Kita Butuh Allah, Bukan Allah yang Butuh Kita

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I

Memahami Hakikat Kehambaan, Ketergantungan kepada Allah, dan Pentingnya Qiyamul Lail di Tengah Kehidupan Modern

Manusia sering merasa dirinya kuat ketika memiliki harta, jabatan, popularitas, ilmu, koneksi, kesehatan, atau kekuasaan. Ketika kehidupan berjalan sesuai keinginan, tidak jarang manusia lupa bahwa di balik seluruh kemampuan yang dimilikinya terdapat satu kenyataan yang tidak mungkin dibantah: kita adalah makhluk yang sepenuhnya membutuhkan Allah SWT.

Kita membutuhkan Allah bukan hanya ketika sedang sakit, kesulitan, kehilangan pekerjaan, menghadapi masalah keluarga, atau sedang berada dalam kesedihan. Kita membutuhkan Allah setiap detik, setiap tarikan napas, bahkan sebelum kita menyadari bahwa kita sedang membutuhkan-Nya.

Sebaliknya, Allah SWT sama sekali tidak membutuhkan manusia. Begitu kenyataannya.

Allah tidak bertambah kemuliaan-Nya karena kita rajin beribadah. Allah tidak berkurang keagungan-Nya karena manusia bermaksiat. Kekuasaan-Nya tidak bertambah karena seluruh manusia taat, dan tidak berkurang sedikit pun apabila seluruh manusia berpaling.

Inilah salah satu hakikat terbesar dalam kehidupan seorang hamba: Allah adalah tempat bergantung, sementara manusia adalah pihak yang bergantung.

Allah Maha Kaya, Manusia Sangat Membutuhkan

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Ayat ini sangat tegas menggambarkan posisi manusia di hadapan Allah.

Manusia membutuhkan makanan, tetapi Allah tidak membutuhkan makanan. Manusia membutuhkan air, tetapi Allah tidak membutuhkan air. Manusia membutuhkan udara untuk bernapas, tetapi Allah tidak membutuhkan udara. Manusia membutuhkan tidur, sedangkan Allah tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur.

Dan, manusia membutuhkan pertolongan, sementara Allah adalah Dzat Yang Mahakuasa memberikan pertolongan. Manusia membutuhkan tempat bergantung, sedangkan Allah adalah tempat seluruh makhluk bergantung.

Allah SWT berfirman:

“Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya. Tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Karena itu, kesadaran sebagai hamba seharusnya melahirkan kerendahan hati. Kita tidak pantas berjalan di muka bumi dengan kesombongan seolah-olah seluruh keberhasilan adalah hasil kekuatan kita sendiri.

Bahkan Kemampuan Kita Beribadah Adalah Karunia Allah

Sering kali seseorang merasa bangga karena telah banyak beribadah. Ia berkata dalam hati, “Saya sudah banyak sedekah.”

“Saya sudah sering tahajud.”

“Saya sudah banyak membaca Al-Qur’an.”

“Saya sudah banyak membantu orang.”

Padahal, jika direnungkan lebih dalam, siapa yang memberikan kesehatan sehingga kita bisa berdiri untuk shalat? Siapa yang memberikan rezeki sehingga kita mampu bersedekah? Siapa yang memberikan waktu sehingga kita dapat membaca Al-Qur’an? Siapa yang memberikan hati sehingga kita mampu mengenal kebaikan?

Bahkan kemampuan kita untuk beribadah pun pada hakikatnya merupakan karunia Allah. Karena itu, semakin banyak amal seseorang, seharusnya semakin rendah hati dirinya.

Bukan semakin merasa tinggi. Bukan semakin mudah merendahkan orang lain. Dan bukan semakin merasa dirinya pasti lebih mulia.

Allah SWT berfirman:

“Dan barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12)

Ibadah kita kembali manfaatnya kepada kita. Allah tidak membutuhkan shalat kita, tetapi kitalah yang membutuhkan shalat.

Kita tidak memberikan ketenangan kepada Allah melalui dzikir kita. Justru hati kitalah yang membutuhkan ketenangan melalui dzikir kepada Allah.

