Sumitra Menggema di Tridayasakti, Dari Pelayanan Publik Menuju Kepemimpinan Desa yang Visioner

BEKASI — Di tengah denyut demokrasi desa yang kian menguat, tahapan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di Kabupaten Bekasi memasuki fase paling menentukan. Tridayasakti, desa urban dengan ritme kehidupan yang padat dan dinamis, kini menjadi panggung pertarungan gagasan dan integritas. Di antara nama-nama yang mengemuka, Sumitra, S.E., tampil sebagai figur yang tidak hanya membawa rekam jejak, tetapi juga arah perubahan yang mulai diperbincangkan luas oleh masyarakat.

Dengan luas wilayah ±3,25 km² dan jumlah penduduk lebih dari 34 ribu jiwa, Tridayasakti bukan lagi desa dalam pengertian klasik. Ia telah bertransformasi menjadi ruang urban yang kompleks di mana sektor perdagangan, jasa, dan UMKM menjadi tulang punggung ekonomi. Namun di balik geliat itu, tersimpan tantangan laten yakni ketimpangan ekonomi, pengangguran terselubung, serta stagnasi sebagian pelaku usaha kecil yang belum mampu menembus skala lebih besar.

Dalam konteks inilah, Pilkades bukan sekadar kontestasi elektoral enam tahunan (bahkan lebih-red), melainkan momentum strategis untuk menentukan arah masa depan desa. Berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, kepemimpinan desa memikul tanggung jawab konstitusional untuk menghadirkan tata kelola yang transparan, akuntabel, serta berpihak pada kesejahteraan rakyat.

Sumitra bukan sosok yang lahir dari ruang kosong. Ia ditempa oleh pengalaman panjang di berbagai lini mulai dari Staf Pelaksana Kecamatan Tambun Selatan sejak 2006, Ketua PPA, pengurus MUI dan DMI, hingga pernah menjabat sebagai anggota BPD Tridayasakti. Jejaknya juga merambah sektor pendidikan dan kewirausahaan, menjadikannya figur yang memahami denyut birokrasi sekaligus realitas ekonomi masyarakat.

Mengusung visi “Profesional dalam Pelayanan menuju Pembangunan yang Berkesinambungan,” Sumitra menghadirkan pendekatan kepemimpinan yang menekankan integritas pelayanan publik, penguatan ekonomi lokal, serta pembangunan berbasis partisipasi warga. Gagasan ini bukan sekadar jargon, melainkan refleksi dari kebutuhan riil masyarakat desa yang menuntut kecepatan layanan, kejelasan anggaran, dan keberpihakan kebijakan.

Dalam pernyataan resminya, Sumitra, S.E., menegaskan, “Motivasi saya maju bukan sekadar untuk memimpin, tetapi untuk mengabdi secara lebih luas dan terstruktur. Desa Tridayasakti memiliki potensi luar biasa, baik dari sisi sumber daya manusia, ekonomi rakyat, maupun posisi strategisnya di kawasan industri. Namun potensi itu tidak akan optimal tanpa tata kelola yang baik,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Ia melanjutkan dengan penekanan pada transparansi dan akuntabilitas anggaran, “Kunci perubahan terletak pada pelayanan yang cepat, anggaran yang transparan, serta pembangunan yang melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pengawasan. Saya ingin memastikan setiap rupiah anggaran desa benar-benar kembali kepada masyarakat dalam bentuk kesejahteraan nyata,” imbuh Sumitra.

Lebih jauh, Sumitra menggarisbawahi pentingnya budaya pemerintahan yang inklusif, “Pemerintah desa harus menjadi rumah bersama, tempat aspirasi didengar, kritik diterima, dan solusi dibangun secara kolektif. Transparansi bukan pilihan, melainkan kewajiban. Ke depan, kami akan mendorong digitalisasi UMKM, memperkuat BUMDes, membuka pelatihan keterampilan bagi generasi muda, serta membangun ekosistem ekonomi kreatif berbasis lokal.”

Di ujung pernyataannya, ia menegaskan visi jangka panjang yang sarat nilai, “Saya percaya, dengan gotong royong dan niat yang tulus, Tridayasakti dapat menjadi desa percontohan yang maju secara fisik, kuat secara sosial, dan berdaya secara ekonomi tanpa meninggalkan nilai agama dan budaya.” Pungkas Sumitra, S.E.,

Kini, Tridayasakti berdiri di persimpangan sejarahnya sendiri (antara stagnasi dan transformasi, antara rutinitas lama dan lompatan baru). Dalam lanskap itu, kehadiran Sumitra bukan sekadar kandidat, melainkan representasi dari harapan yang ingin ditata ulang. Apakah ia akan menjadi jawaban atas kebutuhan zaman? Rakyatlah yang akan menulis takdirnya melalui pilihan yang sadar dan bermartabat.
(CP/red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *