Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin
Lupa daratan adalah keadaan ketika seseorang kehilangan kesadaran akan batas, asal-usul, dan kenyataan dirinya setelah meraih kedudukan, kekayaan, atau pengakuan. Adapun Jumawa berarti angkuh dan merasa diri lebih unggul, sedangkan labirin adalah lorong rumit yang menyulitkan seseorang menemukan jalan keluar. Adapun penyangkalan diri dalam konteks ini ialah keengganan mengakui kekurangan dan kesalahan, disertai kecenderungan membenarkan diri sendiri.
Ada manusia yang berubah bukan karena kehilangan segalanya, melainkan karena merasa telah memiliki segalanya. Ketika pujian mengalir, jabatan meninggi, dan kekuasaan berada dalam genggaman, ia perlahan merasa selalu benar. Kritik dianggap ancaman, nasihat dipandang penghinaan, dan perbedaan pendapat dicurigai sebagai perlawanan.
Kesombongan tidak selalu hadir dalam sikap kasar. Terkadang, ia bersembunyi di balik tutur kata santun dan penampilan bijaksana. Seseorang berbicara tentang kerendahan hati, tetapi sulit menerima koreksi. Ia mengaku terbuka terhadap kritik, tetapi hanya menyukai suara yang membenarkan dirinya.
Yang berbahaya bukanlah kesalahan, sebab setiap manusia dapat keliru. Yang lebih berbahaya ialah kehilangan keberanian untuk mengakuinya. Ia mencari alasan, menyalahkan orang lain, bahkan memusuhi mereka yang mengingatkan. Akhirnya, ia tidak lagi mencari kebenaran, tetapi sibuk mempertahankan citra bahwa dirinya selalu benar.
Secara psikologis, kecenderungan ini dapat berkaitan dengan bias konfirmasi, yakni kebiasaan menerima informasi yang menguatkan keyakinan sendiri dan mengabaikan fakta yang bertentangan. Ketika dikelilingi orang-orang yang hanya menyenangkan hati, seseorang mudah mengira bahwa semua persetujuan adalah bukti kebenaran. Padahal, sebagian orang mungkin hanya memilih diam karena lelah mengingatkan.
Jabatan, ilmu, kekayaan, dan popularitas bukanlah kesalahan. Semuanya dapat menjadi jalan pengabdian jika disertai tanggung jawab dan kerendahan hati. Persoalan muncul ketika keberhasilan membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada sesamanya. Padahal, semakin besar kekuasaan, semakin besar pula tanggung jawab moral yang menyertainya.
Dalam perspektif spiritual, kesombongan membuat manusia lupa bahwa segala yang dimiliki bersifat sementara dan tidak sepenuhnya lahir dari kekuatannya sendiri. Keberhasilan seharusnya menumbuhkan syukur, bukan kesewenang-wenangan, memperluas kepedulian, bukan memperlebar jarak dengan sesama.
Jalan keluarnya adalah keberanian bercermin: mengakui kesalahan, menerima kritik, menghargai perbedaan, dan bersedia meminta maaf. Tanyakan kepada diri sendiri, apakah saya sedang mempertahankan kebenaran atau sekadar mempertahankan harga diri?
Sehingga dengan demikian, manusia tidak menjadi besar karena selalu berada di atas, melainkan karena tetap menghargai orang lain ketika berada di puncak. Jabatan dapat berakhir, kekayaan dapat menyusut, dan pujian dapat menghilang. Yang tersisa ialah karakter dan jejak perlakuan kita terhadap sesama.
Jangan terlalu sibuk meninggikan diri hingga kehilangan kemampuan untuk bercermin. Sebab, orang yang paling jauh tersesat bukan selalu mereka yang kehilangan jalan, melainkan mereka yang merasa tidak mungkin tersesat.
Kerendahan hati bukan kelemahan, melainkan keberanian melihat diri apa adanya. Setinggi apa pun seseorang melangkah, ia tetap membutuhkan kebenaran sebagai penuntun, sesama sebagai saudara, dan hati yang lapang agar tidak kehilangan kemanusiaannya.