Hadis Qudsi: Allah Tidak Bertambah karena Ketaatan Kita

Dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa Allah berfirman:

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan dapat membahayakan-Ku dan kalian tidak akan dapat memberikan manfaat kepada-Ku.”

Dalam hadis yang sama juga dijelaskan bahwa apabila seluruh manusia dan jin berada dalam ketakwaan yang paling tinggi, hal itu tidak menambah kerajaan Allah sedikit pun.

Sebaliknya, apabila seluruh manusia dan jin berada dalam kedurhakaan, hal itu juga tidak mengurangi kerajaan Allah sedikit pun.

Pesannya sangat dalam. Allah tidak membutuhkan kita. Kitalah yang membutuhkan Allah.

Maka jangan pernah merasa bahwa Allah membutuhkan ibadah kita. Yang membutuhkan shalat adalah kita.

Dan, yang membutuhkan istighfar adalah kita. Yang membutuhkan doa adalah kita. Yang membutuhkan Al-Qur’an adalah kita. Yang membutuhkan sedekah adalah kita. Yang membutuhkan tahajud adalah kita.

Kisah Nabi Ibrahim: Ketergantungan Total kepada Allah

Salah satu contoh luar biasa tentang ketergantungan kepada Allah dapat kita lihat dari kisah Nabi Ibrahim AS.

Ketika Nabi Ibrahim AS menghadapi kaumnya dan menegaskan tauhid, beliau menunjukkan bahwa segala sesuatu yang disembah selain Allah tidak memiliki kekuasaan hakiki.

Allah SWT mengabadikan perkataan Nabi Ibrahim:

“Yang menciptakan aku, maka Dialah yang memberi petunjuk kepadaku. Dan Dialah yang memberiku makan dan minum, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’ara: 78–80)

Perhatikan kalimat Nabi Ibrahim. Beliau tidak menganggap dirinya hebat.

Beliau tidak mengatakan, “Saya bisa menyembuhkan diri saya.”

Beliau mengatakan: “Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”

Inilah tauhid yang melahirkan ketundukan. Manusia boleh berobat. Manusia boleh bekerja. Manusia boleh berusaha. Tetapi hati tetap meyakini bahwa Allah-lah sumber segala pertolongan.

Kisah Nabi Musa: Ketika Jalan Keluar Tampak Mustahil

Kisah Nabi Musa AS juga mengajarkan ketergantungan yang luar biasa kepada Allah. Ketika Nabi Musa dan Bani Israil dikejar Fir’aun, mereka berada dalam keadaan yang secara manusiawi tampak mustahil.

Di depan mereka terdapat laut. Di belakang mereka terdapat pasukan Fir’aun.

Sebagian pengikut Nabi Musa berkata: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.”

Namun Nabi Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syu’ara: 61–62)

Inilah kekuatan orang yang bergantung kepada Allah. Bukan berarti ia tidak melihat masalah.

Ia melihat masalah. Ia mengetahui bahayanya. Ia memahami keterbatasan dirinya.

Tetapi ia tidak menjadikan masalah sebagai sesuatu yang lebih besar daripada Allah. Allah Maha Besar dari segalanya baik di langit dan di bumi.

Kisah Rasulullah SAW di Gua Tsur

Peristiwa hijrah Rasulullah SAW juga memberikan pelajaran yang sangat kuat. Ketika Rasulullah SAW bersama Abu Bakar RA berada di dalam Gua Tsur dan orang-orang Quraisy berada sangat dekat, Abu Bakar RA merasa khawatir.

Rasulullah SAW kemudian berkata: “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)

Kalimat tersebut menggambarkan keyakinan yang luar biasa.

Rasulullah SAW tetap melakukan ikhtiar. Beliau menyusun strategi, memilih perjalanan, menggunakan petunjuk jalan, dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Namun setelah seluruh ikhtiar dilakukan, hati tetap bergantung kepada Allah.

Ini pelajaran penting bagi kehidupan modern: Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha.

Tawakal adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasil kepada Allah. Jangan Sampai Kesibukan Dunia Membuat Kita Lupa kepada Allah

Kehidupan modern memberikan banyak kemudahan. Hari ini manusia dapat berkomunikasi dalam hitungan detik.

Informasi tersedia dalam jumlah yang luar biasa. Transaksi dapat dilakukan melalui telepon genggam.

