LEBAK – BELA RAKYAT – Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Golkar, Adde Rosi Khoerunnisa, menegaskan bahwa digitalisasi pendidikan harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus memperkecil kesenjangan pendidikan antarsekolah dan antardaerah.
Hal tersebut disampaikan Adde Rosi melalui unggahan di Instagram pribadinya saat menghadiri Workshop Pendidikan bertajuk “Implementasi Digitalisasi Pembelajaran untuk Meningkatkan Kualitas Proses Belajar Mengajar” yang berlangsung di Grand Keisha Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.
Dalam kegiatan tersebut, Adde Rosi berdialog dan menyapa langsung para pendidik, kepala sekolah, serta tenaga kependidikan. Ia menekankan bahwa kehadiran teknologi di ruang kelas tidak boleh menghilangkan posisi guru sebagai aktor utama dalam proses pendidikan.
Menurutnya, teknologi dapat membantu proses pembelajaran, tetapi kemampuan guru dalam memahami kondisi peserta didik tetap tidak dapat digantikan oleh perangkat digital.
“Melihat bagaimana kondisi emosional anak-anak kita, tentu tidak bisa. Yang bisa melakukan itu adalah guru,” ujar Adde Rosi dalam video yang diunggah melalui Instagram pribadinya.
Karena itu, ia mengingatkan agar agenda digitalisasi pendidikan tidak justru menciptakan kesenjangan baru. Infrastruktur dan teknologi harus dibarengi dengan penguatan kapasitas guru serta pemerataan akses agar manfaat digitalisasi dapat dirasakan oleh seluruh peserta didik.
“Jadikan digitalisasi ini adalah alat untuk memperkecil kesenjangan, bukan untuk memperbesar kesenjangan,” tegasnya.
Adde Rosi juga mendorong terbentuknya ekosistem digitalisasi pembelajaran yang dapat dimanfaatkan secara optimal oleh sekolah. Menurutnya, transformasi digital tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat teknologi, tetapi harus memastikan perangkat tersebut benar-benar digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Dalam konteks perkembangan Artificial Intelligence (AI), Adde Rosi mengajak para pendidik untuk tidak takut memanfaatkan teknologi tersebut. Namun, penggunaan AI harus tetap disertai kemampuan berpikir kritis agar teknologi tidak mengambil alih peran manusia dalam proses pendidikan.
“Jangan takut gunakan AI, gunakanlah AI semaksimal mungkin, tapi tetaplah berpikir kritis,” katanya.
Pesan tersebut sejalan dengan perhatian Adde Rosi terhadap penguatan kompetensi guru dalam menghadapi perkembangan teknologi pendidikan. Dalam kegiatan pendidikan di Lebak, ia juga menekankan bahwa guru harus mampu menguasai AI sekaligus mempertahankan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis.
Bagi Adde Rosi, teknologi seharusnya menjadi alat bantu bagi guru, bukan pengganti peran guru. Terlebih dalam pendidikan anak, guru memiliki peran penting untuk membaca karakter, kondisi emosional, perkembangan, serta kebutuhan masing-masing peserta didik.
Selain membahas digitalisasi, Adde Rosi turut menyoroti persoalan kesejahteraan dan status tenaga pendidik. Ia menyampaikan bahwa Komisi X DPR RI terus mengawal kebijakan anggaran pendidikan serta upaya memperkuat kesejahteraan guru.
Ia menyebut pembahasan anggaran Kemendikdasmen untuk 2027 menjadi salah satu ruang perjuangan Komisi X, termasuk berkaitan dengan status guru paruh waktu dan guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
“Bahkan kemarin dalam rapat terakhir kita dengan Pak Menteri di tahun 2027, anggaran tambahan untuk Kemendikdasmen itu yang berjumlah total semua Rp89,1 triliun, di antaranya adalah bagaimana tadi guru paruh waktu menjadi full time dan guru yang P3K diangkat menjadi ASN. Itu perjuangan kami di Komisi X,” ujar Adde Rosi.
Komitmen tersebut menunjukkan bahwa transformasi pendidikan, menurut Adde Rosi, tidak hanya berkaitan dengan teknologi dan perangkat digital. Peningkatan kualitas pendidikan juga harus berjalan bersama dengan penguatan kapasitas serta kesejahteraan tenaga pendidik.
Sebelumnya, Adde Rosi juga pernah menekankan pentingnya penggunaan anggaran pendidikan secara efektif dan tepat sasaran. Ia menyebut kesejahteraan guru sebagai salah satu unsur penting dalam mendorong peningkatan kualitas pendidikan nasional.
Adde Rosi berharap penguatan ekosistem digitalisasi pendidikan dapat dilakukan secara inklusif sehingga sekolah dan guru di berbagai daerah memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkan perkembangan teknologi.
“Makanya, sekali lagi ekosistem digitalisasi ini harus kita bentuk, harus kita optimalkan sehingga ke depan harapan kita Indonesia Emas 2045, SDGs, dan lain sebagainya insya Allah akan tercapai,” pungkasnya.





