Sekarang, orang kembali lagi mengangkat pentingnya implementasi pasal 33 UUD. Padahal waktu sudah berlalu 82 tahun sejak gagasan pengelolaan ekonomi negara berbasis sosialisme dan kekeluargaan itu ditelurkan. Kemana saja selama puluhan tahun ini? Berulang lagi dengan isu yang sama dari era ke era, menunjukkan tidak ada fokus dan imlementasi atas suatu perencanaan yang akibatnya nol progres.
Kalau kita bercakap-cakap dengan orang Indonesia, nyaris satu kebiasaan umum bahwa percakapan itu ngalor-ngidul (mengalir kemana-mana tidak fokus, bias, mendua dan akhirnya tanpa suatu kesimpulan yang dapat ditindaklanjuti). Bahkan ketika percakapan berlangsung, tiba-tiba poin dan isu percakapan membelok dan melompat ke lain fokus pembicaraan, hingga akhirnya mengambang dan mengapung begitu saja saat percakapan itu ditutup.
Kedua fakta yang diungkap di atas, pertama terjadi pada skala negara, dan kedua pada skala masyarakat dan publik, menunjukkan bahwa secara kolektif bangsa ini (Indonesia), tidak memiliki kebiasaan berpikir dan bertindak fokus. Apakah keterampilan perencanaan tidak dimiliki? Justru skill perencanaan dimiliki dengan canggih dan lazim bahkan detail, seperti misalnya tradisi Musrenbang, APBN, hingga RAB, namun ketika melangkah maju pada tahap implementasi, nyaris jarang yang konsisten sesuai rencana, dan bahkan melenceng dan akhirnya proyek berjalan berdasarkan mood dan subjektivitas pihak yang memegang wewenang dan kendali atas proyek.
Lalu dimana persoalannya?
Menurut hemat saya, hal ini merupakan masalah yang terkait berbagai faktor, seperti faktor mental, moral, intelegensi hingga kebiasaan bangsa ini sendiri. Dan kesemua faktor itu terkait erat dengan sejarah penaklukan dan pemiskinan (kolonialisme dan feodalisme) masyarakat Indonesia. Silang kaitnya tak perlu diuraikan di sini, mengingat fokus tulisan ini dirancang buat mengetahui problematik kapasitas dan kompetensi intelegensi khas masyarakat Indonesia dan bagamana mengobatinya.
Tujuan tulisan ini memang untuk menyajikan self help atau menolong diri sendiri dengan suatu perangkat pengetahuan operasional agar orang dapat membuat kebiasaan baru yang memberinya kekuatan untuk berdaya. Secara khusus, kesadaran dari tulisan ini ialah ingin memutus gelang rantai penyebab internal mengapa orang menjadi lemah, miskin dan tidak berdaya, dikaitkan dengan model dan cara mereka berpikir dan melakukan aktivitas mental.
Kebiasaan Inkonsistensi dan Penyebab Biologis dan Psikologisnya
Sudah jamak menjadi pengetahuan, inkonsistensi mengakibatkan kekacauan, baik pada orang lain maupun pada diri sendiri. Seseorang yang tidak konsisten antara rencana dan implementasi atau kesenjangan antara pernyataan dan perbuatan, maka hanya akan merugikan dirinya sendiri dan lingkungan eksternalnya.
Dari sisi diri sendiri, mengakibatkan tidak berjalannya progres dan hilangnya apresiasi dari orang lain, dan dari sisi orang lain atau ekternal, akan menyulitkan orang untuk mengadaptasi respons tentang apa yang dikatakan atau yang dijanjikan. Walhasil tidak kondisi tidak menghasil apa-apa.
Beberapa faktor internal diri seseorang terjadinya kebiasaan tidak konsisten ini ialah kurangnya rencana yang sistematis, ekspektasi yang terlalu tinggi di awal, dan otak yang mudah terdistraksi oleh kepuasan instan.
