JAKARTA – BELA RAKYAT – Dewan Pimpinan Pusat Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (DPP AMPI) melalui komunitas Pecinta Sepakbola menggelar acara Nonton Bareng (Nobar) Final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan dua raksasa sepak bola dunia, Spanyol dan Argentina, pada Minggu (19/7/2026) malam di Paras Nusantara, Jalan Cikajang No. 55, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Kegiatan tersebut menjadi ajang silaturahmi antarpengurus sekaligus momentum mempererat persaudaraan melalui olahraga yang mampu menyatukan berbagai kalangan. Sejak sebelum kick-off, para peserta sudah memadati lokasi untuk menyaksikan laga puncak yang disebut sebagai salah satu final terbaik dalam sejarah sepak bola modern.
Sebelum Nobar, Ketua Bidang Organisasi DPP AMPI Wahyu Hamdani menyampaikan pandangannya mengenai pertandingan final yang mempertemukan generasi emas sepak bola dunia Spanyol vs Argentina.
Dukung Spanyol, Kagumi Lionel Messi
Sebagai penggemar Barcelona, Wahyu mengaku memberikan dukungan kepada Timnas Spanyol. Namun demikian, ia tidak menutupi kekagumannya terhadap kapten Argentina, Lionel Messi.
“Sebagai fans Barcelona, tentu saya mendukung Spanyol. Tetapi saya juga sangat mengagumi Lionel Messi. Apa yang ia lakukan di usia 39 tahun benar-benar luar biasa. Tidak semua pemain mampu menjaga kualitas dan mental juara hingga usia seperti itu,” ujar Wahyu.
Menurut Wahyu, final kali ini bukan sekadar pertandingan memperebutkan trofi, tetapi menjadi panggung pertemuan dua generasi yang sama-sama dibentuk oleh filosofi sepak bola Barcelona melalui akademi legendaris La Masia.

Final Kelas Dunia dari Murid-Murid La Masia
Wahyu menilai partai final menyajikan kualitas permainan terbaik yang dinikmati miliaran pasang mata di seluruh dunia.
“Apapun hasil akhirnya, dunia sedang menikmati permainan kelas dunia. Menariknya, pertandingan ini menghadirkan pemain-pemain yang tumbuh dari filosofi La Masia. Ini menunjukkan bahwa pembinaan usia dini yang konsisten mampu melahirkan pesepak bola hebat lintas generasi,” katanya.
Ia menambahkan, La Masia bukan sekadar akademi sepak bola, melainkan sistem pembinaan karakter, teknik, kecerdasan bermain, hingga mental juara yang telah menghasilkan banyak legenda dunia.
Indonesia Harus Memiliki Akademi Selevel La Masia
Lebih jauh, Wahyu berharap Indonesia dapat membangun pusat pembinaan sepak bola yang memiliki kualitas seperti La Masia.
Bagi Wahyu, keberhasilan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh pelatih atau kompetisi profesional, tetapi dimulai dari sistem pembinaan pemain muda yang berkesinambungan.
“Saya berharap Indonesia memiliki semacam ‘pabrik’ pemain sepak bola seperti La Masia Barcelona. Tempat yang benar-benar fokus mencetak talenta sejak usia dini dengan kurikulum yang jelas dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Ia meyakini apabila Indonesia memiliki sistem pembinaan yang kuat, maka cita-cita pemerintah membawa Tim Nasional Indonesia tampil di Piala Dunia bukan lagi sekadar impian.
“Kalau kita memiliki akademi yang mampu melahirkan pemain-pemain kelas dunia secara terus-menerus, saya optimistis keinginan pemerintah agar Indonesia berlaga di Piala Dunia sangat memungkinkan untuk diwujudkan,” tegasnya.
Messi dan Yamal, Gambaran Kakak dan Adik di Lapangan
Wahyu juga menyoroti duel yang mempertemukan Lionel Messi dengan bintang muda Spanyol, Lamine Yamal.
Wahyu menegaskan, pertandingan tersebut menghadirkan simbol estafet generasi dalam sepak bola dunia.
“Messi dan Yamal bermain sebagaimana layaknya kakak dan adik. Yang satu adalah legenda hidup, sementara yang satu lagi calon legenda masa depan. Pertunjukan seperti ini disaksikan oleh seluruh dunia dan menjadi inspirasi bagi jutaan anak muda,” ujarnya.
Ia bahkan berandai-andai bagaimana indahnya sepak bola apabila Messi pernah memperkuat Timnas Spanyol.
“Kalau saja Messi bermain untuk Spanyol, mungkin sepak bola terasa begitu sempurna. Tetapi sejarah berkata lain dan justru membuat rivalitas Argentina dan Spanyol semakin menarik,” katanya sambil tersenyum.
Messi Pernah Menolak Membela Spanyol
Wahyu mengingatkan bahwa Lionel Messi sebenarnya pernah mendapat kesempatan membela Timnas Spanyol saat masih remaja.
Ketika berusia sekitar 16 tahun, Messi sempat ditawari Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) untuk memperkuat La Roja. Kesempatan tersebut muncul karena ia telah lama berkembang di akademi Barcelona dan memiliki hubungan keluarga dengan Spanyol melalui garis keturunannya.
Namun, Messi menolak tawaran tersebut. Sejak kecil, kata Wahyu, Messi telah memendam impian mengenakan seragam kebanggaan Timnas Argentina. Ia memilih tetap setia kepada tanah kelahirannya meski peluang bersama Spanyol saat itu sangat menjanjikan.
“Keputusan Messi menunjukkan bahwa sepak bola bukan hanya soal prestasi, tetapi juga soal identitas, kecintaan kepada bangsa, dan mimpi yang dipegang sejak kecil. Pada akhirnya, keputusan itu terbayar lunas ketika ia berhasil membawa Argentina menjadi juara dunia,” tuturnya.
Sepak Bola Menyatukan Persaudaraan
Melalui kegiatan nobar Final Piala Dunia 2026 ini, DPP AMPI berharap semangat sportivitas, persatuan, dan kebersamaan terus tumbuh di kalangan generasi muda Indonesia.
Bagi Wahyu Hamdani, kemenangan terbesar dari sebuah pertandingan bukan hanya siapa yang mengangkat trofi, melainkan bagaimana sepak bola mampu menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang dalam semangat persaudaraan.
“Final ini bukan hanya milik Argentina atau Spanyol. Ini adalah pesta sepak bola dunia. Semoga dari pertandingan ini lahir inspirasi bagi Indonesia untuk membangun ekosistem pembinaan sepak bola yang lebih baik, sehingga suatu hari nanti Garuda juga bisa tampil dan bersaing di panggung Piala Dunia,” pungkasnya.






