JAKARTA – Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada Triwulan I Tahun 2026 menjadi sorotan banyak pihak. Di tengah situasi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, perlambatan perdagangan dunia, hingga tekanan inflasi internasional, capaian Indonesia justru menunjukkan tren penguatan yang dinilai tidak terjadi secara kebetulan.
Di balik pertumbuhan tersebut, terdapat rangkaian kebijakan besar pemerintah yang berjalan simultan dari tingkat pusat hingga desa. Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, menilai pertumbuhan ekonomi nasional saat ini bukan semata hasil statistik makro, melainkan cerminan dari bergeraknya mesin ekonomi rakyat secara nyata di lapangan.
Menurut Mukhtarudin, investigasi terhadap berbagai program prioritas pemerintah menunjukkan bahwa belanja negara, investasi strategis, pembangunan infrastruktur desa, serta penguatan ekonomi kerakyatan menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi lebih inklusif.
“Kalau kita turun langsung ke daerah, kita melihat bahwa pertumbuhan ekonomi itu bukan hanya angka di atas kertas. Ada proyek desa berjalan, UMKM hidup, tenaga kerja terserap, pasar bergerak, dan masyarakat mulai merasakan aktivitas ekonomi yang lebih kuat,” ujar Mukhtarudin dalam keterangannya seperti dikutip di media sosial pribadinya, Jakarta, Minggu (10/5/2026).
Belanja Negara Jadi Motor Penggerak
Dalam penelusuran terhadap sejumlah program pemerintah, peningkatan belanja negara hingga 31 persen menjadi salah satu instrumen utama penggerak ekonomi nasional pada awal tahun 2026. Anggaran pemerintah yang dikucurkan secara agresif tidak hanya berputar di pusat ekonomi besar, tetapi mulai diarahkan hingga ke daerah-daerah dan desa.
Mukhtarudin menilai pola belanja negara saat ini memiliki efek berantai yang lebih luas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena menyentuh langsung sektor produktif masyarakat.
“Ketika negara membangun jalan desa, koperasi, dapur MBG, gudang pangan, hingga fasilitas pendidikan dan kesehatan, maka uang berputar di bawah. Tukang bekerja, material dibeli dari daerah, UMKM mendapat pesanan, petani punya pasar, dan masyarakat merasakan dampaknya,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kebijakan fiskal pemerintah saat ini tidak hanya bertujuan menjaga pertumbuhan, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi domestik agar tidak terlalu bergantung pada faktor eksternal.
Program MBG Dinilai Ciptakan Efek Berganda
Salah satu program yang menjadi perhatian dalam investigasi ekonomi pemerintah adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut dinilai bukan sekadar agenda sosial, tetapi juga memiliki dampak ekonomi yang sangat besar.
Di berbagai daerah, pembangunan dapur umum, rantai pasok pangan, distribusi logistik, hingga kebutuhan bahan baku telah menciptakan aktivitas ekonomi baru yang melibatkan masyarakat lokal.
Mukhtarudin menjelaskan bahwa program MBG secara tidak langsung membuka ruang kerja baru di sektor pangan, pertanian, distribusi, hingga jasa.
“Ini efeknya luas sekali. Petani terserap hasil panennya, nelayan punya pasar, UMKM katering bergerak, tenaga kerja lokal direkrut. Jadi program sosial ini berubah menjadi penggerak ekonomi rakyat,” jelasnya.
Menurutnya, pola pembangunan seperti inilah yang membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tahan terhadap tekanan global karena basis pertumbuhannya berasal dari konsumsi domestik dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Koperasi Desa Merah Putih Jadi Titik Baru Ekonomi Rakyat
Selain MBG, Mukhtarudin juga menyoroti pembangunan Koperasi Desa Merah Putih yang mulai berkembang di berbagai wilayah sebagai bagian dari strategi penguatan ekonomi kerakyatan.
Dalam investigasi lapangan yang dilakukan sejumlah tim kementerian dan pemangku kepentingan, koperasi desa mulai menjadi pusat distribusi, perdagangan hasil pertanian, hingga akses pembiayaan masyarakat kecil.
Mukhtarudin menyebut keberadaan koperasi desa dapat menjadi “mesin ekonomi baru” yang memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat bawah.
“Kalau desa kuat, ekonomi nasional otomatis kuat. Karena ekonomi Indonesia sebenarnya hidup dari aktivitas masyarakat di bawah. Koperasi desa ini menjadi instrumen penting agar keuntungan ekonomi tidak hanya berputar di kota besar,” katanya.
Ia juga melihat pembangunan koperasi desa memiliki dampak sosial yang besar karena mampu memperkuat solidaritas ekonomi masyarakat sekaligus mengurangi ketimpangan.
Sektor Konstruksi Tumbuh, Lapangan Kerja Terbuka
Data pertumbuhan sektor konstruksi sebesar 5,49 persen (year on year) dinilai menjadi bukti bahwa proyek-proyek strategis pemerintah masih berjalan agresif di berbagai daerah.
Mukhtarudin mengungkapkan bahwa proyek pembangunan yang tersebar hingga wilayah pelosok telah membuka peluang kerja baru bagi masyarakat.
“Pertumbuhan konstruksi itu berarti ada pembangunan nyata. Ada jalan dibangun, irigasi diperbaiki, sekolah direnovasi, fasilitas umum dibangun. Ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar,” ujarnya.
Menurutnya, sektor konstruksi memiliki efek domino terhadap sektor lain seperti perdagangan bahan bangunan, transportasi, industri semen, logistik, hingga konsumsi rumah tangga masyarakat pekerja.
Stabilitas Energi Jaga Daya Beli
Dalam investigasi ekonomi tersebut, pemerintah juga dinilai berhasil menjaga stabilitas harga energi sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.
Mukhtarudin menilai kestabilan harga energi menjadi faktor penting karena berpengaruh langsung terhadap biaya produksi dan pengeluaran masyarakat.
“Kalau harga energi stabil, masyarakat bisa lebih tenang. Biaya transportasi terkendali, harga barang tidak melonjak terlalu tinggi, dan konsumsi masyarakat tetap berjalan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa daya beli masyarakat merupakan tulang punggung utama ekonomi Indonesia sehingga pemerintah perlu terus memastikan stabilitas harga kebutuhan dasar.
Investasi Pemerintah dan Swasta Menguat
Selain faktor konsumsi dan belanja negara, peningkatan investasi pemerintah maupun swasta juga dinilai menjadi sinyal positif bagi arah ekonomi nasional.
Mukhtarudin mengatakan masuknya investasi menunjukkan tingkat kepercayaan yang masih tinggi terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
“Investor melihat Indonesia punya pasar besar, stabilitas politik relatif terjaga, dan program pembangunan berjalan. Ini modal penting untuk pertumbuhan jangka panjang,” ujarnya.
Ia menilai investasi yang masuk harus terus diarahkan pada sektor produktif yang memiliki dampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja dan penguatan industri nasional.
Pertumbuhan Harus Dirasakan Rakyat
Meski pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren positif, Mukhtarudin mengingatkan bahwa pemerintah tidak boleh berhenti hanya pada capaian angka statistik.
Menurutnya, ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah sejauh mana pertumbuhan tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi harus menghadirkan kesejahteraan nyata. Rakyat harus merasakan lapangan kerja terbuka, usaha bergerak, harga terjangkau, dan kehidupan yang semakin baik,” tegasnya.
Ia optimistis bahwa dengan kolaborasi pemerintah pusat, daerah, dunia usaha, dan masyarakat, Indonesia mampu menjaga momentum pertumbuhan menuju negara maju yang inklusif dan berkelanjutan.
“Yang paling penting adalah menjaga semangat gotong royong pembangunan. Karena pertumbuhan ekonomi yang kuat lahir dari kerja bersama seluruh elemen bangsa,” pungkas Mukhtarudin.






