Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, Fraksi PKS, Dapil Kalsel
Di zaman yang serba cepat ini, manusia tidak lagi hanya berinteraksi melalui lisan, tetapi juga melalui “jari”. Apa yang dulu diucapkan kini dituliskan di media sosial, grup percakapan, kolom komentar, dan berbagai platform digital lainnya.
Jika dahulu menjaga lisan adalah bentuk utama akhlak, maka hari ini menjaga jari menjadi bagian yang tak terpisahkan dari iman dan ketakwaan.
Era digital membawa kemudahan luar biasa, tetapi juga ujian besar. Setiap orang bisa berbicara, berpendapat, bahkan menghakimi tanpa batas. Sayangnya, tidak semua menyadari bahwa setiap kata yang diketik memiliki konsekuensi, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
1. Dalil Menjaga Lisan dan Kini Jari
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
(QS. Qaf: 18)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap ucapan manusia dicatat. Para ulama menjelaskan, dalam konteks hari ini, “ucapan” tidak hanya terbatas pada lisan, tetapi juga apa yang ditulis. Status, komentar, tweet, dan pesan digital—semuanya termasuk dalam cakupan ini.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi prinsip utama dalam bermuamalah, termasuk di dunia digital. Jika tidak mampu berkata baik, maka diam adalah pilihan terbaik. Dalam konteks sekarang, jika tidak bisa menulis yang baik, maka menahan diri untuk tidak berkomentar adalah bentuk ibadah.
Berpikir Sebelum Berkomentar
Salah satu penyakit di era digital adalah reaktif—cepat berkomentar tanpa berpikir. Padahal Islam mengajarkan tabayyun (klarifikasi) dan kehati-hatian.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti…”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini sangat relevan hari ini. Banyak orang langsung membagikan berita tanpa mengecek kebenarannya, bahkan ikut mencaci tanpa mengetahui fakta. Inilah yang sering menimbulkan fitnah, perpecahan, dan dosa berjamaah di ruang digital.
Berpikir sebelum berkomentar berarti:
1. Memastikan kebenaran informasi
2. Menimbang dampak ucapan
3. Mengendalikan emosi
4. Menjaga niat agar tetap lurus
Mengapa Menjaga Jari Itu Penting?
Jejak Digital Tidak Hilang
Apa yang ditulis bisa tersimpan lama, bahkan selamanya. Sekali diposting, sulit ditarik kembali. Dan itu selamanya mengalir baik dosa maupun pahala. Maka diperlukan pemikiran mendalam perlu berkomentar atau diam sebagai emas.
Dosa yang Berantai
Jika tulisan buruk dibaca, dibagikan, dan ditiru orang lain, maka dosa terus mengalir.
Mudah Menyakiti Tanpa Disadari
Tulisan yang tampak ringan bisa melukai hati orang lain.
Menguji Keimanan
Kemudahan berbicara di dunia maya justru menjadi ujian besar bagi keimanan seseorang.
Perbandingan Zaman Dulu dan Sekarang
Di zaman dahulu, seseorang harus bertemu langsung untuk menyampaikan sesuatu. Ada rasa malu, pertimbangan, dan adab yang lebih kuat. Sedangkan hari ini, orang bisa berkata apa saja tanpa melihat wajah orang lain.
Namun, nilai Islam tidak berubah. Akhlak tetap menjadi ukuran. Bahkan di era digital, kebutuhan akan akhlak menjadi lebih mendesak karena luasnya dampak yang ditimbulkan.
Kisah di Zaman Nabi
Salah satu kisah yang relevan adalah ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang amalan yang paling utama. Rasulullah kemudian memegang lidahnya dan bersabda:
“Tahanlah ini.”
Sahabat tersebut bertanya, “Apakah kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita ucapkan?”
Rasulullah menjawab:
“Celakalah engkau! Bukankah manusia disungkurkan ke dalam neraka karena hasil dari lisan mereka?”
(HR. Tirmidzi)
Jika di zaman itu lisan menjadi sebab utama seseorang celaka, maka di zaman ini “lisan digital” atau jari juga memiliki potensi yang sama.
Ada pula kisah tentang fitnah terhadap Aisyah RA (Haditsul Ifk). Berita bohong menyebar dari mulut ke mulut hingga menimbulkan kegoncangan besar di masyarakat. Allah kemudian menurunkan ayat dalam QS. An-Nur yang menegaskan pentingnya menjaga ucapan dan tidak mudah menyebarkan kabar tanpa bukti. Jika dulu fitnah menyebar secara terbatas, hari ini bisa viral dalam hitungan detik.
Menjadikan Media Digital sebagai Ladang Amal
Era digital bukan hanya ancaman, tetapi juga peluang. Jari yang sama bisa menjadi sumber pahala jika digunakan untuk:
1. Menyebarkan kebaikan
2. Mengingatkan dalam kebenaran
3. Memberi motivasi
4. Menjaga silaturahmi
5. Berdakwah dengan hikmah
Rasulullah SAW bersabda:
“Sampaikan dariku walau hanya satu ayat.”
(HR. Bukhari)
Penutup
Menjaga akhlak di era digital adalah bentuk nyata keimanan. Jika dahulu kita diuji dengan lisan, hari ini kita diuji dengan jari. Maka sebelum mengetik, tanyakan pada diri:
Apakah ini benar?
Apakah ini baik?
Apakah ini bermanfaat?
Jika tidak, maka diam adalah pilihan terbaik.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak kita berbicara yang dinilai, tetapi seberapa baik dan bertanggung jawab setiap kata yang kita sampaikan, baik dengan lisan maupun dengan jari.
Semoga Allah menjaga lisan dan jari kita dari hal-hal yang sia-sia dan menjerumuskan, serta menjadikannya alat untuk kebaikan dan keberkahan. Aamiin.






