JAKARTA – BELA RAKYAT – Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Mathla’ul Anwar, Dr. KH. Jazuli Juwaini, MA, MM mengapresiasi sikap delegasi Indonesia dan sejumlah negara lainnya yang melakukan walk out saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hendak menyampaikan pidato dalam Sidang ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Kamis (24/9/2026) waktu setempat.
Aksi tersebut, yang dilakukan oleh delegasi Indonesia bersama sejumlah perwakilan negara lainnya, dinilai mencerminkan sikap protes terhadap kekejaman Israel atas rakyat Palestina dan pengabaian prinsip-prinsip kemanusiaan dan hukum internasional oleh negara zionis tersebut.
Jazuli Juwaini, yang juga merupakan Utusan Tetap Parlemen Dunia (IPU) untuk Urusan Timur Tengah, menyatakan bahwa sikap delegasi Indonesia dan negara-negara lainnya memiliki alasan yang sangat rasional dan terang benderang. Menurutnya, persoalan yang dihadapi rakyat Palestina tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab komunitas internasional untuk menegakkan keadilan, melindungi warga sipil, dan menghormati hukum internasional.
“Walk out yang dilakukan delegasi Indonesia dan sejumlah negara lainnya memiliki alasan yang sangat rasional dan terang benderang. Ini bukan sekadar persoalan protokoler atau perbedaan pandangan politik, tetapi bentuk keprihatinan dan penolakan terhadap tindakan yang mengakibatkan penderitaan berkepanjangan bagi rakyat Palestina yang jelas-jelas dilakukan Netanyahu dan Israel,” ujar Jazuli Juwaini.
Menurut Jazuli, terdapat sejumlah alasan mendasar yang menjelaskan mengapa sikap tersebut patut diapresiasi.
*1. PENJAJAHAN DAN PEMBUNUHAN MASSAL RAKYAT PALESTINA*
Jazuli menyoroti pendudukan Israel serta penderitaan rakyat Palestina yang terus berlangsung akibat agresi militer, kekerasan, dan pendudukan Israel dengan dampak kemanusiaan yang meluas.
Ia menegaskan bahwa masyarakat internasional tidak boleh mengabaikan hilangnya nyawa warga sipil, kehancuran tempat tinggal, fasilitas kesehatan, dan infrastruktur penting bagi kehidupan rakyat Palestina.
“Penjajahan dan pembunuhan massal rakyat Palestina hingga detik ini tidak boleh dinormalisasi. Dunia harus berani melihat kenyataan bahwa rakyat Palestina memiliki hak untuk hidup, merdeka, dan mendapatkan perlindungan atas martabat kemanusiaannya,” tegas Jazuli.
Ia juga menekankan pentingnya pertanggungjawaban terhadap setiap dugaan pelanggaran hukum humaniter internasional dan hukum hak asasi manusia yang dilakukan oleh Israel di bawah kepemimpinan Netanyahu.
*2. PENGABAIAN HUKUM INTERNASIONAL DAN RESOLUSI PBB*
Jazuli Juwaini menegaskan dunia tidak boleh abai terhadap pengabaian prinsip-prinsip hukum internasional dan resolusi PBB oleh Israel yang berkaitan dengan persoalan Palestina.
Menurutnya, tatanan internasional tidak akan memiliki kredibilitas apabila ketentuan hukum dan keputusan lembaga internasional diterapkan secara tidak konsisten.
“Bagaimana mungkin dunia berbicara tentang perdamaian, keadilan, dan hak asasi manusia, sementara hukum internasional dan berbagai resolusi PBB terkait Palestina terus diabaikan bahkan dilecehkan Israel. Tidak boleh ada standar ganda dalam penegakan hukum internasional,” ujar Jazuli.
Ia meminta negara-negara dunia untuk memperkuat upaya diplomatik dan hukum dalam memastikan perlindungan rakyat Palestina serta mendorong penghentian kekerasan.
*3. PUTUSAN MAHKAMAH INTERNASIONAL DAN PROSES HUKUM MAHKAMAH PIDANA INTERNASIONAL*
Jazuli juga mengingatkan bahwa langkah-langkah hukum yang telah diambil lembaga peradilan internasional dalam konteks konflik Palestina-Israel menunjukkan pentingnya pertanggungjawaban hukum.
Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) telah mengeluarkan sejumlah putusan dan tindakan sementara berkaitan dengan perkara yang diajukan mengenai situasi di Gaza. Sementara itu, Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC) telah menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu pada 2024 dalam perkara yang menjadi kewenangan lembaga tersebut.
“Putusan Mahkamah Internasional dan surat perintah penangkapan Mahkamah Pidana Internasional tidak boleh dipandang sebelah mata. Lembaga-lembaga peradilan internasional harus dihormati, dan Netanyahu jelas bersalah dalam putusan tersebut,” kata Jazuli.
*STOP HIPOKRISI DAN NORMALISASI KEJAHATAN KEMANUSIAAN*
Jazuli Juwaini menegaskan bahwa masyarakat internasional harus menghentikan sikap hipokrit dalam menyikapi penderitaan rakyat Palestina. Ia menolak segala bentuk normalisasi terhadap tindakan yang diduga merupakan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran hukum internasional.
“Stop bertindak hipokrit dan menormalisasi kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel dan Netanyahu. Bagaimana orang yang menghadapi proses hukum internasional terkait kejahatan serius dapat diberi ruang seolah-olah tidak ada persoalan kemanusiaan dan hukum yang harus dipertanggungjawabkan? Dunia harus konsisten membela kemanusiaan dan menegakkan hukum internasional,” tegasnya.
Jazuli menambahkan bahwa ruang diplomasi internasional seharusnya digunakan untuk mendorong perdamaian yang adil, perlindungan warga sipil, dan penyelesaian konflik yang menghormati hak-hak rakyat Palestina.
Ia mengapresiasi sikap delegasi Indonesia yang ikut menyampaikan pesan politik dan moral melalui aksi walk out tersebut. Menurutnya, langkah itu menunjukkan bahwa persoalan Palestina tetap menjadi perhatian penting dalam forum internasional.
*DORONG KONSISTENSI INDONESIA DALAM MEMBELA PALESTINA*
Sebagai penutup, Jazuli Juwaini berharap pemerintah Indonesia terus mempertahankan komitmen terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina, perlindungan rakyat sipil, dan penegakan hukum internasional.
Ia mendorong agar sikap diplomatik Indonesia di forum internasional diikuti dengan langkah-langkah konkret untuk memperkuat bantuan kemanusiaan, mendukung penghentian kekerasan, dan mendorong terwujudnya keadilan bagi rakyat Palestina.
“Palestina bukan sekadar isu politik luar negeri, tetapi persoalan kemanusiaan dan keadilan yang menjadi tanggung jawab moral masyarakat dunia. Indonesia harus terus berada di barisan perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan Palestina dan perdamaian yang bermartabat,” pungkas Jazuli Juwaini.





