Sumpah Pemuda: Jangan Sia-siakan Bonus Demografi

Oleh: I Nyoman Parta, Anggota DPR RI, PDIP, Bali

Sembilan puluh delapan tahun setelah Sumpah Pemuda, Indonesia menghadapi pertanyaan mendesak: apakah besarnya jumlah generasi muda akan menjadi tenaga kemajuan, atau kesempatan yang terbuang? Persatuan yang diperjuangkan pada 1928 harus kita wujudkan melalui kemampuan bersama mengubah potensi penduduk menjadi kesejahteraan.

Bacaan Lainnya

Hasil SUPAS 2025 yang dirilis BPS pada 2026 mencatat penduduk Indonesia sebanyak 284,67 juta jiwa. Gen Z mencakup 24,93 persen dan milenial 24,34 persen. Berdasarkan persentase tersebut, jumlahnya sekitar 71 juta Gen Z dan 69,3 juta milenial. Gabungannya mencapai sekitar 140,3 juta orang, hampir separuh penduduk Indonesia.

Pada 2026, Gen Z memasuki usia sekitar 14–29 tahun, sementara milenial 30–45 tahun. Tidak seluruhnya termasuk kategori pemuda. Namun, kedua generasi ini memegang peranan besar dalam pekerjaan, kewirausahaan, pengasuhan anak, dan kepemimpinan. Kualitas mereka ikut menentukan kemampuan Indonesia menghadapi persaingan global serta perubahan teknologi.

SUPAS 2025 juga menunjukkan 68,94 persen penduduk berada pada usia produktif, yakni 15–64 tahun. Struktur ini membuka peluang bonus demografi. Jika tersedia pekerjaan produktif, pendapatan keluarga meningkat, tabungan bertambah, usaha berkembang, dan penerimaan negara menguat. Sebaliknya, pengangguran berkepanjangan membuat potensi pendapatan hilang serta tanggungan keluarga membesar.

Tantangannya sudah nyata. BPS mencatat 19,44 persen penduduk usia 15–24 tahun pada 2025 tidak sedang sekolah, bekerja, atau mengikuti pelatihan. Hampir satu dari lima anak muda berada dalam kondisi tersebut. Angka ini tidak menjelaskan penyebab masing-masing orang, sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa mereka malas.

Namun, pemuda juga perlu membangun disiplin, kemauan belajar, dan keberanian mencoba. Kebiasaan menunda, menyerah sebelum berusaha, serta mengharapkan keberhasilan tanpa proses perlu dilawan. Kegagalan patut menjadi bahan memperbaiki langkah. Kritik terhadap keadaan harus disertai keterlibatan untuk mengubahnya, agar kekecewaan tidak berkembang menjadi sikap apatis.

Di era digital banyak pemuda terjebak judi online. Keinginan memperbaiki kehidupan harus kita dukung. Tetapi kekayaan instan yang dijanjikan perjudian merupakan jebakan. Telepon genggam semestinya menjadi alat belajar, mencari pasar, membangun jejaring, dan menghasilkan karya. Jangan biarkan teknologi yang membuka kesempatan justru menyedot uang, perhatian, serta keberanian untuk membangun penghidupan melalui pekerjaan yang nyata.

Karena itu, saya mengajak pemuda menerjemahkan semangat Sumpah Pemuda menjadi disiplin belajar, keberanian berusaha, inovasi, dan kolaborasi. Bangun usaha pangan lokal, teknologi tepat guna, industri kreatif, dan layanan masyarakat. Bergabunglah dalam penanganan bencana, pendidikan, serta pelestarian lingkungan. Persatuan tumbuh ketika keterampilan berbeda dipertemukan untuk menyelesaikan persoalan bersama.

Negara wajib menyediakan jalannya: pelatihan yang terhubung dengan pekerjaan, magang bermutu, akses modal yang wajar, pendampingan usaha, dll. Negara wajib menciptakan ekosistem berusaha yang sehat dan adil.

Sumpah Pemuda tahun ini perlu menegaskan tanggung jawab dua arah: pemuda bersungguh-sungguh mengembangkan kemampuan, negara bersungguh-sungguh membuka kesempatan.

Bonus demografi dapat terbuang sia-sia jika jutaan orang kehilangan jalan untuk berkarya. Sebaliknya, generasi yang cerdas, terdidik, sehat, dan mampu bekerja sama akan memperkuat kemandirian Indonesia. Masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas manusia dan kesempatan nyata yang kita bangun sekarang. Inilah pekerjaan kebangsaan yang harus dituntaskan bersama.

Selamat hari Sumpah Pemuda 1928-2026

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *