SUKABUMI ~ Di tengah riuh tepuk tangan dan semangat budaya yang menggelora, panggung Festival Pencak Silat Seni IPSI Cup VI 2026 Kota Sukabumi yang digelar pada Jumat, 17 April 2026, bukan sekadar ajang kompetisi. Ia menjelma sebagai ruang pertemuan antara tradisi, prestasi, dan nilai-nilai kebangsaan. Deretan tokoh yang berdiri dengan piagam di tangan menjadi simbol penghargaan atas dedikasi dalam menjaga dan mengembangkan olahraga tradisional yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan berbangsa.
Momentum ini menegaskan bahwa pencak silat tidak hanya dipandang sebagai seni bela diri, tetapi juga sebagai warisan budaya yang dijamin keberlangsungannya melalui amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dalam kerangka tersebut, negara hadir untuk melindungi sekaligus mengembangkan identitas bangsa agar tetap lestari di tengah dinamika zaman.
Penyelenggaraan festival ini juga sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan, yang menempatkan olahraga sebagai bagian penting dalam pembangunan manusia Indonesia secara menyeluruh, mencakup aspek fisik, mental, dan karakter. Pencak silat, dalam hal ini, menjadi sarana pembentukan nilai-nilai disiplin, kehormatan, serta sportivitas.
Kegiatan ini turut mencerminkan pentingnya tata kelola yang baik, dengan menjunjung prinsip transparansi dan akuntabilitas sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN. Hal tersebut menjadi landasan dalam memastikan setiap penyelenggaraan kegiatan publik berjalan secara tertib, profesional, dan bertanggung jawab.
Peran para pemangku kepentingan dalam kegiatan ini menunjukkan sinergi yang positif antara berbagai unsur, baik pemerintah, organisasi, padepokan pencak silat, maupun masyarakat. Kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam mendorong kemajuan olahraga sekaligus pelestarian budaya yang berkelanjutan.
Sebagai Budayawan Sunda yang juga Ketua Umum Yayasan RESIKOBRA, Nyai Sekar Jingga Samudera menegaskan bahwa pencak silat tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menjadi benteng moral generasi muda dari berbagai ancaman sosial. Menurutnya, nilai-nilai luhur dalam pencak silat mampu membentuk karakter yang kuat, berintegritas, dan berjiwa kebangsaan.
Dalam balutan busana adat yang anggun, Nyai Sekar Jingga Samudera menyampaikan pandangan yang sarat makna dan menggugah kesadaran kolektif, “Pencak silat bukan hanya tentang menang atau kalah. Ia adalah cermin peradaban Nusantara. Jika kita menjaganya dengan kejujuran, maka bangsa ini akan berdiri tegak. Namun jika kita nodai dengan kepentingan sempit, maka kita sedang merobohkan rumah kita sendiri—perlahan, tanpa kita sadari,” ujarnya kepada awak media, Jumat (17/4/2026).
Apresiasi tinggi juga datang dari Budayawan Nusantara, Ully Sigar Rusadi, yang menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Ketua Umum Yayasan RESIKOBRA atas peran aktifnya dalam merawat budaya sekaligus membangun kesadaran sosial di tengah masyarakat. Ia menilai kegiatan ini bukan hanya sukses secara penyelenggaraan, tetapi juga memiliki dampak strategis bagi pembinaan generasi muda.
“Ke depan, kami siap membangun sinergitas dan melakukan berbagai gebrakan nyata bersama Yayasan RESIKOBRA dalam menanggulangi bahaya laten narkoba. Generasi muda adalah masa depan bangsa yang harus kita jaga bersama agar tidak hancur oleh ancaman narkotika,” tegas Ully.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa budaya, hukum, dan tanggung jawab sosial memiliki peran yang saling melengkapi. Keduanya perlu berjalan beriringan agar pembangunan bangsa tetap memiliki arah dan nilai yang kuat di tengah perkembangan zaman.
Pada akhirnya, festival ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga ruang refleksi bersama. Di balik setiap apresiasi dan pencapaian, tersimpan harapan agar generasi penerus terus menjaga warisan budaya, menjunjung nilai hukum, serta merawat semangat persatuan sebagai fondasi menuju masa depan yang lebih baik.
(CP/red)






