JAKARTA: BELA RAKYAT – Di tengah tingginya ekspektasi masyarakat terhadap kinerja wakil rakyat, muncul sebuah pendekatan beda yang dinilai mampu memperluas manfaat program pemerintah tanpa harus terjebak pada batas-batas komisi di parlemen. Anggota Adde Rosi Khoerunnisa bersama Alien Mus menunjukkan bahwa kolaborasi lintas komisi dapat menjadi strategi efektif untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat.
Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan penyerapan aspirasi masyarakat yang kemudian juga disampaikan melalui unggahan di akun Instagram pribadi Adde Rosi. Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa perjuangan memenuhi kebutuhan masyarakat tidak boleh dibatasi oleh ruang lingkup komisi di DPR RI. Sebaliknya, sinergi antarsesama anggota legislatif justru menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi rakyat.
Model kerja sama itu diberi nama “Tukar Program”, sebuah konsep kolaborasi yang mempertemukan program pendidikan dengan sektor pertanian sesuai kebutuhan daerah pemilihan masing-masing.
Aspirasi Rakyat Tidak Mengenal Sekat Komisi
Sebagai anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, kebudayaan, riset, olahraga, dan perpustakaan, Adde Rosi selama ini banyak memperjuangkan berbagai program pendidikan, mulai dari beasiswa, rehabilitasi sekolah, hingga bantuan bagi tenaga pendidik.
Namun, dalam berbagai kunjungan kerja dan reses di Kabupaten Lebak dan Kabupaten Pandeglang, ia menemukan fakta bahwa kebutuhan masyarakat tidak berhenti pada persoalan pendidikan.
Mayoritas warga di kedua daerah tersebut menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Karena itu, menurutnya, peningkatan kesejahteraan masyarakat juga harus didorong melalui penguatan sarana produksi pertanian.
Alih-alih hanya mengusulkan program sesuai bidang komisinya, Adde Rosi memilih membangun komunikasi dengan rekan-rekannya di komisi lain.
Langkah inilah yang kemudian melahirkan kolaborasi bersama Alien Mus, anggota Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian, kehutanan, kelautan, perikanan, dan pangan.
Strategi “Tukar Program” Lahir dari Kebutuhan Daerah
Dalam keterangannya, Adde Rosi menjelaskan bahwa dirinya memiliki hubungan baik dengan banyak anggota DPR RI lintas komisi.
Salah satu komunikasi yang kemudian berkembang menjadi kerja sama konkret adalah dengan Alien Mus.
Menurut Adde Rosi, karakteristik daerah pemilihan keduanya sangat berbeda.
Daerah pemilihannya di Pandeglang dan Lebak memiliki potensi pertanian yang sangat besar sehingga lebih membutuhkan bantuan alat dan mesin pertanian.
Sementara itu, daerah pemilihan Alien Mus memiliki kebutuhan program yang berbeda. Dari situlah muncul ide saling menyelaraskan alokasi program agar lebih tepat sasaran.
Dalam penyampaiannya kepada masyarakat, Adde Rosi mengungkapkan bahwa dirinya mengajak Alien Mus untuk melakukan pertukaran alokasi program.
Program bantuan alat pertanian seperti hand traktor diarahkan ke wilayah Pandeglang dan Lebak, sedangkan dukungan program pendidikan dan beasiswa dapat disesuaikan dengan kebutuhan daerah pemilihan Alien Mus.
Konsep tersebut menurutnya merupakan implementasi nyata semangat gotong royong di parlemen.
Kolaborasi Lintas Komisi Dinilai Lebih Efektif
Pendekatan yang dilakukan kedua legislator Fraksi Partai Golkar tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa sinergi antarkomisi dapat menghasilkan dampak yang lebih luas dibanding bekerja sendiri-sendiri.
Secara kelembagaan, setiap komisi memang memiliki bidang tugas yang berbeda.
Namun dalam praktiknya, kebutuhan masyarakat sering kali bersifat multidimensi.
Petani, misalnya, bukan hanya membutuhkan alat produksi, tetapi juga akses pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.
Sebaliknya, peningkatan kualitas pendidikan juga akan lebih optimal apabila kondisi ekonomi keluarga ikut meningkat.
Melalui pola pikir inilah, kolaborasi antara Komisi IV dan Komisi X dinilai mampu menjembatani berbagai kebutuhan masyarakat secara lebih komprehensif.
Pandeglang dan Lebak Memiliki Potensi Pertanian Besar
Pilihan memperjuangkan bantuan alat pertanian bukan tanpa dasar.
Kabupaten Pandeglang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Provinsi Banten.
Produksi padi daerah tersebut terus menunjukkan kontribusi besar terhadap ketahanan pangan nasional.
Produktivitas sawah yang tinggi menjadikan kebutuhan terhadap alat dan mesin pertanian semakin penting untuk meningkatkan efisiensi produksi.
Sementara itu Kabupaten Lebak juga menjadi salah satu sentra produksi beras terbesar di Banten.
Ratusan ribu ton gabah berhasil diproduksi setiap tahun dari puluhan ribu hektare lahan pertanian yang dikelola masyarakat.
Dengan karakteristik tersebut, keberadaan bantuan alsintan seperti hand traktor dipandang mampu mempercepat proses pengolahan lahan, menekan biaya produksi, sekaligus meningkatkan hasil panen petani.
Pendidikan Tetap Menjadi Prioritas
Meski memperjuangkan sektor pertanian, Adde Rosi menegaskan bahwa pendidikan tetap menjadi perhatian utama.