Sejumlah penyebab utama masalah tiadanya progres atau inkonsistensi sebagai berikut:
1. Target Terlalu Ekstrem (Tidak Realistis): Memulai dengan target yang muluk-muluk dan drastis, hanya akan memicu kelelahan fisik dan mental. Akibatnya inkonsistensi pun terjadi.
2. Mengandalkan Motivasi Semata: Motivasi sifatnya sementara. Jika mood sedang turun, kebiasaan akan berhenti karena tidak dibangun menjadi sebuah sistem/jadwal rutin.
3. Kecanduan Kepuasan Instan: Rasa puas yang cepat dan instan hanya akan memicu kebosanan dan mood yang terkuras hingga keberlanjutan rencana menjadi terganggu. Untuk itu, penting menahan diri untuk tidak cepat-cepat puas sebelum rencana tuntas diimplementasikan.
4. Perfeksionisme: terlalu berpikir harus sempurna, dapat menimbulkan kebosanan yang berefek pada kelanjutan rencana. Contoh gaya berpikir perfeksionis ini misalnya, ketika membuat satu kesalahan kecil atau terlewat satu hal, sering muncul pemikiran “ya sudah gagal semua” sehingga akhirnya berhenti sepenuhnya.
5. Lingkungan yang Tidak Mendukung: Berada di circle sosial atau tempat yang tidak mendukung kebiasaan baru akan sangat mengganggu fokus dan disiplin. Untuk itu, penting meletakkan diri pada circle sosial yang sesuai dan menolong kemajuan. Circle yang merongrong dan mengacaukan, hanya akan berfungsi membajak rencana yang sudah ada.
Distraksi Otak (Keterpecahan Fokus Otak)
Pada umumnya orang-orang miskin dan hidup dalam kondisi yang tidak menguntungkan secara finansial, mengalami kelelahan mental akibat dirundung tekanan untuk bertahan hidup. Akibatnya otak mudah terdistraksi atau otak tidak fokus.
Otak yang terdistraksi terjadi akibat beban kognitif berlebih, kelelahan mental akibat istirahat dan tidur yang kurang berkualitas, stres, atau gangguan pada sistem atensi (perhatian) dan asupan gizi yang tidak mencukupi. Pada kehidupan orang miskin, tentu saja masalah beban kognitif, kelelahan mental, istirahat dan tidur yang kurang berkualitas, stres dan kurang gizi, merupakan inheren dalam hidup sehari-hari. Walhasil wajar, jika orang-orang miskin akan susah terlatih berpikir fokus dan konsisten.
Dalam kehidupan mutakhir dengan kehadiran peranan smartphone setiap saat dalam hidup, masalah tidak fokus ini juga timbul akibat dari hal tersebut. Seseorang yang terikat mental dengan smartphone, akan menghadapi kebiasaan scroll (pindah fokus secara cepat dan singkat) yang akibatnya otak bereaksi tidak fokus pada satu hal. Scroll memicu lonjakan dopamin yang membuat otak ketagihan untuk terus berpindah fokus.
Beberapa faktor inheren dalam pola kehidupan mutakhir yang menyebabkan berkurangnya kemampuan fokus dan konsisten pada seseorang adalah:
1. Ketergantungan Ponsel: Kebiasaan scroll dapat menimbulkan kerusakan kemampuan otak untuk fokus dan akhirnya juga merusak mentalitas konsisten. Demikian pun faktor notifikasi pada smartphone, dapat merangsang otak melepaskan dopamin (zat yang membuat suasana hati candu menggebu), menciptakan dorongan bawah sadar untuk segera mengecek layar.
2. Multitasking yang Berlebihan: Berpindah-pindah tugas (context switching) secara konstan membuat otak lelah dan menyebarkan energi mental, bukan memusatkannya.
3. Lingkungan yang Bising: Suara bising atau visual yang bergerak di sekitar Anda secara alami menarik perhatian naluriah otak. Akibatnya, keheningan sebagai kondisi terbaik untuk otak bekerja fokus, lenyap.
Bayangkan hal ini dalam situasi kehidupan orang miskin. Tentu merupakan hal lumrah dan inheren dalam ritme kehidupan mereka. Mereka hidup di kontrakan sempit, padat, berisik, udara yang kurang segar dan asupan gizi yang minim, serta suana yang jauh dari nyaman dan segar, ditambah dengan kesempatan pelatihan soft skills yang jarang dialami.