Pekerjaan dapat dilakukan dari berbagai tempat. Media sosial memungkinkan seseorang dikenal oleh jutaan manusia.

Namun kemajuan teknologi tidak otomatis membuat hati manusia menjadi tenang. Bahkan di tengah kemudahan, banyak orang justru semakin gelisah.

Takut kehilangan pekerjaan. Takut kehilangan uang. Takut tidak dianggap. Takut tertinggal. Takut tidak mendapatkan pengakuan. Takut terhadap masa depan. Takut melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses di media sosial.

Padahal Allah SWT telah mengingatkan:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Teknologi dapat membantu kehidupan manusia, tetapi teknologi tidak dapat menggantikan kebutuhan spiritual manusia.

Uang dapat membeli tempat tidur yang mahal, tetapi tidak selalu mampu membeli tidur yang nyenyak.

Rumah yang besar dapat memberikan kenyamanan, tetapi belum tentu memberikan ketenteraman.

Popularitas dapat membuat seseorang dikenal banyak orang, tetapi belum tentu membuat hatinya merasa dicintai.

Karena ketenangan hakiki berasal dari Allah. Mengapa Kita Harus Banyak Berdoa?

Ada orang yang hanya berdoa ketika menghadapi masalah. Ketika sakit, berdoa. Ketika bangkrut, berdoa. Ketika kehilangan pekerjaan, berdoa. Ketika memiliki persoalan keluarga, berdoa.

Padahal seorang mukmin seharusnya berdoa bukan hanya ketika terdesak. Kita berdoa ketika sehat. Berdoa ketika kaya. Berdoa ketika mendapatkan keberhasilan. Berdoa ketika keluarga bahagia. Berdoa ketika semuanya tampak baik-baik saja.

Karena doa bukan sekadar permintaan. Doa adalah pengakuan bahwa kita adalah hamba dan Allah adalah Rabb kita.

Allah SWT berfirman:

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)

Betapa indahnya ayat ini. Allah justru memerintahkan manusia untuk meminta kepada-Nya.

Jangan Sombong karena Amal

Salah satu bahaya terbesar dalam beribadah adalah munculnya ujub dan riya. Seseorang melakukan amal, lalu merasa dirinya lebih baik daripada orang lain.

Padahal kita tidak pernah tahu bagaimana akhir kehidupan seseorang. Bisa jadi orang yang hari ini terlihat penuh kekurangan justru memiliki kedudukan mulia di sisi Allah karena keikhlasan yang tidak diketahui manusia.

Sebaliknya, bisa jadi seseorang yang amalnya terlihat banyak justru kehilangan pahala karena tercampur kesombongan dan riya.

Karena itu, semakin banyak beramal, seharusnya semakin banyak bersyukur dan semakin takut amal tersebut tidak diterima.

Allah SWT berfirman:

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut…” (QS. Al-Mu’minun: 60)

Para ulama menjelaskan bahwa rasa takut tersebut bukan karena mereka tidak beramal, tetapi karena mereka takut amalnya tidak diterima.

Qiyamul Lail: Saat Seorang Hamba Mendekat kepada Allah

Di antara bentuk penghambaan yang sangat indah adalah qiyamul lail, yaitu menghidupkan malam dengan shalat, doa, dzikir, membaca Al-Qur’an dan ibadah lainnya.

Allah SWT memuji orang-orang yang menghidupkan malam:

“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam; dan pada akhir malam mereka memohon ampunan.” (QS. Adz-Dzariyat: 17–18)

Allah juga berfirman:

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu.” (QS. Al-Isra: 79)

Rasulullah SAW juga bersabda bahwa shalat malam merupakan shalat yang paling utama setelah shalat wajib.

Mengapa qiyamul lail begitu istimewa? Karena pada malam hari, suasana lebih sunyi.

Tidak ada tepuk tangan manusia. Tidak ada kamera. Tidak ada pujian. Tidak ada komentar media sosial.

Tidak ada yang mengetahui kecuali Allah. Di situlah keikhlasan seorang hamba benar-benar diuji.

Sepertiga Malam: Ketika Semua Orang Terlelap

Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pada sepertiga malam terakhir, Allah menyeru hamba-hamba-Nya untuk berdoa dan meminta ampun.

Maknanya bukan bahwa Allah membutuhkan manusia untuk datang kepada-Nya. Justru manusialah yang diberi kesempatan untuk mendekat kepada Allah.

Bayangkan. Ketika dunia tertidur, seorang hamba bangun.

Ia mengambil wudhu. Ia berdiri menghadap kiblat. Ia mengangkat tangan. Ia menangis dalam doa.

Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang memuji. Tetapi ia tahu bahwa Allah melihatnya.

Inilah salah satu bentuk hubungan paling intim antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

Di Era Media Sosial, Jadikan Qiyamul Lail sebagai Ruang Tanpa Publikasi

Kita hidup di zaman ketika hampir semua hal dapat dipublikasikan. Sedekah diposting.

Kegiatan sosial diposting. Perjalanan diposting. Makan diposting. Keberhasilan diposting. Bahkan terkadang ibadah pun ingin diketahui orang lain.

Tidak salah berbagi inspirasi kebaikan. Tetapi seorang muslim harus selalu menjaga hati agar amal tidak berubah menjadi ajang mencari pengakuan.

Karena itu, milikilah amal yang hanya diketahui Allah. Salah satunya adalah qiyamul lail. Bangunlah ketika orang lain tidur.

Shalatlah meskipun tidak ada yang mengetahui. Berdoalah untuk orang tua.

Doakan keluarga. Mohonkan ampunan untuk diri sendiri. Mohonkan kekuatan untuk menghadapi kehidupan.

Dan setelah itu, kembali tidur dengan hati yang lebih tenang.

Ketika Hidup Terasa Berat, Ingatlah Siapa yang Kita Miliki

Ada masa ketika manusia merasa sendirian. Ada masalah yang tidak bisa diceritakan kepada siapa pun. Ada kesedihan yang sulit dijelaskan. Ada doa yang belum kunjung terkabul. Ada usaha yang belum membuahkan hasil. Ada pintu yang terasa tertutup dari segala arah.

Pada saat seperti itu, jangan pernah mengira bahwa Allah meninggalkan kita.

Nabi Ya’qub AS pernah mengalami kesedihan yang begitu dalam karena kehilangan Yusuf AS. Namun beliau tetap mengadu kepada Allah.

Allah mengabadikan perkataannya:

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86)

Ini bukan berarti seorang muslim tidak boleh bercerita kepada manusia. Namun tempat pertama hati bersandar haruslah Allah.

Manusia mungkin tidak memahami kesedihan kita. Tetapi Allah mengetahui seluruh isi hati kita.

Doa yang Tertunda Bukan Berarti Allah Tidak Mendengar

Terkadang kita berdoa: “Ya Allah, kabulkan sekarang.”

Tetapi jawaban belum datang. Lalu kita bertanya: “Kenapa Allah belum memberikan?”

Di sinilah kesabaran dan keyakinan diuji. Seorang hamba tidak mengetahui seluruh hikmah di balik keputusan Allah.

Apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah. Apa yang menurut kita terlambat mungkin justru datang pada waktu yang paling tepat.

Allah SWT berfirman:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Maka jangan berhenti berdoa hanya karena jawaban belum terlihat.Teruslah mengetuk pintu langit.

Teruslah bersujud. Teruslah beristighfar. Teruslah berusaha.

Karena kita tidak pernah tahu kapan Allah membuka jalan yang tidak pernah kita bayangkan.

Kekayaan Sejati Adalah Ketika Hati Tidak Bergantung kepada Selain Allah Memiliki harta bukanlah masalah. Memiliki jabatan bukanlah masalah. Menjadi sukses bukanlah masalah. Menjadi terkenal bukanlah masalah.

Yang menjadi masalah adalah ketika semua itu membuat manusia lupa kepada siapa dirinya harus bergantung.

Harta berada di tangan kita, tetapi jangan sampai berada di hati kita. Jabatan boleh berada di pundak kita, tetapi jangan sampai membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Popularitas boleh datang, tetapi jangan sampai membuat kita lupa bahwa suatu hari semua itu akan ditinggalkan.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kekayaan bukan semata-mata banyaknya harta, melainkan kekayaan jiwa.

