Iran Bukan Keras Kepala, tapi Sedang Mengajari Dunia Supaya Gigih Mempertahankan Hak dan Kehormatan

Dalam dunia yang didominasi oleh imperialis jahat seperti AS, sikap mudah mengalah, kompromis dan oportinis memang itulah yang diinginkan AS guna mengamankan supremasinya terhadap dunia.

Iran, yang lahir dari Revolusi Islam di bawah bimbingan seorang ulama mukasyafah (Ulama Mukasyafah adalah ulama sufi atau waliyullah yang dikaruniai kemampuan oleh Allah SWT untuk menyingkap tabir rahasia gaib atau hakikat ketuhanan), Imam Khomenei, bangkit sebagai anti tesa dari plot imperialisme AS.

Ketika perang yang terbakar pada 28 Februari 2026 yang lalu berlangsung, bangsa Iran menunjukkan kegigihan dan keteguhan mentalitas bangsa itu laksana karang. Betapa dahsyatnya, saat Donald Trump, presiden AS, mengancam akan membom fasilitas sipil guna menghancurkan peradaban tua tersebut, rakyat Iran bukannya takut, malahan beramai-ramai menjaga jembatan dan jalan-jalan sebagai pagar hidup.

Kemartiran bukan barang mewah dan langka bagi sejarah bangsa Salman Al Farisi tersebut. Apalagi sekedar patriotisme menjaga negara.

Doktrin yang menitis dari perisriwa Karbala dengan terbunuhnya Imam Husein As, diolah sebagai teologi kemartiran yang melekat pada mazhab Syiah Imamiyah Itsna Asyara yang umumnya dipeluk oleh bangsa Iran.

Teologi politis dan pantang menyerah ini jauh lebih dahsyat pengaruhnya ketimbang isu nuklir Iran. Paham ini dapat berkembang secara aktif untuk mengakhiri perilaku para tirani seperti Donald Trump dan Netanyahu.

 

Bhre Wira

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *