BALI – Di tengah meningkatnya aktivitas komunitas otomotif di berbagai daerah Indonesia, tidak sedikit kegiatan touring yang menuai sorotan akibat pelanggaran lalu lintas, arogansi di jalan raya, hingga konflik dengan masyarakat. Namun, touring perdana PERIKHSA Riders yang menempuh rute Malang-Bali pada 11-13 Juni 2026 mencoba menghadirkan wajah berbeda dari sebuah komunitas motor besar.
Kegiatan yang diikuti anggota Perkumpulan Pemilik Izin Khusus Senjata Api Bela Diri Indonesia (PERIKHSA) tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antaranggota, tetapi juga menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa komunitas pemilik izin khusus senjata api dapat hadir sebagai teladan dalam menjunjung disiplin, keselamatan, dan tanggung jawab sosial.
Ketua Umum PERIKHSA sekaligus Anggota DPR RI dan Ketua MPR RI ke-15, Bambang Soesatyo atau Bamsoet, secara khusus memberikan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan touring tersebut saat acara gala dinner dan penyematan “Wing Riders” di Black Stone Beach Bali.
Namun di balik seremoni dan kebersamaan yang ditampilkan, terdapat pesan yang jauh lebih penting. Bamsoet menegaskan bahwa anggota PERIKHSA Riders harus mampu menjadi teladan serta tidak mudah terprovokasi oleh berbagai situasi yang berkembang di tengah masyarakat.
“Persatuan dan kesatuan bangsa harus selalu dijaga. Jangan mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah belah masyarakat. Kepentingan ekonomi rakyat harus menjadi prioritas bersama,” tegas Bamsoet.
Mengubah Stigma Komunitas Motor Besar
Selama bertahun-tahun, sebagian komunitas motor besar kerap menghadapi stigma negatif di masyarakat. Beberapa insiden yang melibatkan kelompok pengendara motor berkapasitas besar bahkan sempat menjadi perhatian publik karena dianggap mengganggu pengguna jalan lain.
Fenomena tersebut membuat banyak komunitas otomotif berupaya melakukan transformasi citra dengan mengedepankan edukasi keselamatan berkendara, kepatuhan terhadap aturan lalu lintas, serta kegiatan sosial yang memberi manfaat kepada masyarakat.
Touring PERIKHSA Riders menjadi salah satu contoh bagaimana komunitas otomotif berusaha menampilkan identitas baru yang lebih inklusif dan bertanggung jawab.
Sepanjang perjalanan dari Jawa Timur menuju Bali, peserta diwajibkan mematuhi standar keselamatan berkendara, menjaga etika berlalu lintas, serta menghormati pengguna jalan lainnya. Pendekatan ini dinilai penting untuk menunjukkan bahwa komunitas motor besar tidak identik dengan perilaku eksklusif ataupun arogan.
Bali Dipilih Bukan Tanpa Alasan
Investigasi terhadap pemilihan Bali sebagai destinasi touring menunjukkan adanya pertimbangan strategis yang lebih luas dibanding sekadar tujuan wisata.
Sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia, Bali menjadi etalase bangsa di mata dunia. Jutaan wisatawan mancanegara yang datang setiap tahun menjadikan citra Bali sangat menentukan persepsi internasional terhadap Indonesia.
Dalam berbagai kesempatan, pemerintah terus mendorong seluruh elemen masyarakat untuk ikut menjaga reputasi Bali sebagai destinasi yang aman, nyaman, dan berbudaya.
Bamsoet menilai kehadiran komunitas otomotif yang tertib dan beretika dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.
“Bali adalah wajah Indonesia di mata dunia. Ketika komunitas otomotif hadir dengan membawa pesan ketertiban, persaudaraan, dan nasionalisme, maka secara tidak langsung mereka turut menjaga citra positif Indonesia,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memiliki relevansi yang kuat mengingat sektor pariwisata masih menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional, terutama dalam mendatangkan devisa negara.