Karena orang yang hatinya bergantung kepada Allah akan tetap memiliki ketenangan meskipun dunia tidak selalu berjalan sesuai keinginannya.

Kita Datang ke Dunia Tanpa Membawa Apa-Apa

Coba kita renungkan perjalanan manusia. Kita lahir tanpa membawa harta. Tidak membawa jabatan. Tidak membawa gelar. Tidak membawa pengikut. Tidak membawa popularitas.

Kemudian manusia menjalani kehidupan, mengumpulkan berbagai macam hal. Namun ketika kematian datang, semuanya ditinggalkan.

Rumah ditinggalkan. Kendaraan ditinggalkan. Jabatan ditinggalkan. Rekening ditinggalkan.

Popularitas ditinggalkan. Yang dibawa hanyalah amal.

Allah SWT berfirman:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Maka pertanyaan terpenting bukanlah: “Seberapa terkenal saya?”

Bukan pula: “Seberapa banyak harta saya?”

Tetapi: “Seberapa dekat saya kepada Allah?”

Saatnya Kembali kepada Allah

Jika selama ini kita terlalu sibuk mengejar dunia, mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak.

Jika selama ini kita lebih takut kehilangan manusia daripada kehilangan kedekatan dengan Allah, mari kita perbaiki hati.

Jika selama ini kita hanya mencari Allah ketika sedang membutuhkan sesuatu, mari kita belajar mencintai Allah dalam keadaan lapang maupun sempit.

Dan jika selama ini malam-malam kita habiskan dengan telepon genggam, media sosial, film, percakapan, atau pekerjaan, mari sisihkan sebagian waktu untuk menghadap Allah.

Tidak perlu langsung banyak. Mulailah dari dua rakaat. Bangun perlahan. Berwudhu. Shalat. Baca Al-Qur’an. Perbanyak istighfar.

Sampaikan semua yang ada di hati. Tidak perlu bahasa yang indah. Tidak perlu kalimat yang panjang.

Allah memahami bahkan air mata yang tidak mampu diterjemahkan menjadi kata-kata.

Penutup: Kita yang Membutuhkan Allah

Pada akhirnya, kita harus kembali kepada satu kesadaran sederhana tetapi sangat dalam:

KITA BUTUH ALLAH, BUKAN ALLAH YANG BUTUH KITA.

Allah tidak membutuhkan kita. Tetapi kita membutuhkan Allah dalam setiap detik kehidupan.

Kita membutuhkan Allah ketika membuka mata di pagi hari. Kita membutuhkan Allah ketika melangkahkan kaki. Kita membutuhkan Allah ketika bekerja. Kita membutuhkan Allah ketika menghadapi masalah. Kita membutuhkan Allah ketika mendapatkan keberhasilan. Kita membutuhkan Allah ketika sakit. Kita membutuhkan Allah ketika sehat. Kita membutuhkan Allah ketika hidup.

Dan kita akan tetap membutuhkan Allah ketika kehidupan dunia telah berakhir. Maka jangan tunggu sampai kehilangan sesuatu baru kembali kepada Allah.

Jangan tunggu sakit baru rajin berdoa. Jangan tunggu masalah datang baru mengenal tahajud. Jangan tunggu usia tua baru memperbanyak ibadah.

Datanglah kepada Allah sekarang. Bangunlah di sepertiga malam. Berdirilah dalam qiyamul lail. Letakkan dahi di atas sajadah. Tundukkan kesombongan.

Akui kelemahan. Mintalah pertolongan. Mohonlah ampun.

Dan katakan dengan hati yang penuh keyakinan:

“Ya Allah, aku tidak memiliki apa-apa tanpa-Mu. Aku tidak mampu tanpa pertolongan-Mu. Aku lemah, Engkau Mahakuat. Aku fakir, Engkau Mahakaya. Aku membutuhkan-Mu setiap saat, sedangkan Engkau tidak membutuhkan siapa pun.”

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang selalu bergantung kepada-Nya, ikhlas dalam beribadah, sabar dalam menghadapi ujian, bersyukur ketika mendapatkan nikmat, dan istiqamah menghidupkan malam dengan qiyamul lail.

اللهم أعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

“Ya Allah, bantulah kami untuk senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *