I Nyoman Parta Ceritakan Perjuangan Pelestari Tari Bali di Kendran, Budaya Harus Tetap Menjadi Identitas Bali
BALI – Anggota DPR RI Dapil Bali I Nyoman Parta membagikan kisah inspiratif mengenai semangat pelestarian seni dan budaya Bali melalui akun Instagram pribadinya. Dalam unggahannya, ia mengangkat cerita tentang Banjar Kendran, Desa Kendran, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, sebagai sebuah ruang yang terus menjaga denyut kebudayaan Bali melalui generasi mudanya.
Mengawali unggahannya dengan kalimat penuh makna, “Kemanapun langkah kita semoga Kendran selalu menjadi alasan untuk pulang,” tulis Parta mengajak masyarakat melihat bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas yang harus terus dirawat bersama.
Seni, Budaya, dan Pariwisata Tidak Bisa Dipisahkan
Dalam narasinya, Parta menyoroti bagaimana keadilan dan kesetaraan selalu menjadi bagian penting dalam dunia seni budaya Bali. Menurutnya, seni Bali telah lama menjadi fondasi utama berkembangnya pariwisata budaya di Pulau Dewata.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pembicaraan mengenai seni budaya sering kali hanya berhenti di ruang-ruang diskusi, tanpa benar-benar mendengar suara para pelaku budaya yang bekerja langsung di lapangan.
Perspektif inilah yang kemudian diangkat oleh Widya Kendran, mahasiswi Visual Arts di Ringling College of Art and Design, Florida, Amerika Serikat, melalui karya fotografi yang mendokumentasikan kehidupan masyarakat di kampung halamannya.
Mengangkat Kisah Perempuan Penjaga Tradisi
Widya memilih mendokumentasikan aktivitas Ni Wayan Ayu Agustini atau Ayu, seorang perempuan yang sejak 2015 mendirikan Sekaa Tari Cening Ayu.
Sanggar tari tersebut dibangun untuk membangkitkan kembali semangat anak-anak di Banjar Kendran agar mencintai Tari Bali sejak usia dini. Sekaa Tari Cening Ayu terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar menari sekaligus ikut ngayah dalam berbagai upacara keagamaan di Pura Tri Kahyangan maupun Pura Griya Sakti Manuaba.
Bagi Ayu, mengajar tari bukan sekadar aktivitas mengisi waktu. Kecintaannya pada seni yang telah tumbuh sejak remaja membuatnya tetap setia menjadi pelatih, meski pekerjaan itu tidak selalu memberikan keuntungan secara materi.
“Tuyuh Den Maan”
Parta juga mengangkat temuan tim riset “Kisah Kasih” yang mencatat ungkapan masyarakat Kendran, “tuyuh den maan”, yang berarti “yang didapat hanya capeknya saja.”
Ungkapan tersebut menggambarkan realitas para pelaku seni tradisi yang sering kali bekerja dengan penuh pengabdian tanpa imbalan yang sepadan.
Namun bagi Ayu dan para pelestari budaya lainnya, menjaga Tari Bali bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa untuk memastikan tradisi tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Di era ketika hampir semua aktivitas diukur dengan nilai ekonomi, perjuangan mereka menjadi simbol kepahlawanan masyarakat desa dalam menjaga identitas Bali.
Apresiasi untuk Widya Kendran
Dalam unggahan tersebut, I Nyoman Parta juga menyampaikan apresiasinya kepada Widya Kendran yang telah mengangkat kisah tersebut melalui sebuah pameran fotografi di Kulidan Kitchen and Space.
Menurutnya, karya fotografi tidak hanya menjadi media seni, tetapi juga menjadi dokumentasi penting yang merekam perjuangan masyarakat dalam mempertahankan budaya Bali agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Ia berharap kisah-kisah seperti ini semakin banyak diketahui masyarakat sehingga tumbuh kesadaran bersama untuk menghargai para pelaku seni tradisi yang selama ini bekerja dengan penuh ketulusan.
Budaya Adalah Rumah Bersama
Bagi Parta, Kendran bukan sekadar sebuah desa, melainkan simbol bahwa budaya hanya akan tetap hidup apabila masyarakatnya terus menjaga semangat ngayah, gotong royong, dan kecintaan terhadap tradisi.
Melalui unggahan tersebut, ia mengajak masyarakat Bali untuk terus mendukung para pelaku seni, guru tari, serta komunitas budaya yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menjaga warisan leluhur.
“Terima kasih Widya telah menjadikan kisah ini dalam bentuk pameran foto,” tulis Parta, seraya menegaskan bahwa kisah Ayu dan para perempuan desa adalah cerita tentang dedikasi, pengabdian, dan cinta kepada budaya Bali yang tidak boleh pernah padam.