Sementara kodrat otak senantiasa mengalami adaptasi evolutif atau penyesuaian dengan keadaan lingkungan dan tantangannya (neuroplastisitas), maka niscaya orang miskin akan susah beranjak kepada kualitas hidup yang lebih baik. Dan kita tahu, salah satu faktor mencapai hidup lebih baik di hadapan persaingan hidup yang begitu ketat dan keras dalam mendapatkan sumber-sumber daya ekonomi dan sumber otoritas, memprasyaratkan kompetensi dan kapabilitas berpikir fokus dan bermental konsisten. Lalu bagaimana orang miskin dapat menjangkaunya? Tentu sulit bukan? Ini semacam penghalang kodrati yang tidak mudah untuk dijebol.
Sekarang mari kita lihat perbedaan kualitatif antara Otak yang Fokus dan Otak yang Terdistraksi.
Perbedaan Otak Fokus dan Tidak Fokus (Terdistraksi)
1. Otak yang Fokus, ditandai dengan:
Sifat Konsentrasi: mampu mengabakan rangsangan yang tidak relevan dan bekerja maksimal pada korteks prefrontal.
Kapasitas dan Ingatan: sangat efesien, informasi mudah diubah dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang.
Gelombang Otak: didominasi oleh gelombang gamma dan beta, menunjukkan tingkat kewaspadaan dan pemrosesan tinggi.
Hasil Kerja: penyelesaian tugas lebih cepat, minim kesalahan, dan kualitas kerja yang lebih presisi dan baik.
2. Otak yang Terdistraksi, ditandai dengan:
Sifat Konsentrasi: mudah beralih ke informasi baru, memori kerja cepat penuh, rentan terhadap multitasking yang melelahkan.
Kapasitas dan Ingatan: sering mengalami pengepulan otak (brain fog), sulit mengingat detail informasi dan pelupa. Brain fog (atau kabut otak) adalah suatu kondisi ketika pikiran terasa kacau, lambat, dan sulit untuk fokus atau berkonsentrasi.
Gelombang Otak: didominasi oleh gelombang alpha lambat (bengong), theta yang tidak teratur dan sering mengalami kelelahan mental.
Hasil Kerja: cenderung lambat menyelesaikan pekerjaan, rentan melakukan kekeliruan teknis, dan sering melakukan pengulangan pekerjaan.
Antara otak yang fokus dan tidak, terletak pada efisiensi jaringan saraf dan aktivitas gelombang otak. Otak yang fokus, menekan gangguan eksternal dan mengalokasikan energi untuk satu tugas, sementara otak yang tidak fokus memecah perhatian, memicu pemborosan energi, dan rentan terhadap distraksi.
Kondisi Saraf Otak pada Saat Fokus dan Tidak
Lebih jauh bagaimana perbedaan gejala yang tampak pada dua kondisi otak ini, yaitu:
sistem saraf orang yang fokus, didominasi oleh saraf simpatik ringan dan peningkatan aktivitas gelombang otak spesifik di area tertentu untuk memfokuskan memori dan pengabaian gangguan. Sebaliknya, otak orang yang tidak fokus, sistem saraf cenderung lebih rileks namun mudah menangkap rangsangan dari luar.
Berikut adalah perbedaan utama aktivitas saraf pada kedua kondisi tersebut:
A. Kondisi Saat Konsentrasi
1. Fokus Lobus Frontal: Bagian otak depan (prefrontal cortex) bekerja keras mengatur pengambilan keputusan, perhatian, dan memori kerja.
2. Penyaringan Sensorik: Saraf di otak mengaktifkan reticular activating system (RAS) untuk menyaring informasi yang tidak penting, sehingga kita tidak mudah terdistraksi oleh suara bising atau gerakan di sekitar.
3. Peningkatan Neurotransmiter: Otak memproduksi lebih banyak norepinefrin yang memicu ketajaman mental, serta asetilkolin untuk memperkuat fokus dan daya ingat.
