Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar
Ada satu kecenderungan yang sering menghinggapi manusia, yakni mengira bahwa yang paling istimewa adalah yang paling langka. Kita mencari doa-doa rahasia, wirid-wirid khusus, dan amalan yang dianggap hanya dimiliki oleh orang-orang pilihan. Padahal, boleh jadi permata paling berharga justru telah berada di bibir kita setiap hari, tetapi nilainya hilang karena kita terlalu terbiasa mengucapkannya.
Kisah Nabi Musa AS mengajarkan pelajaran yang mengguncang cara pandang kita. Sebagai Kalimullah, nabi yang berbicara langsung dengan Allah SWT, beliau pernah memohon, “Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku zikir yang khusus untuk mengingat-Mu.” Namun Allah hanya menjawab, “Ucapkanlah: Laa Ilaaha Illallah.”
Nabi Musa kembali berkata, “Ya Rabb, semua hamba-Mu juga mengucapkannya.” Seolah beliau berharap ada zikir yang lebih istimewa. Tetapi Allah justru memberikan jawaban yang menggetarkan langit dan bumi:
لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَالْأَرَضِينَ السَّبْعَ فِي كِفَّةٍ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فِي كِفَّةٍ، مَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Seandainya tujuh langit dan tujuh bumi diletakkan pada satu daun timbangan, sedangkan kalimat ‘Laa Ilaaha Illallah’ berada pada daun timbangan yang lain, niscaya kalimat itu lebih berat daripada semuanya.”
Betapa luar biasanya. Nabi Musa meminta sesuatu yang eksklusif, tetapi Allah menunjukkan bahwa tidak ada yang lebih agung daripada kalimat tauhid. Kemuliaan di sisi Allah bukan terletak pada sesuatu yang langka, tetapi pada sesuatu yang paling benar.
Laa Ilaaha Illallah bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah deklarasi kemerdekaan jiwa. Kalimat yang memutus segala bentuk penghambaan kepada selain Allah; membebaskan manusia dari perbudakan harta, jabatan, popularitas, rasa takut, bahkan hawa nafsunya sendiri. Selama kalimat ini benar-benar hidup di dalam hati, tidak ada makhluk yang mampu memperbudak seorang mukmin.
Ironisnya, kalimat yang paling agung sering menjadi kalimat yang paling kurang kita hayati. Bibir mengucapkannya setiap hari, tetapi hati masih lebih takut kehilangan dunia daripada kehilangan ridha Allah. Lisan bertahlil, namun harapan masih lebih banyak digantungkan kepada manusia daripada kepada Sang Pencipta.
Rasulullah SAW. bersabda:
أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Zikir yang paling utama adalah Laa Ilaaha Illallah.”
Maka pertanyaan terpenting bukanlah, “Berapa kali kita mengucapkannya?” Melainkan, “Sudahkah kita menjadikannya sebagai arah hidup?” Sudahkah Allah menjadi yang paling kita cintai, paling kita percaya, dan paling kita dahulukan dalam setiap keputusan?
Jangan pernah meremehkan kalimat yang sederhana ini. Di sisi Allah, nilainya lebih berat daripada tujuh langit dan tujuh bumi. Barangkali yang kita butuhkan bukan zikir yang baru, tetapi hati yang baru; bukan lafaz yang berbeda, tetapi jiwa yang benar-benar menghidupkan makna Laa Ilaaha Illallah.
Semoga kalimat tauhid tidak hanya menjadi ucapan di lisan, tetapi menjadi cahaya yang menerangi hati, penuntun langkah dalam kehidupan, pemberat timbangan amal di akhirat, dan menjadi kalimat terakhir yang mengantarkan kita menuju surga Allah SWT. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
# Allahu A’lam Bishawab






