Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI dari Fraksi PKS Dapil Kalimantan Selatan I
Semakin bertambah usia, manusia sering merasakan satu hal yang tak bisa dijelaskan oleh logika semata: dunia yang dahulu terasa riuh kini perlahan menjadi sunyi. Bukan karena dunia berubah, tetapi karena hati sedang diajak untuk melihat sesuatu yang lebih dalam—hakikat kehidupan itu sendiri.
Allah ﷻ berfirman:
يٰقَوْمِ اِنَّمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌۖ وَّاِنَّ الْاٰخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ
“Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara), dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.”
(QS. Ghafir: 39)
Ayat ini bukan sekadar informasi, tetapi panggilan kesadaran. Dunia bukan tujuan, melainkan tempat singgah. Dan setiap singgah pasti ada akhir.
1. Usia yang Bertambah adalah Hujjah, Bukan Sekadar Angka
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan…”
(HR. Tirmidzi)
Usia bukan sekadar bertambah, tetapi berkurang. Setiap detik yang berlalu bukan menambah jatah hidup, melainkan mengurangi sisa waktu menuju kematian.
Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:
“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap hari berlalu, maka sebagian dirimu ikut pergi.”
Betapa sering manusia merayakan pertambahan usia, namun lupa bahwa itu adalah tanda semakin dekatnya perjumpaan dengan Allah.
2. Dunia yang Memudar: Tanda Hati Sedang Disadarkan
Semakin dewasa, manusia mulai kehilangan banyak hal: orang tua, sahabat, kekuatan fisik, bahkan ambisi duniawi. Semua itu bukan kebetulan.
Allah ﷻ berfirman:
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga, dan berlomba dalam harta serta anak…”
(QS. Al-Hadid: 20)
Kehilangan adalah cara Allah melatih hati agar tidak bergantung pada yang fana.
Ibnul Qayyim رحمه الله menulis:
“Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan menjauhkan dunia dari hatinya.”
Maka sunyinya dunia bukan tanda kesepian, melainkan tanda pemurnian.
3. Yang Tersisa Hanyalah Amal atau Dosa
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Mayit akan diikuti oleh tiga hal: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua akan kembali dan satu tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, dan yang tersisa hanyalah amalnya.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Tidak ada yang dibawa ke liang lahat kecuali amal.
Allah ﷻ menegaskan:
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Inilah realitas yang sering diabaikan: hidup bukan tentang apa yang dimiliki, tetapi apa yang dipertanggungjawabkan.
4. Kisah-Kisah Ibrah dari Orang Terdahulu
a. Umar bin Abdul Aziz: Khalifah yang Tak Terlena Dunia
Ketika diangkat menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz menangis. Ia berkata:
“Aku diuji dengan kekuasaan, padahal aku tidak menginginkannya.”
Ia mematikan lampu negara saat membicarakan urusan pribadi, karena takut memakan yang bukan haknya. Padahal ia pemimpin besar.
Apa yang membuatnya seperti itu? Kesadaran bahwa dunia hanya sementara.
b. Fudhail bin Iyadh: Dari Perampok Menjadi Ahli Ibadah
Dahulu ia seorang perampok. Suatu malam, ia mendengar ayat:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?”
(QS. Al-Hadid: 16)
Ayat itu menembus hatinya. Ia pun bertaubat total.
Ia berkata:
“Seandainya dunia ini dari emas yang fana dan akhirat dari tanah yang kekal, maka memilih tanah yang kekal lebih baik daripada emas yang fana.”
c. Qarun: Harta yang Menjadi Petaka
Allah menceritakan tentang Qarun:
“Maka Kami benamkan dia bersama rumahnya ke dalam bumi…”
(QS. Al-Qashash: 81)
Ia memiliki kekayaan luar biasa, tetapi hatinya terpaut pada dunia. Harta yang ia banggakan justru menjadi sebab kebinasaannya.
5. Kematian: Nasihat yang Paling Jujur
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (yaitu kematian).”
(HR. Tirmidzi)
Kematian bukan sesuatu yang jauh. Ia lebih dekat daripada yang kita kira.
Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata:
“Dunia telah pergi menjauh, dan akhirat datang mendekat. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi anak-anak dunia.”
6. Tanda Allah Masih Memberi Kesempatan
Selama nafas masih ada, pintu taubat belum tertutup.
Allah ﷻ berfirman:
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah…”
(QS. Az-Zumar: 53)
Setiap detik kehidupan adalah kesempatan memperbaiki diri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai di tenggorokan.”
(HR. Tirmidzi)
7. Persiapan Sebelum “Benar-Benar Pulang”
Ada beberapa bekal yang perlu dipersiapkan:
a. Taubat yang sungguh-sungguh
Bukan sekadar ucapan, tetapi perubahan.
b. Amal yang ikhlas
Karena amal tanpa ikhlas tak bernilai.
c. Hati yang tidak bergantung pada dunia
Gunakan dunia, jangan diperbudak olehnya.
d. Memperbaiki hubungan dengan manusia
Karena dosa kepada manusia tidak gugur tanpa maaf.
Penutup: Sebelum Waktu Itu Benar-Benar Tiba
Waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu. Usia terus berkurang tanpa bisa ditawar.
Apa yang hari ini kita tunda, bisa jadi tidak pernah sempat kita lakukan.
Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:
“Jangan menunda amal hingga esok, karena engkau tidak tahu apakah engkau masih hidup hingga esok.”
Maka jika hari ini kita masih diberi nafas, itu bukan sekadar hidup, itu adalah undangan.
Undangan untuk kembali.
Undangan untuk memperbaiki.
Undangan untuk pulang… sebelum benar-benar pulang.
Barakallahu fiikum.