Program-program beasiswa, peningkatan kualitas sekolah, hingga dukungan terhadap tenaga pendidik akan terus diperjuangkan melalui Komisi X DPR RI.
Baginya, pembangunan daerah tidak dapat dilakukan hanya melalui satu sektor. Kemajuan pertanian harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Karena itu, sinergi antara pendidikan dan sektor pertanian dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Disampaikan Melalui Instagram Pribadi
Melalui unggahan di Instagram pribadinya, Adde Rosi menegaskan bahwa aspirasi masyarakat tidak mengenal batas komisi.
Ia menyebut bahwa demi memperjuangkan kebutuhan warga Lebak dan Pandeglang, sinergi dan kolaborasi menjadi kunci utama.
Dalam unggahan tersebut, Adde Rosi juga menjelaskan bahwa dirinya bersama Alien Mus membangun kolaborasi bertajuk “Tukar Program”.
Kolaborasi itu diwujudkan melalui penyelarasan bantuan alat dan mesin pertanian dari sektor pertanian dengan program beasiswa dan penguatan pendidikan.
Menurutnya, inilah bentuk nyata kerja gotong royong di parlemen yang bertujuan memperluas cakupan bantuan agar semakin tepat sasaran serta memberikan dampak konkret bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Aspirasi masyarakat tidak mengenal sekat pembatas. Demi memperjuangkan kebutuhan warga di Lebak dan Pandeglang, sinergi dan kolaborasi adalah kunci utamanya. Alhamdulillah, melalui ruang panggung perjuangan ini, saya bersama rekan sejawat dari Fraksi Partai GOLKAR, Ibu @alienmus.official (Anggota Komisi IV DPR RI Dapil Maluku Utara), membangun kolaborasi taktis bertajuk “Tukar Program”. Karena mayoritas mata pencaharian warga di dapil kami adalah petani, kolaborasi ini diwujudkan dengan menyelaraskan program lintas komisi: jajaran program alsintan seperti bantuan hand traktor dari sektor pertanian (Komisi IV), dipadukan dengan beasiswa serta penguatan program pendidikan (Komisi X). Inilah esensi nyata dari kerja gotong royong di parlemen. Melalui sinergi ini, kita berharap cakupan bantuan semakin luas, tepat sasaran, dan memberikan dampak konkret bagi peningkatan kesejahteraan serta kualitas hidup masyarakat. Bersama rakyat, GOLKAR konsisten membawa solusi nyata! 🇮🇩✨ #AddeRosi #AlienMus #FraksiGolkar #DPRRI,” tulis Adde Rosi.
Komitmen Fraksi Golkar Menghadirkan Solusi
Kolaborasi antara Adde Rosi dan Alien Mus memperlihatkan bahwa koordinasi lintas komisi dapat menjadi salah satu model dalam mempercepat penyaluran manfaat program pemerintah kepada masyarakat.
Dengan mengedepankan kebutuhan riil daerah dibanding sekadar batas kewenangan komisi, kedua legislator Fraksi Partai Golkar tersebut berharap semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaat langsung dari berbagai program pembangunan.
Bagi Adde Rosi, keberhasilan seorang anggota DPR RI bukan hanya diukur dari banyaknya program yang dibawa ke daerah, tetapi juga dari kemampuan membangun jejaring, kolaborasi, dan solusi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.
Sementara itu, sinergi bersama Alien Mus menjadi contoh bahwa semangat gotong royong di parlemen dapat diterjemahkan ke dalam langkah konkret, sehingga sektor pendidikan dan pertanian dapat berjalan berdampingan untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat, khususnya di Kabupaten Lebak dan Kabupaten Pandeglang.
​”Alhamdulillah, saya punya banyak teman di sana, salah satunya Ibu Alien Mus yang kebetulan dapilnya dari Maluku Utara,” ujar Adde Rosi.
​Melalui komunikasi tersebut, kedua legislator ini sepakat untuk saling melakukan sinkronisasi program guna melengkapi kebutuhan di dapil masing-masing. Adde Rosi mengusulkan pertukaran alokasi program bantuan yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah.
​”Ibu Alien kan di sana tidak terlalu banyak petani, jadi saya bilang: ‘Bu Alien, tukar program yuk. Traktornya buat saya (dapil Pandeglang-Lebak), nanti saya kasih Bu Alien (alokasi) beasiswa’. Itulah yang namanya kolaborasi,” tuturnya di hadapan para warga.
​Mendorong Produktivitas Daerah Â
​Langkah taktis ini diambil bukan tanpa alasan. Berdasarkan data yang dihimpun, potensi pertanian di wilayah Banten tergolong sangat besar:
​Kabupaten Pandeglang: Target produksi padi mampu mencapai angka 817.026 ton. Merujuk data terbaru, hasil produksinya bahkan sempat menyentuh angka 997 ribu ton dengan tingkat produktivitas rata-rata berada di angka 6,25 ton per hektare untuk lahan sawah.
​Kabupaten Lebak: Produksi gabah kering pungut tercatat mencapai 725.813 ton pada tahun 2025. Hasil panen ini diperoleh dari luas panen seluas 88.819 hektare, di mana para petani mampu menghasilkan sekitar 380.000 ton beras untuk memenuhi kebutuhan pangan daerah.
​Melalui skema sinergi ini, berbagai program kerja diselaraskan sesuai dengan bidang tugas masing-masing komisi. Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan bantuan, memperkuat pemberdayaan masyarakat, serta menghadirkan program-program yang lebih tepat sasaran dan berdampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan rakyat secara luas.






