JAKARTA – BELA RAKYAT – Stabilitas nilai tukar rupiah menjadi sorotan dalam uji kelayakan dan kepatutan Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) di Komisi XI DPR RI.
Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Dolfie Othniel Fredric Palit mencecar Calon Deputi Gubernur BI, M. Anwar Bashori, soal strategi konkret menjaga stabilitas rupiah di tengah dinamika ekonomi nasional.
Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Gedung Nusantara I, Senayan, Kamis (27/8/2026), Dolfie menegaskan stabilitas rupiah tidak bisa hanya dilihat dari pergerakan kurs semata.
“Saya ingin tahu model yang bisa Bapak sampaikan kepada kami, bagaimana cara mencapai stabilitas nilai rupiah dengan mempertimbangkan supply-demand, pertumbuhan ekonomi, dan inflasi,” ujar Dolfie.
Menurut politisi Fraksi PDI Perjuangan tersebut, diperlukan kerangka kebijakan yang jelas dan komprehensif agar kebijakan BI mampu menjaga stabilitas moneter tanpa menghambat pertumbuhan.
Menjawab pertanyaan itu, Anwar menjelaskan stabilitas nilai tukar sangat terkait dengan fundamental ekonomi, terutama keseimbangan permintaan dan penawaran.
“Karena ekonomi kita memang defisit, mau tidak mau terjadi struktur demand dan supply, dan pasti lebih banyak demand-nya. Itulah fundamental dalam jangka panjang,” jelas Anwar.
Anwar menyoroti defisit di sektor jasa sebagai pekerjaan rumah besar. Ia mencontohkan tingginya devisa yang keluar akibat perjalanan masyarakat ke luar negeri, termasuk untuk umrah dan haji.
“Kalau kita bicara trade balance masih bisa dikendalikan. Namun kalau kita bicara jasa, saat ini terjadi berduyun-duyun orang umrah, orang haji. Berapa triliun yang keluar dari Indonesia? Pertanyaannya, bagaimana mengompensasi daripada travel jasa itu,” katanya.
Sebagai solusi, Anwar menawarkan penguatan sektor jasa melalui pengembangan pariwisata ramah muslim. Potensi destinasi seperti Bali, menurutnya, bisa dioptimalkan untuk menarik wisatawan Timur Tengah.
Ia juga melihat Malaysia sebagai contoh, yang berhasil menghubungkan pasar Timur Tengah dengan pembiayaan syariah. Strategi tersebut dinilai bisa diadaptasi Indonesia untuk memperbaiki fundamental ekonomi dan menopang stabilitas rupiah.






