Demer Usulkan Rem Pendirian Kampus di Bali Selatan, Arahkan Investasi Pendidikan ke Daerah Tertinggal

Gde Sumarjaya Linggih (Demer)

BALI – Anggota DPR RI Fraksi Golkar Gde Sumarjaya Linggih (Demer) melontarkan gagasan berbeda dalam pemerataan pembangunan pendidikan di Bali. Ia mengusulkan “rem sementara” atau moratorium pendirian kampus baru di Bali Selatan, sembari mengalihkan fokus pembangunan ke wilayah yang selama ini kurang tersentuh.

Menurut Demer, ketimpangan distribusi perguruan tinggi di Bali sudah berada pada titik yang perlu dikoreksi melalui kebijakan tegas. Ia menilai penumpukan kampus di Denpasar dan Badung tidak hanya menciptakan ketidakseimbangan akses pendidikan, tetapi juga memicu persoalan turunan seperti kepadatan penduduk dan tekanan tata ruang.

Bacaan Lainnya

“Kalau semua kampus terus dibangun di selatan, maka kesenjangan tidak akan pernah selesai. Kita harus berani mengubah arah,” unggah Demer seperti dikutip dari media sosial miliknya, Senin (30/3/2026).

Data menunjukkan dominasi wilayah selatan cukup mencolok. Denpasar menampung lebih dari 30 perguruan tinggi, disusul Badung dengan sekitar 15 kampus. Sementara itu, Karangasem dan Jembrana masih minim fasilitas pendidikan tinggi, masing-masing memiliki kurang dari lima perguruan tinggi.

Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas pendidikan masyarakat. Rata-rata lama sekolah di Denpasar dan Badung sudah melampaui 11 tahun, sedangkan Karangasem masih berada di angka 6,98 tahun dan Jembrana 8,71 tahun.

Demer menilai, ketimpangan tersebut tidak bisa dibiarkan karena berpengaruh pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan peluang ekonomi masyarakat. Ia menekankan bahwa pembangunan kampus sejatinya tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga penggerak ekonomi baru.

“Setiap kampus itu menciptakan ekosistem. Ada kos-kosan, UMKM, transportasi, sampai infrastruktur. Itu yang harus kita dorong ke daerah,” jelasnya.

Sebagai contoh, ia mengingatkan dampak relokasi kampus Universitas Udayana ke Jimbaran beberapa dekade lalu. Kawasan tersebut yang dulunya relatif sepi kini berkembang menjadi pusat ekonomi baru di Bali Selatan.

Dari pengalaman itu, Demer optimistis wilayah timur dan barat Bali juga memiliki peluang serupa. Ia secara khusus menyebut Karangasem sebagai daerah dengan potensi besar untuk tumbuh lebih cepat jika didukung kehadiran institusi pendidikan tinggi.

“Karangasem punya ruang dan potensi. Tinggal bagaimana kita hadirkan pusat pendidikan sebagai pemicunya,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah pusat maupun daerah dapat mempertimbangkan kebijakan ini sebagai bagian dari strategi besar pemerataan pembangunan di Bali, agar pertumbuhan tidak hanya terpusat di satu kawasan, melainkan dirasakan secara adil di seluruh wilayah Pulau Dewata.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *