JAKARTA — Di tengah riuh politik dan dinamika kebijakan publik Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin menghadirkan sejenak keheningan yang menyentuh nurani.
Lewat sebuah puisi berjudul “Ibu” sangat puitis yang dikutip dari akun Instagram pribadinya, ia menuliskan sesuatu yang sederhana, namun menggugah hingga ke relung terdalam: tentang cinta seorang ibu.
Puisi itu tidak panjang, tetapi mengandung kedalaman makna yang seolah merangkum seluruh perjalanan hidup seorang anak bersama ibunya:
“HATI IBUMU, TIDAK AKAN PERNAH KAMU TEMUI PADA MANUSIA MANAPUN..
IA MEMAHAMI TANPA BANYAK TANYA.
MENGALAH TANPA MERASA KALAH.
MEMBERI TANPA BERHARAP KEMBALI.
MESKI LELAH, IA TETAP TERSENYUM.
MESKI TERLUKA, IA TETAP MEMAAFKAN.
CINTANYA SUNYI, TAPI PALING DALAM.
DAN TAK AKAN TERGANTI OLEH SIAPA PUN.”
Bahasa Sunyi, Makna yang Menggema
Pendekatan sastra dalam puisi ini terasa kuat melalui pilihan diksi yang sederhana namun simbolik. Kata-kata seperti “sunyi”, “memberi tanpa berharap kembali”, hingga “mengalah tanpa merasa kalah” bukan sekadar rangkaian kalimat, melainkan refleksi filosofis tentang hakikat cinta ibu—cinta yang tidak bersyarat, tidak menuntut, dan tidak pernah selesai.
Mukhtarudin tidak menempatkan ibu sebagai sosok yang megah dalam retorika tinggi, melainkan sebagai pusat keheningan yang justru paling lantang berbicara. Ia menghadirkan ibu sebagai ruang pulang, tempat segala luka kehilangan makna.
Cinta yang Menjadi Fondasi Kesuksesan
Puisi ini juga membuka tafsir lebih luas: bahwa di balik setiap keberhasilan seseorang, selalu ada doa dan pengorbanan orang tua, terutama ibu, yang sering kali tak terlihat.
Dalam perspektif “Bela Rakyat”, pesan ini menjadi penting. Sebab kesuksesan bukan hanya hasil kerja keras individu, tetapi juga buah dari nilai, didikan, dan ketulusan yang ditanamkan sejak dini oleh seorang ibu.
Seorang ibu, dalam diamnya, membangun karakter. Dalam lelahnya, ia menanam harapan. Dan dalam lukanya, ia tetap memilih memaafkan agar anaknya bisa melangkah tanpa beban.
Mukhtarudin dan Jejak Cinta yang Personal
Puisi “Ibu” juga dapat dibaca sebagai ekspresi personal Mukhtarudin terhadap sosok ibu dalam hidupnya. Ada kehangatan yang tidak dibuat-buat, seolah setiap larik adalah potongan kenangan, doa, dan rasa rindu yang tak selalu terucap.
Ia tidak sekadar menulis tentang ibu sebagai konsep, tetapi sebagai pengalaman batin yang hidup, yang membentuk siapa dirinya hari ini.
Ibu: Cinta yang Tak Tergantikan
Dalam dunia yang sering mengukur segalanya dengan capaian materi, puisi ini mengingatkan bahwa ada cinta yang tidak bisa ditakar: cinta ibu. Ia tidak mencari pengakuan, tidak menuntut balasan, tetapi justru menjadi alasan mengapa seseorang mampu berdiri tegak menghadapi dunia.
Puisi Mukhtarudin menjadi semacam jeda—mengajak publik untuk kembali mengingat: bahwa setinggi apa pun langkah seseorang, akarnya tetap pada doa seorang ibu.
Dan benar, seperti yang ia tuliskan, cinta itu sunyi, tetapi paling dalam.






