Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin
Ada bangsa yang dibangun oleh kesamaan suku. Ada negara yang berdiri karena kesamaan ras. Ada pula masyarakat yang disatukan oleh bahasa yang tunggal. Namun Indonesia memilih jalan yang berbeda. Negeri ini lahir dari keberanian untuk hidup bersama di tengah perbedaan. Indonesia tidak dibangun di atas keseragaman, melainkan di atas kesediaan untuk saling menerima. Di sinilah Pancasila menemukan maknanya yang paling dalam.
Karena itu, Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni sesungguhnya bukan sekadar peringatan sejarah. Ia adalah momentum untuk bertanya kepada diri sendiri, masihkah kita menjaga nilai-nilai yang dahulu menyatukan para pendiri bangsa?. Masihkah kita memelihara semangat persaudaraan yang membuat Indonesia tetap berdiri kokoh hingga hari ini?
Pada tanggal 1 Juni 1945, di tengah pergulatan panjang menuju kemerdekaan, Ir. Soekarno menyampaikan gagasan yang kemudian menjadi fondasi kehidupan berbangsa. Namun sesungguhnya Pancasila bukan hanya lima kalimat yang dihafal dalam upacara. Pancasila adalah kesepakatan moral. Ia adalah perjanjian kebangsaan. Ia adalah rumah besar tempat seluruh anak bangsa dapat hidup bersama tanpa kehilangan identitasnya.
Pancasila mengajarkan bahwa manusia tidak cukup hanya cerdas, tetapi harus bermoral. Tidak cukup hanya kuat, tetapi juga harus adil. Tidak cukup hanya religius, tetapi juga harus menghormati kemanusiaan. Sebab bangsa yang kehilangan moral akan runtuh oleh keserakahannya sendiri, dan bangsa yang kehilangan kemanusiaan akan hancur oleh kebenciannya sendiri.
Nilai pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengingatkan bahwa pembangunan sebesar apa pun akan kehilangan makna apabila manusia kehilangan hubungan dengan Tuhannya. Kemajuan teknologi tidak akan mampu menggantikan ketenangan hati. Kecanggihan kecerdasan buatan tidak akan mampu menggantikan suara hati nurani.Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 21)
Ayat ini mengajarkan bahwa fondasi kehidupan yang kokoh adalah ketakwaan. Ketika manusia mengenal Tuhannya, ia akan lebih mudah menghormati sesamanya.
Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengingatkan bahwa kemajuan bangsa tidak boleh dibangun di atas penderitaan manusia lain. Di tengah dunia digital yang sering dipenuhi ujaran kebencian, perundungan, dan fitnah, nilai kemanusiaan menjadi semakin penting. Allah berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”
(QS. Al-Isra’: 70)
Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh sukunya, warna kulitnya, jabatannya, atau kekayaannya, tetapi oleh martabat kemanusiaannya.
Sila ketiga, Persatuan Indonesia, adalah keajaiban terbesar bangsa ini. Tidak banyak negara yang mampu mempersatukan ribuan pulau, ratusan suku, bahasa, dan budaya dalam satu identitas kebangsaan. Namun persatuan bukanlah sesuatu yang diwariskan begitu saja. Persatuan harus dirawat setiap hari. Allah Swt. berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)
Persatuan tidak lahir dari kesamaan pendapat, tetapi dari kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.
Sila keempat mengajarkan musyawarah. Di era media sosial, banyak orang ingin menang sendiri. Perbedaan pandangan sering berubah menjadi permusuhan. Padahal kebijaksanaan lahir dari kemampuan mendengar sebelum berbicara. Allah berfirman:
وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ
“Sedangkan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.”(QS. Asy-Syura: 38)
Musyawarah bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kematangan berpikir.
Sementara sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, mengingatkan bahwa tujuan akhir pembangunan bukanlah pertumbuhan angka statistik semata, melainkan hadirnya kesejahteraan yang dapat dirasakan seluruh rakyat.Rasulullah SAW. bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”(HR. Ahmad)
Kemajuan yang sejati adalah ketika ilmu, kekuasaan, dan kekayaan mampu menghadirkan manfaat bagi banyak orang. Para ulama juga mengingatkan bahwa keberlangsungan suatu bangsa sangat bergantung pada tegaknya keadilan. Di antara perkataan yang masyhur dinukil dari para ulama adalah:
إِنَّ اللَّهَ يُقِيمُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً، وَلَا يُقِيمُ الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُسْلِمَةً
“Sesungguhnya Allah menegakkan negara yang adil meskipun dipimpin orang kafir, dan tidak menegakkan negara yang zalim meskipun dipimpin orang Muslim.”
Perkataan ini mengandung pesan mendalam bahwa keadilan merupakan fondasi utama tegaknya sebuah peradaban.
Hari ini, 81 tahun setelah lahirnya Pancasila, tantangan bangsa bukan lagi penjajahan fisik. Tantangan kita adalah perpecahan, intoleransi, korupsi, individualisme, penyalahgunaan teknologi, serta lunturnya adab dalam kehidupan sosial. Musuh terbesar bangsa ini mungkin bukan lagi bangsa lain, tetapi egoisme yang tumbuh di dalam diri kita sendiri.
Karena itu, memperingati Hari Lahir Pancasila tidak cukup hanya dengan mengibarkan bendera atau menghafalkan lima sila. Yang lebih penting adalah menghadirkan Pancasila dalam tindakan sehari-hari; menghormati perbedaan, menjaga persaudaraan, berlaku adil, mencintai tanah air, serta menjadikan agama sebagai sumber moralitas dalam kehidupan.
Pada akhirnya, Pancasila bukan sekadar dokumen sejarah. Ia adalah cermin yang setiap hari bertanya kepada kita, apakah kita masih setia pada cita-cita para pendiri bangsa?. Apakah kita masih menjaga persatuan di tengah perbedaan?. Apakah kita masih memelihara keadilan di tengah kepentingan?
Jika jawabannya “ya”, maka Pancasila tidak hanya hidup dalam teks dan pidato, tetapi hidup dalam perilaku dan karakter bangsa. Dan selama nilai-nilai itu tetap hidup di hati rakyat Indonesia, selama itu pula Indonesia akan tetap tegak berdiri sebagai negeri yang damai, bermartabat, dan diberkahi Tuhan Yang Maha Esa.
Dirgahayu Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026. Pancasila bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi cahaya yang menerangi jalan Indonesia menuju masa depan.
#Wallahu A’lam Bishawab






