Netty Prasetiyani: Pembangunan Inklusif Harus Pastikan Kelompok Rentan Tak Tertinggal

CIREBON – BELA RAKYAT – Ketua DPP PKS Bidang Pembinaan Masyarakat Rentan dan Disabilitas, Netty Prasetiyani menegaskan bahwa pembangunan inklusif harus dimulai dari perubahan paradigma dalam memandang kelompok rentan dan penyandang disabilitas. Pesan tersebut disampaikan Netty saat memberikan pembekalan dalam kegiatan Training of Trainers (TOT) Relawan Sahabat Inklusi di Kota Cirebon, Sabtu (17/10/2026).

Menurut Netty, pembangunan tidak dapat disebut berhasil apabila masih ada kelompok masyarakat yang menghadapi hambatan untuk mengakses pendidikan, layanan kesehatan, pekerjaan, perlindungan, maupun ruang partisipasi publik.

Bacaan Lainnya

“Cara pandang kita harus berubah. Kelompok rentan dan penyandang disabilitas tidak boleh hanya ditempatkan sebagai objek yang menerima bantuan. Mereka adalah subjek pembangunan yang harus didengar, dilibatkan, dan dipastikan hak-haknya terpenuhi,” tegas Netty.

Ia menjelaskan, perubahan paradigma tersebut menuntut pergeseran pendekatan dari charity-based atau berbasis belas kasihan menuju rights-based atau berbasis pemenuhan hak.

Pendekatan pertama cenderung menempatkan kelompok rentan sebagai penerima bantuan, sedangkan pendekatan berbasis hak menekankan kesetaraan, penghormatan terhadap martabat manusia, partisipasi, serta tanggung jawab negara dalam menjamin hak setiap warga.

“Dengan pendekatan ini, kepedulian tidak cukup diwujudkan melalui pemberian bantuan sesaat. Kepedulian harus diterjemahkan menjadi upaya menghilangkan hambatan, memperluas akses, memperkuat pelindungan, dan membuka ruang bagi mereka,” katanya.

Dalam pembinaan masyarakat rentan dan disabilitas, Netty menyoroti empat kelompok yang memerlukan perhatian, yakni lansia, perempuan, anak, dan penyandang disabilitas.

“Yang perlu kita bangun bukan hanya kepedulian terhadap kelompok rentan, tetapi juga kesadaran bahwa setiap orang memiliki hak untuk dihormati dan diberi kesempatan. Jangan sampai keterbatasan akses dan lingkungan yang tidak inklusif justru membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk berkembang,” ujarnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Netty menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. Melalui kegiatan TOT Relawan Sahabat Inklusi, ia berharap para relawan tidak hanya memiliki kepedulian, tetapi juga pemahaman yang tepat mengenai prinsip inklusi.

Netty menegaskan, prinsip No One Left Behind atau tidak seorang pun tertinggal harus menjadi landasan dalam kerja-kerja inklusi.

“Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang memberi ruang bagi setiap orang untuk tumbuh dan berkontribusi. Tidak boleh ada kelompok yang tertinggal hanya karena kondisi, keterbatasan akses, atau lingkungan yang belum berpihak. Inilah semangat inklusi yang perlu kita perjuangkan bersama,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *