Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin
Ada pikiran yang tampak cerdas, tetapi digerakkan oleh luka. Ada kata-kata yang terdengar tegas, tetapi lahir dari kegelisahan. Dan ada manusia yang begitu berani menuduh… karena diam-diam ia sedang menutupi sesuatu dalam dirinya sendiri. Di situlah “guilty mind” bekerja, nampak sunyi, halus, tetapi menentukan arah hidup seseorang.
Secara sederhana, guilty mind adalah keadaan batin yang dipenuhi rasa bersalah, namun tidak diakui. Dalam konteks hukum, ia adalah mens rea, yaitu niat atau kesadaran batin saat melakukan kesalahan. Tetapi dalam kehidupan sosial dan spiritual, ia lebih dari itu: ia adalah jiwa yang tidak damai, lalu mencari pelampiasan dengan cara membenarkan diri, bahkan jika harus menyalahkan orang lain.
Dari sinilah lahir perilaku yang kita kenal dengan tergesa dalam menilai, ringan dalam menuduh, keras dalam berbicara, dan gemar memperbesar kesalahan orang lain. Bukan karena ia paling benar… tetapi karena ia tidak sanggup berdamai dengan dirinya sendiri.
Fenomena ini sering berakar dari dua penyakit batin yang saling menguatkan, yakni envy (iri) dan malice (kedengkian). Iri adalah kegelisahan melihat orang lain memiliki kebaikan. Sedangkan dengki adalah keinginan agar kebaikan itu hilang. Iri masih bisa diam… tetapi dengki selalu mencari jalan untuk bertindak.
Al-Qur’an mengungkapkan dengan bahasa yang sangat tajam namun sunyi:
وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِمْ
“Banyak dari Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian menjadi kafir setelah beriman, karena dengki dari diri mereka sendiri…” (QS. Al-Baqarah: 109)
Perhatikan… “حَسَدًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ” yaitu dengki itu lahir dari dalam diri mereka sendiri. Bukan dari fakta, bukan dari kebenaran, tetapi dari kegelisahan batin.
Rasulullah SAW. pun memperingatkan dengan nada yang sangat dalam:
دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ: الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ
“Telah merayap kepada kalian penyakit umat-umat sebelum kalian: iri dan kebencian.” (HR. Tirmidzi)
Ia menyebutnya “merayap”, karena penyakit ini tidak datang dengan suara, tetapi perlahan menguasai hati… hingga seseorang merasa benar saat berbuat salah.
Dalam kondisi inilah guilty mind berubah menjadi energi destruktif. Ia tidak hanya merusak diri sendiri, tetapi juga merusak ruang sosial. Narasi dipelintir, fakta dipilih,distorsi realitas, dan opini dibangun bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk membenarkan diri.
Ali bin Abi Thalib pernah berkata:
مَا أَضْمَرَ أَحَدٌ شَيْئًا إِلَّا ظَهَرَ فِي فَلَتَاتِ لِسَانِهِ
“Tidaklah seseorang menyembunyikan sesuatu, kecuali akan tampak pada ucapan lisannya.”
Maka ketika seseorang terus-menerus menyerang, merendahkan, dan memvonis… sering kali itu bukan cermin dari objek yang ia serang, tetapi cermin dari batin yang ia sembunyikan.
Lebih jauh lagi, guilty mind melahirkan karakter yang kehilangan keseimbangan, tidak sabar dalam berdialog, tidak bijak dalam berbahasa, dan tidak memiliki empati dalam relasi. Ia lebih sibuk mencari kesalahan orang lain daripada memperbaiki dirinya sendiri.
Padahal Al-Qur’an memberikan standar yang sangat tinggi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa…” (QS. Al-Hujurat: 12)
Dan Rasulullah SAW.menegaskan:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun realitas hari ini justru sebaliknya, dimana lisan menjadi senjata, dan kata-kata menjadi luka. Di titik ini, kita tidak hanya menghadapi krisis perilaku… tetapi krisis jiwa.
Imam Ibnul Qayyim menggambarkan:
فِي الْقَلْبِ شَعَثٌ لَا يَلُمُّهُ إِلَّا الْإِقْبَالُ عَلَى اللَّهِ
“Dalam hati ada kegelisahan yang tidak akan tenang kecuali dengan kembali kepada Allah.”
Artinya, akar dari semua kegaduhan ini bukan pada luar… tetapi pada dalam. Bukan pada orang lain… tetapi pada hati yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Maka solusi tidak cukup dengan membungkam suara, tetapi harus menenangkan jiwa.
Pemulihan dimulai dari keberanian untuk mengakui bahwa mungkin selama ini kita terlalu cepat menilai, terlalu mudah menuduh, dan terlalu jarang bercermin. Dari kesadaran bahwa tidak semua hal harus direspons, tidak semua perbedaan harus dipertentangkan.
Rasulullah SAW. memberikan prinsip sederhana namun mendalam:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)
Dan dalam tradisi salaf, diam bukan kelemahan, ia adalah kebijaksanaan. Menahan diri bukan kekalahan, ia adalah kemenangan atas ego. Lebih dari itu, kita perlu membangun ulang orientasi hidup. Dari egoisme menuju kemaslahatan. Dari kebencian menuju kasih sayang. Dari konflik menuju harmoni. Allah berfirman:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Tolaklah dengan cara yang lebih baik…” (QS. Fussilat: 34)
Inilah jalan peradaban, bukan membalas, tetapi memperbaiki. Bukan menjatuhkan, tetapi mengangkat.
Pada akhirnya, guilty mind bukanlah takdir… tetapi kondisi yang bisa disembuhkan. Dengan kejujuran, dengan kesadaran, dan dengan keberanian untuk berubah. Karena kemenangan terbesar dalam hidup ini bukanlah ketika kita mampu membuktikan orang lain salah…tetapi ketika kita mampu memperbaiki diri sendiri.
Dan di situlah, dalam hati yang bersih dan jiwa yang tenang, lahir manusia yang tidak lagi sibuk menyerang… tetapi hadir untuk menenangkan.
#Wallahu A’lam Bish-Shawab