4. Pemblokiran Stres: Sistem saraf otonom menjaga detak jantung dan pernapasan tetap stabil agar energi sepenuhnya dialokasikan untuk pemecahan masalah atau tugas yang sedang dikerjakan.
B. Kondisi Saat Tidak Konsentrasi (Rileks atau Melamun)
1. Dominasi DMN (Default Mode Network): Saat pikiran mengembara atau melamun, area otak DMN aktif, yang mengaitkan ingatan masa lalu dan rencana masa depan.
2. Peningkatan Sensitivitas Saraf Tepi: Saraf sensorik lebih terbuka menerima rangsangan dari lingkungan sekitar. Sinyal suara, bau, atau sentuhan ringan lebih mudah sampai ke otak.
3. Penurunan Kewaspadaan Mental: Produksi senyawa kimia pemicu fokus menurun drastis. Akibatnya, pemrosesan informasi lambat dan memori jangka pendek sulit dibentuk.
Kondisi Kimiawi Otak Saat Fokus dan Tidak
Pada orang yang berkonsentrasi, sistem saraf bekerja lebih aktif menggunakan dopamin (fokus dan motivasi), asetilkolin (memori dan pemecahan masalah), serta norepinefrin (kewaspadaan). Sebaliknya, pada orang yang tidak fokus (kurang konsentrasi), zat kimia otak tersebut sering didominasi oleh hormon stres kortisol atau senyawa pelemas GABA berlebih.
Berikut adalah rincian cara kerja zat pengantar pesan saraf (neurotransmiter) saat fokus dan tidak fokus:
A. Saat Sedang Konsentrasi (Fokus & Belajar)
Sistem saraf melepaskan zat kimiawi yang mendukung kognisi dan pemrosesan informasi:
1. Dopamin: zat kimiawi ini membantu mengontrol otak yang memberikan motivasi, rasa senang setelah menyelesaikan tugas, dan ketajaman fokus.
2. Asetilkolin: zat ini sangat penting untuk fungsi pembelajaran, mengingat instruksi, dan memelihara pemikiran jernih.
3. Norepinefrin: Meningkatkan kewaspadaan dan energi mental agar otak tidak mudah terdistraksi oleh lingkungan sekitar.
B. Saat Tidak Konsentrasi (Kurang Fokus / Stres)
Kondisi ini sering disebut sebagai brain fog (otak berkabut), di mana komunikasi antar sel saraf melambat karena faktor berikut:
1. Kortisol Tinggi: Hormon stres ini jika kadarnya melonjak akan mengganggu koneksi antar sel saraf, sehingga menyebabkan error, kelelahan mental, stres, dan sulit berpikir jernih.
2. Ketidakseimbangan Neurotransmiter: Kekurangan dopamin atau asetilkolin menyebabkan hilangnya motivasi, sedangkan serotonin yang terlalu rendah rentan memicu kecemasan dan suasana hati yang buruk.
Sekali lagi jika dihubungkan dengan kondisi hidup orang miskin, agaknya tidak berlebihan jika disimpulkan bahwa kondisi kinerja syaraf dan kimiawi otak mereka, tidak memungkinkan mereka dapat berpikir dan bekerja fokus. Akibatnya, dapat pula disimpulkan keberhasilan belajar dan keberhasilan usaha pada orang berkecukupan jauh lebih mungkin dan mulus ketimbang orang miskin.
Terapi Agar Otak Terbiasa Fokus
Mendapatkan kemampuan otak agar fokus secara konsisten membutuhkan latihan agar saraf otak (neuroplastisitas) semakin kuat menahan dorongan untuk berpindah ke titik perhatian lain.
Perlu diingat, dibutuhkan waktu antara 18 hingga 254 hari (rata-rata 66 hari) bagi otak untuk membiasakan diri dengan perilaku baru hingga menjadi otomatis. Proses ini, yang dikenal sebagai neuroplastisitas, bergantung pada konsistensi pengulangan, tingkat kesulitan kebiasaan, serta motivasi yang mendasari pembentukan kebiasaan tersebut. Dengan kata lain, dibutuhkan 2 bulan lebih guna mendapatkan kemampuan dan kebiasaan kinerja baru otak dan mental.
Untuk membentuk kebiasaan secara optimal, beberapa langkah ini terbukti efektif di otak:
1. Mulai dari yang kecil (10-20 menit): Luangkan waktu singkat setiap hari untuk melakukan aktivitas tertentu agar otak lebih cepat “pemanasan” dan terbiasa. Berdiam dengan konsentrasi pada titik fokus tertentu dalam keheningan yang berjalan hingga 10 menit, misalnya dilakonkan tiap hari selama 2 bulan lebih, dapat membentuk neuroplastisitas otak kepada tujuan yang diharapkan.
2. Jadwal dan rutinitas yang sama: Melakukan sesuatu di jam dan tempat yang sama setiap hari akan membantu otak secara otomatis bersiap sebelum aktivitas tersebut dimulai.
3. Membagi sesi (Pomodoro): Gunakan teknik fokus intens selama 25-30 menit diselingi istirahat pendek. Ini menjaga otak tetap segar dan mencegah stres mental.
Teknik pomodoro pertama kali dikembangkan oleh Francesco Cirillo pada tahun 1980. Teknik ini menjadi solusi bagi mereka yang sering merasa sulit konsentrasi atau cenderung menunda pekerjaan. Istilah “pomodoro” sendiri berasal dari bahasa Italia yang berarti “tomat”, terinspirasi dari bentuk timer dapur yang digunakan Cirillo saat itu.
Teknik pomodoro pada dasarnya merupakan teknik membagi waktu kerja ke dalam interval-interval tertentu secara konsisten, sehingga otak dapat tetap berkonsentrasi tanpa mudah lelah. Misalnya, Anda dapat membagi konsentrasi kerja secara bertahap dalam durasi waktu setengah jam yang telah ditentukan per beban kerja.
4. Kualitas tidur: Otak memerlukan tidur 7-8 jam per malam untuk mengkonsolidasikan, konfigurasi dan defrag memori dan membuat kebiasaan menjadi permanen.
5. Perbanyak minum air putih dan Buah: Otak bekerja memerlukan air mineral, udara yang cukup dan nutrisi.
6. Olah raga yang cukup hingga berkeringat: Badan yang bugar membantu otak bekerja lebih siap dan efektif. Untuk itu diperlukan menjaga kesehatan dan kebugaran badan dengan olah raga yang teratur.
Jalan kaki singkat atau olahraga ringan misalnya, dapat meningkatkan sirkulasi darah dan oksigen ke otak. Hal ini meningkatkan kewaspadaan secara instan.
• Bahkan berjalan kaki selama 20 menit dapat meningkatkan konsentrasi.
• Yoga dan peregangan dapat merilekskan sistem saraf dan mengurangi stres.
Guru yang terdidik, menyarankan siswanya untuk berjalan-jalan selama istirahat belajar daripada bermain ponsel. Para siswa yang mengamalkan saran tersebut, melaporkan bahwa mereka kembali dengan perasaan lebih segar dan mampu belajar lebih lama.
Kesimpulan: Fokus adalah Kebiasaan, bukan Bakat
Meningkatkan fokus bukan hanya soal kemauan keras. Ini tentang menciptakan lingkungan, kebiasaan, dan pola pikir yang tepat. Nasib kita ditentukan oleh kesadaran, lingkungan, kebiasaan, kemampuan berpikir, mentalitas dan pola pikir yang sebetulnya dapat kita bangun, ganti dan tentukan sendiri. Dan orang miskin yang kehilangan daya pun dapat mengubah hidupnya dengan mengubah cara dan kondisi hidupnya.
Inilah makna firman Allah dalam Alquran, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang berlaku pada kaum itu sampai mereka sendiri mengubah apa yang berlaku pada diri mereka
Oleh: Syahrul E Dasopang, Penulis Buku Penuntun Jalan Kaum Miskin






