernisasi dinilai menjadi kebutuhan mendesak karena perubahan iklim dan cuaca ekstrem semakin memengaruhi hasil produksi petani.
Kedua adalah penguatan regulasi, terutama mengenai kepastian harga agar petani memperoleh keuntungan yang layak.
Menurut Ahmad Heryawan, pemerintah perlu memberikan perhatian yang sama besarnya kepada sektor garam sebagaimana dukungan yang selama ini diberikan kepada sektor pertanian lainnya.
Menyerap Aspirasi, Lalu Mengawalnya hingga Menjadi Kebijakan
Berbeda dengan sekadar menerima keluhan masyarakat, BAM DPR RI memiliki tugas menghimpun aspirasi untuk kemudian dibahas secara kelembagaan sebelum diteruskan kepada alat kelengkapan DPR yang memiliki kewenangan sesuai bidangnya.
Karena itu, hasil kunjungan ke Madura tidak berhenti sebagai catatan lapangan, tetapi akan menjadi bahan pendalaman dalam pembahasan di DPR RI.
“Aspirasi yang kami himpun ini akan menjadi bahan pendalaman lebih lanjut di BAM dan akan diteruskan kepada komisi terkait sesuai dengan ruang lingkup kewenangannya. BAM berkomitmen untuk terus mengawal berbagai aspirasi masyarakat guna mendorong kebijakan yang berpihak pada peningkatan kesejahteraan rakyat serta penguatan kemandirian ekonomi nasional,” pungkas Ahmad Heryawan.
Madura dan Harapan Baru Industri Garam Nasional
Pulau Madura selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi garam terbesar di Indonesia. Ribuan keluarga menggantungkan hidup dari sektor pergaraman yang menjadi identitas ekonomi masyarakat pesisir.
Meski demikian, petani masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari fluktuasi harga, keterbatasan teknologi, hingga persaingan dengan garam impor. Kondisi tersebut membuat peningkatan kesejahteraan petani belum sepenuhnya sejalan dengan besarnya potensi yang dimiliki daerah.
Melalui kunjungan kerja ini, BAM DPR RI berharap berbagai persoalan tersebut dapat dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan yang konkret sehingga pembangunan sektor garam nasional tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memberikan perlindungan dan kepastian usaha bagi para petani.
Dengan penguatan teknologi, regulasi yang berpihak, serta komitmen pemerintah dan DPR RI dalam mengawal aspirasi masyarakat, kemandirian garam nasional diharapkan dapat terwujud dan menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia.






