Saya baru pahami kemarahan Ustadz Muzakkir Arif. Selama ini semua tuduhan tersebut tidak pernah sampai ke saya.
Saya mau pastikan bahwa semua tuduhan tersebut tidak ada satu yang benar. Misalnya dia menyebut ada sawah yang saya ambil. Itu pasti tidak benar. Saya pastikan tidak ada sesuatu pun yang saya ambil.
Saya tahu ini murni pertengkaran antara mereka bersaudara. Saya betul-betul tidak tahu kalau bantuan yang saya berikan selama ini dimaknai demikian negatif. Dianggap di balik itu semua ada tujuan-tujuan yang sangat merugikan pesantren.
Mestinya dia bertanya kepada diri mereka sendiri dan kepada adik-adiknya; Muthahhir Musaddik, Muzayyin, Mujawwid, yang perempuan dan suaminya (saya lupa namanya), Muallim sendiri.
Mungkin satu-satunya laki-laki yang saya tidak pernah berinteraksi hanya Mufassir saja. Ada yang di Manado juga saya pernah bertemu.
Tolong sampaikan ke Ustadz Muzakkir ini murni antara dia dengan saudara-saudaranya sendiri. Bahkan setelah saya mendengar adanya perseteruan ini sempat Muzayyin membawa saudara-saudaranya yang lain menemui saya di rumah minta masukan.
Saya sampaikan akhi Muzayyin ‘Antum sudah cukup sibuk sebagai Wakil Ketua DPRD Sulsel, saya berharap antum tidak melayani memeneruskan sengketa apalagi sampai ke pengadilan. Kalian menang tetap juga tidak ada untungnya. Kalian jaga persaudaraan. Apa yang mereka tuntut serahkan saja. InsyaAllah kamu bisa mendapatkan yang lain yang lebih baik. Mungkin kelemahan saya selama ini karena terakhir memang saya tidak pernah bertemu langsung dengan Ustadz Muzakkir.’
Tapi silakan ditelusuri dengan sangat mendalam tentang apa yang telah saya lakukan dan dianggap merugikan kecuali tuduhan bahwa saya telah mencabit cabit persaudaraan mereka. Tentu ini sangat subyektif. Tapi kalau yang dikatakan bahwa semua yang dilakukan Muzayyin adalah di bawah telunjuk saya, tentu ini sangat naif.
Silakan tanyakan sendiri pada Beliau. Kalau dia ribut dengan adik2nya itu urusan dia sendiri. Kalau Ustadz Muzakkir mau klarifikasi dan bertemu bersama, saya siap untuk itu. Sebagian ada yang berpendapat bahwa ini adalah masalah Salafi dan Ikhwani.
Itupun saya tidak ikut-ikutan. Saya tidak berada di dalam ranah perselisihan tersebut. Saya lebih konsen untuk ditunjukkan dari sisi material apa yang saya telah rugikan bagi pesantren Darul istiqamah. Seperti ada disebutkan tadi soal sawah 5 hektar. 5 hektar atau berapapun dan apapun itu saya pastikan bahwa saya bersih dari tuduhan tersebut. Silakan buktikan. Terimakasih.
Disampaikan Tamsil Linrung ke wartawan www.belarakyat.com






