Petisi Publik Desak Mendikdasmen Abdul Mu’ti Tanggalkan Jabatan Menteri

Saya mengangkat isu ini karena kekhawatiran bahwa Muhammadiyah bisa mengalami koptasi, serupa dengan yang terjadi pada Prahara Muktamar NU, jika elit-elit dalam kabinet juga memegang jabatan strategis dalam organisasi kita. Contohnya, saat ini Mendikdasmen Abdul Mu’ti, yang juga menjabat sebagai SC dan calon Ketua Umum Muhammadiyah.

Posisi Abdul Mu’ti yang merangkap jabatan dapat membuka peluang untuk terjadinya konflik kepentingan. Selama ini, masyarakat telah menyaksikan bagaimana rangkap jabatan dapat mempengaruhi keputusan-keputusan yang seharusnya bebas dari kepentingan pribadi. Kasus-kasus sebelumnya menunjukkan bahwa di saat para elit memiliki kekuasaan di lebih dari satu lembaga, keputusan yang diambil dapat saja tidak selaras dengan prinsip-prinsip organisasi.

Bacaan Lainnya

Data menunjukkan bahwa organisasi yang membiarkan koptasi melalui rangkap jabatan kerap kali mengalami krisis integritas. Sebagai catatan, indeks persepsi korupsi Indonesia pernah menurun akibat lemahnya pengawasan kebijakan-kebijakan yang tidak akuntabel.

Menurut Transparency International, Indonesia memiliki skor CPI yang menurun dari sebelumnya 38 pada 2020 menjadi 37 pada 2021. Ini menjadi catatan penting bagi Muhammadiyah untuk memastikan bahwa nilai-nilai kejujuran dan transparansi tetap terjaga.

Kita memerlukan pemimpin yang fokus dan bisa mengabdi sepenuh hati pada satu lembaga. Saya menuntut Abdul Mu’ti untuk memilih salah satu jabatan demi kepentingan Muhammadiyah. Dengan langkah ini, kita bisa mencegah potensi kolusi dan korupsi dalam organisasi yang kita cintai.

Seperti yang Anda ketahui,
Abdul Mu’ti merupakan Sekum PP Muhammadiyah aktif. Saat yang sama dia diangkat sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) sehingga akibatnya Muhammadiyah serba kikuk untuk menegakkan nahi munkar terhadap banyak isu dan kasus, mulai dari isu perang Iran vs Zionisme hingga kerusakan lingkungan akibat kebakaran hutan.

Kekikukan dan ketidaktegasan itu dapat dipahami akibat konflik kepentingan bagi elit-elit Muhammadiyah yang menjabat sebagai bagian kaki tangan pemerintah. Kalau pun dikeluarkan sikap atas isu publik yang hangat, biasanya menyusul setelah ada tekanan publik, sehingga sifatnya hanya cari aman antara mengakomodasi tuntutan publik sembari mengamankan posisi agar tidak bertentangan dengan pemerintah. Realitas kikuk inilah sejauh ini yang membuat Muhammadiyah kehilangan kredibilitas dan alternatif harapan bagi publik.

Kenyataan semacam ini jelas akibat terbelenggunya sikap merdeka Muhammadiyah oleh elit-elitnya sendiri, misalnya posisi Sekum PP Muhammadiyah yang sekaligus sebagai Mendikdasmen, Abdul Mu’ti. Apalagi sekarang posisinya sebagai Ketua Steering Committee (SC) Muktamar Muhammadiyah ke-49, maka hal itu jelas berkonsekwensi bahaya bagi kemerdekaan sikap Muhammadiyah dan potensi penyalahgunaan wewenang.

Seharusnya apa yang kini telah terjadi pada Muktamar NU yang membawa rusaknya akuntabilitas dan kredibilitas organisasi ulama tersebut oleh karena tumpang tindih kepentingan antara memuluskan kepentingan pribadi guna mempertahankan jabatan politik dengan memanfaatkan ormas maupun klaim demi kepentingan organisasi, sehingga akibatnya kini menjadi prahara yang memilukan sekaligus memalukan, semestinya dapat dijadikan cermin dan iktibar bagi Muhammadiyah agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Sebelum hal semacam itu terjadi pula kepada Muhammadiyah, maka petisi ini mendesak agar Abdul Mu’ti sadar sendiri tidak memanfaatkan rangkap jabatannya sebagai Ketua SC Muktamar sekaligus sebagai Mendikdasmen guna memuluskan ambisinya sebagai calon Ketua Umum PP Muhammadiyah yang akan datang.

Hal tersebut tidak sehat dan kredibel bagi ormas yang mengutamakan anti korupsi ini. Jika pun berambisi sebagai Calon Ketua Umum PP Muhammadiyah, harusnya sejak awal dia tidak merangkap jabatan sebagai Ketua SC sekaligus Mendikdasmen.
Selamatkan Muhammadiyah dari koptasi demi menjaga kejujuran.

Bergabunglah dalam upaya ini! Tanda tangani petisi ini agar suara kita didengar dan integritas Muhammadiyah tetap terjaga.

Ttd
1. Syahrul ED, Warga Muhammadiyah
2. Lanjutkan….

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *