JAKARTA — Anggota DPR RI dari Kalimantan Barat, Cornelis, menegaskan pentingnya melihat persoalan kemanusiaan di balik dinamika geopolitik dunia yang saat ini semakin memanas. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Rapat Paripurna DPR RI pembukaan Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2025–2026 di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Rapat paripurna tersebut dipimpin oleh Ketua DPR RI, Puan Maharani, yang membuka kembali masa sidang setelah anggota dewan menjalani masa reses sejak Februari lalu.
Dalam kesempatan itu, Cornelis mengingatkan bahwa di tengah rivalitas kekuatan besar dunia, ada dampak nyata yang dirasakan masyarakat sipil. Menurutnya, setiap konflik internasional pada akhirnya selalu menyisakan penderitaan manusia.
“Dalam melihat eskalasi geopolitik yang terjadi sekarang, kita harus melihat masalah manusianya. Di balik persaingan kekuatan global, ada masyarakat yang menjadi korban,” ujar Cornelis di Kompleks Parlemen.
Pernyataan tersebut disampaikan Cornelis saat menyoroti meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ia menilai situasi tersebut berpotensi memperburuk stabilitas global sekaligus memicu dampak ekonomi yang luas.
Dalam rapat yang sama, DPR RI juga menyampaikan simpati atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan duka cita kepada masyarakat Iran sekaligus menyerukan pentingnya penghentian eskalasi konflik.
“Atas nama rakyat Indonesia, kami menyampaikan simpati yang mendalam kepada masyarakat Iran atas wafatnya Pimpinan Agung Iran, Ali Khamenei. Indonesia juga mendorong semua pihak untuk segera menghentikan eskalasi militer dan menempuh jalur diplomasi demi terciptanya perdamaian,” kata Puan dalam pidatonya.
Cornelis menilai pendekatan kemanusiaan harus menjadi landasan dalam memandang konflik internasional. Menurutnya, ketegangan geopolitik bukan sekadar soal persaingan kekuatan negara, melainkan juga ancaman langsung bagi kesejahteraan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Ia menambahkan, konflik global seringkali berdampak pada stabilitas ekonomi dunia, seperti kenaikan harga energi dan tekanan terhadap nilai tukar mata uang. Dampak tersebut pada akhirnya dirasakan langsung oleh masyarakat melalui meningkatnya biaya hidup.
“Ketika konflik memanas, dampaknya bisa terasa pada kenaikan harga minyak, biaya transportasi, hingga harga kebutuhan pokok. Itu yang akhirnya membebani masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, Cornelis menilai langkah pemerintah untuk memperkuat kemandirian energi nasional menjadi sangat penting. Ia menyatakan bahwa swasembada energi merupakan salah satu strategi untuk melindungi perekonomian nasional dari gejolak global.
Cornelis menerangkann, Indonesia harus memperkuat ketahanan nasional di berbagai sektor agar tidak terlalu bergantung pada dinamika geopolitik internasional.
Kehadiran Cornelis dalam rapat paripurna tersebut juga menandai dimulainya kembali agenda legislasi DPR RI setelah masa reses. Ia berharap seluruh kebijakan yang dibahas dalam masa sidang kali ini tetap berorientasi pada kepentingan rakyat.
“Pada akhirnya setiap keputusan politik harus berpihak pada manusia, pada kesejahteraan rakyat. Itu yang harus menjadi pegangan dalam menjalankan tugas di parlemen,” pungkasnya.