Efek Berganda bagi Ekonomi Daerah
Hasil penelusuran menunjukkan bahwa kegiatan touring dalam skala besar memiliki dampak ekonomi yang cukup signifikan bagi daerah yang dilalui.
Setiap rombongan peserta membutuhkan akomodasi, konsumsi, bahan bakar, jasa perawatan kendaraan, hingga kebutuhan logistik lainnya. Aktivitas tersebut secara langsung menggerakkan sektor usaha lokal.
Hotel dan penginapan memperoleh tingkat hunian yang lebih tinggi. Restoran dan rumah makan mengalami peningkatan jumlah pelanggan. Bengkel kendaraan mendapat tambahan pelanggan. Sementara pelaku UMKM memperoleh peluang lebih besar untuk menjual produk lokal kepada para peserta touring.
Dalam konteks Bali, manfaat tersebut menjadi semakin penting karena sektor pariwisata dan ekonomi kreatif merupakan penggerak utama ekonomi daerah.
Menurut sejumlah pelaku usaha yang ditemui di kawasan wisata Bali Timur, kehadiran komunitas otomotif sering kali memberikan dampak ekonomi yang cukup terasa, terutama pada musim kunjungan yang relatif sepi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa komunitas otomotif bukan hanya kelompok hobi semata, melainkan juga bagian dari ekosistem ekonomi yang mampu menciptakan perputaran uang di berbagai daerah.
Tanggung Jawab Ganda Anggota PERIKHSA
Sebagai organisasi yang beranggotakan pemilik izin khusus senjata api bela diri, anggota PERIKHSA memiliki tanggung jawab yang lebih besar dibanding komunitas lainnya.
Selain dituntut mematuhi hukum dan peraturan lalu lintas, mereka juga harus mampu menjaga integritas serta memberikan contoh perilaku yang baik kepada masyarakat.
Karena itu, pesan Bamsoet agar anggota tidak mudah terprovokasi memiliki makna yang sangat penting. Dalam kondisi sosial dan politik yang dinamis, setiap individu yang memiliki posisi strategis dalam masyarakat dituntut mampu menjadi perekat persatuan bangsa.
Apalagi di era digital saat ini, penyebaran informasi yang cepat sering kali memunculkan berbagai provokasi yang dapat memicu konflik sosial jika tidak disikapi secara bijaksana.
Menjadikan Brotherhood sebagai Kekuatan Sosial
Presiden PERIKHSA Riders Aldwin Rahadian bersama jajaran pengurus lainnya menegaskan bahwa semangat brotherhood yang terbangun selama touring tidak boleh berhenti pada kegiatan berkendara semata.
Solidaritas antaranggota diharapkan dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas, termasuk melalui kegiatan sosial, edukasi keselamatan berlalu lintas, dan dukungan terhadap program-program pembangunan nasional.
Dengan demikian, komunitas otomotif tidak hanya dikenal karena kendaraan yang mereka gunakan, tetapi juga karena kontribusi positif yang mereka berikan kepada bangsa.
Momentum Membangun Budaya Berkendara yang Beradab
Touring perdana PERIKHSA Riders Malang-Bali pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar perjalanan ratusan kilometer. Kegiatan ini menjadi ujian nyata bagi komitmen komunitas dalam membangun budaya berkendara yang disiplin, aman, dan bertanggung jawab.
Di tengah berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan dinamika kehidupan berbangsa, pesan yang disampaikan Bamsoet menjadi pengingat bahwa setiap komunitas memiliki peran dalam menjaga persatuan nasional serta mendukung pertumbuhan ekonomi rakyat.
Ketika disiplin, keselamatan, persaudaraan, dan tanggung jawab sosial berjalan beriringan, maka komunitas otomotif tidak hanya menjadi bagian dari hobi masyarakat modern, tetapi juga dapat menjadi mitra strategis dalam membangun Indonesia yang lebih maju, aman, dan sejahtera.






