Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin
Ada luka yang tidak lagi menangis, bukan karena telah sembuh, melainkan karena terlalu lama menanggung sakit. Ada hati yang tidak lagi mengeluh, bukan karena tidak terluka, melainkan karena lelah berharap untuk dipahami. Inilah mati rasa: ketika seseorang tetap hadir dalam kehidupan sosial, tersenyum dalam pergaulan, tetapi diam-diam kehilangan kehangatan dalam batinnya.
Mati rasa tidak selalu lahir dari persoalan pribadi. Ia juga dapat tumbuh dari interaksi sosial yang kehilangan empati, silaturahim yang sekadar formalitas, persaudaraan yang dikalahkan kepentingan, serta hubungan kekeluargaan yang retak oleh prasangka, ego, dan komunikasi yang buruk. Kita semakin mudah terhubung, tetapi belum tentu semakin memahami; semakin sering berjumpa, tetapi belum tentu saling peduli.
Dalam perspektif nilai-nilai ilahiyah dan Qurani, manusia tidak sekadar dituntut hidup berdampingan, tetapi juga membangun kehidupan yang dilandasi kasih sayang, keadilan, penghormatan, dan kepedulian. Al-Qur’an mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan dan silaturrahim (QS. Al-Hujurat: 10), menjauhi prasangka serta menggunjing (QS. Al-Hujurat: 12), dan membalas keburukan dengan cara yang terhormat. QS. Fussilat: 34).
Nilai-nilai tersebut menegaskan bahwa harmonisasi sosial tidak cukup dibangun melalui pertemuan seremonial, tetapi harus dirawat melalui ketulusan hati, komunikasi yang santun, kesediaan mendengar, dan keberanian mengakui kesalahan. Silaturahim bukan sekadar berkunjung atau bertukar pesan, melainkan ikhtiar merawat ikatan batin, memulihkan hubungan yang renggang, dan mencegah perbedaan berubah menjadi permusuhan.
Namun, menjaga persaudaraan bukan berarti membenarkan semua perilaku atau membiarkan diri terus disakiti. Kita tetap perlu bersikap tegas terhadap ketidakadilan, tetapi tanpa kehilangan adab, menjaga jarak ketika diperlukan, tetapi tanpa memelihara kebencian. Sebab, kedewasaan spiritual terletak pada kemampuan menjaga martabat diri sekaligus menghormati martabat orang lain.
Karena itu, jangan biarkan kekecewaan mengubah hati menjadi dingin, atau perbedaan menjadikan keluarga dan masyarakat saling menjauh. Mulailah dari hal sederhana, dengan cara menyapa dengan penuh ketulusan, mendengar tanpa menghakimi, meminta maaf tanpa gengsi, memaafkan tanpa merendahkan diri, serta menjalin silaturahim tanpa menunggu siapa yang lebih dahulu membutuhkan.
Sebab, hati yang mati rasa dapat membuat seseorang kehilangan kehangatan hidup, tetapi masyarakat yang kehilangan empati dapat kehilangan arah kemanusiaannya.
Sehingga dengan demikian, maka silaturahim adalah jembatan kasih sayang, persaudaraan adalah amanah, dan keharmonisan sosial adalah tanggung jawab bersama. Mari menjadikan nilai-nilai Rabbani dan Qurani bukan sekadar bacaan di lisan, melainkan akhlak yang nyata dalam pergaulan.
Jangan hanya menjaga hubungan ketika kita membutuhkan seseorang, jagalah hubungan karena setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Sebab, kemuliaan iman tidak hanya terlihat dalam kesalehan pribadi, tetapi juga dalam kesanggupan menghadirkan kedamaian, merawat persaudaraan, dan menjadi rahmat bagi sesama.






