Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin
مَنْ حَفَرَ حُفْرَةً وَقَعَ فِيهَا
“Barang siapa menggali lubang, maka ia akan terperosok ke dalamnya.”
Kalimat hikmah ini sederhana, tetapi menyimpan hukum kehidupan yang dalam: setiap perbuatan memiliki akibat. Manusia mungkin dapat menyembunyikan keburukan dari sesamanya, tetapi tidak dari Allah. Karena itu, Al-Qur’an mengingatkan:
وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
“Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Kesadaran inilah yang semakin penting di tengah kehidupan modern. Zaman semakin maju, teknologi semakin canggih, dan manusia semakin mudah terhubung. Namun, kemudahan itu tidak selalu membuat hati semakin dekat. Egoisme, hedonisme, budaya pencitraan, kompetisi, dan kebutuhan akan validasi dapat perlahan mengikis empati, gotong royong, silaturahim, dan persaudaraan. Manusia bisa semakin cerdas menguasai dunia, tetapi justru semakin lemah mengendalikan dirinya.
Ketika kemajuan tidak diimbangi iman, spiritualitas, integritas, dan pendidikan karakter sejak dini, kepentingan pribadi mudah menjadi pusat kehidupan. Yang penting saya menang, saya unggul, saya diakui. Dalam keadaan seperti ini, orang lain mudah dipandang sebagai pesaing, bukan sebagai saudara dan sesama manusia. Padahal Al-Qur’an telah memberikan prinsip yang sangat jelas:
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا
“Jika kamu berbuat baik, berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.”(QS. Al-Isra’: 7)
Dengan demikian, kebaikan tidak pernah benar-benar hilang, dan keburukan tidak pernah benar-benar selesai pada korbannya. Keduanya meninggalkan jejak pada pelakunya. Bahkan Allah menegaskan:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.”(QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Karena itu, jangan pernah menganggap ringan kebohongan, penghinaan, fitnah, pengkhianatan, atau tindakan menjatuhkan orang lain. Sekecil apa pun perbuatan manusia, ia tetap berada dalam pengetahuan dan perhitungan Allah. Bahkan ketika seseorang merasa berhasil menyusun tipu daya, Al-Qur’an mengingatkan:
وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
“Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka. Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”
Maka jangan terlalu cepat merasa menang ketika berhasil menjatuhkan orang lain. Ada keadilan yang bekerja di luar perhitungan manusia. Sebab pada akhirnya:
أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ
“Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?”
Kesadaran itu seharusnya membuat kita berhenti menjadikan keburukan sebagai jalan untuk mencapai tujuan. Sebab:
فَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا
“Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal dengannya.”
Bukan berarti keburukan harus dibalas dengan keburukan, tetapi setiap tindakan memiliki konsekuensi. Kebencian dapat melahirkan kebencian, penghinaan merusak kehormatan, ketidakjujuran menghancurkan kepercayaan. Sebaliknya, kebaikan menumbuhkan kebaikan.
Karena itu, pilihlah jalan yang benar dan tempuhlah dengan konsisten:
مَنْ سَارَ عَلَى الدَّرْبِ وَصَلَ
“Barang siapa berjalan pada jalannya, maka ia akan sampai pada tujuannya.”
Jika jalan yang dipilih adalah egoisme, kesombongan, dan permusuhan, karakter itu pula yang akan tumbuh. Tetapi jika jalan yang ditempuh adalah iman, kejujuran, kepedulian, persaudaraan, dan silaturahim, maka perjalanan itu akan membentuk manusia yang lebih utuh.
Pada akhirnya, hidup bukan sekadar tentang siapa yang menang, siapa yang kalah, siapa yang berhasil menjatuhkan, atau siapa yang berada di atas. Hidup adalah tentang apa yang kita tanam sepanjang perjalanan.
Jangan menggali lubang untuk orang lain. Jangan membangun kemenangan di atas penderitaan sesama. Tanamlah kebaikan, rawatlah persaudaraan, jagalah silaturahim, dan kendalikan ego.
Sebab Allah tidak pernah lengah. Sekecil apa pun yang kita kerjakan akan memiliki makna dan konsekuensi. Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang pada waktunya akan kita tuai.






