Dalam satu hadits yang panjang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dilukiskan dengan jelas bahwa pegikut awal Nabi sebelum penaklukan Mekkah merupakan golongan masyarakat yang dianggap kelas rendahan, bukan orang-orang kaya dan berpengaruh.
“Bahwa Abdullah bin Abbas mengabarkan padanya bahwa Abu Sufyan bin Harb telah mengabarkan kepadanya; bahwa Heraklius menerima kafilah Quraisy. Mereka sedang mengadakan ekspedisi dagang ke Negeri Syam pada saat berlangsungnya perjanjian antara Nabi Muhammad SAW dengan Abu Sufyan serta orang-orang kafir Quraisy. Saat singgah di Iliya’, mereka menemui Heraklius atas undangannya untuk diajak dialog di majelisnya. Saat itu Heraklius tengah bersama dengan para pembesar-pembesar Negeri Romawi. Heraklius berbicara dengan mereka melalui penerjemah.
Heraklius bertanya, “Siapa di antara kalian yang paling dekat hubungan keluarganya dengan orang yang mengaku sebagai Nabi itu?” Abu Sufyan berkata: Maka aku menjawab, “Akulah yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan dia.”
Menyingkat hadits tersebut, sampailah pada suatu pertanyaan yang bersifat kalkulatif intelijen dari Kaisar Romawi Timur (Bizantium) tersebut yang bernama lengkap
Flavius Heraclius, memerintah (610) hingga (641) Masehi.
Heraklius, “Apakah bapaknya seorang raja?”
Abu Sufyan, “Bukan.”
Herkalius: “Apakah yang mengikuti dia orang-orang yang
terpandang atau orang-orang yang rendah?”
Abu Sufyan, “Bahkan
yang mengikutinya adalah orang-orang yang rendah.”
Kemudian Heraklius menjawab sendiri arti setiap pertanyaannya.
“Aku tanyakan juga kepadamu apakah bapaknya ada yang dari keturunan raja, maka kamu jawab tidak. Aku katakan seandainya bapaknya dari keturunan raja, tentu orang ini sedang menuntut kerajaan bapaknya.”
“Dan aku juga telah bertanya kepadamu, apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang rendah, kamu menjawab orang-orang yang rendah yang mengikutinya. Memang mereka itulah yang menjadi para pengikut Rasul.
Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah bertambah pengikutnya atau berkurang, kamu menjawabnya bertambah. Dan memang begitulah urusan iman hingga menjadi sempurna.” (Lihat: Hadits – Hadits Tazkia https://share.google/w9fys5GofFzkadcHA)
Dari 42 orang yang tercatat sebagai pengikut paling awal dari misi besar Rasulullah untuk mengubah tatanan Mekkah dari gelap (kufr, zulm dan syirk) menjadi terang (beriman dan beradab), ternyata pengikut awal dari Nabi didominasi oleh dua golongan: kaum muda dan kaum miskin. Mari kita amati komposisi anggota pendukung Nabi Muhammad tersebut.
Merujuk standard WHO tentang klasifikasi umur, bahwa (a) Usia Anak adalah dari 0 – 17 tahun, hasilnya diperoleh 12 nama berikut sebagai Kategori Anak pengikut awal Rasulullah Saw:
1. Ali bin Abu Thalib (8 tahun)
2. Ummu Kultsum binti Rasulullah (8 tahun)
3. Fatimah binti Rasulullah (6 tahun)
4. Thalhah bin Ubaidillah (13 tahun)
5. Zubair bin Awwam (12 tahun)
6. Abdullah bin Mas’ud (14 tahun)
7. Sa’ad bin Abi Waqash (17 tahun)
8. Arqam bin Abi Arqam (16 tahun)
9. Abdullah bin Mazh’un (17 tahun)
10. Mas’ud bin Rabi’ah (17 tahun)
11. Zainab binti Rasulullah (12 tahun)
12. Ruqayyah binti Rasulullah (10 tahun)
(b) Sedangkan kategori Usia Pemuda (18 – 65 tahun), hasilnya sebanyak 30 orang. Hanya 4 orang saja yang berusia di atas umur Nabi Muhammad Saw, yaitu istrinya Khadijah, kemudian Ubaidah bin Al-Harits, Yasir bin Amir dan Sumayyah binti Khayyat. Keseluruhan golongan kedua ini ialah:
1. Siti Khadijah (55 tahun)
2. Ubaidah bin Al-Harits (50 tahun)
3. Yasir bin Amir (sekitar 50 tahun)
4. Sumayyah binti Khayyat (sekitar 50 tahun)
5. Abu Bakar Ash Shiddiq (37 tahun)
6. Utsman bin Affan (34 tahun)
7. Abu Hudzaifah bin Utbah (32 tahun)
8. Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad (31 tahun)
9. ‘Ayash bin Rabi’ah (31 tahun)
10. ‘Amir bin Rabi’ah (31 tahun)
11. Na’im bin Abdullah (31 tahun)
12. Ammar bin Yasir (31 tahun)
13. Zaid bin Haritsah (20 tahun)
14. Abdurrahman bin Auf (30 tahun)
15. Bilal bin Rabah (sekitar 30 tahun)
16. Abu Ubaidah bin Jarah (27 tahun)
17. Utsman bin Mazh’un (30 tahun)
18. Qudamah bin Mazhun (19 tahun)
19. Sa’id bin Zaid (< 20 tahun)
20. Khabab bin Al-Art (sekitar 20 tahun)
21. Ja’far bin Abu Thalib (18 tahun)
22. Shuhaib ar-Rumi (< 20 tahun)
23. Thulaib bin Umair (sekitar 20 tahun)
24. Saib bin Mazhun (sekitar 20 tahun)
25. Amir bin Fuhairah (23 tahun)
26. Mush’ab bin Umair (24 tahun)
27. Miqdad bin Al-Aswad (24 tahun)
28. Abdullah bin Jahsy (25 tahun)
29. Utbah bin Ghazwan (27 tahun)
30. Fatimah binti Khatab (20 tahun)
Rasulullah sendiri saat itu berusia 40 tahunan. Sedikit di bawah beliau adalah Abu Bakar (37 tahun). Selainnya merupakan usia muda dan produktif dalam keadaan fisik yang fit. Rata-rata dalam rentang usia 18 – 35 tahun.
Menurut sumber lain, pengikut-pengikut Rasulullah tersebut dibagi menjadi empat golongan: golongan laki-laki dewasa (tua), golongan kaum muda, golongan wanita, dan golongan anak-anak.
Golongan Lak-laki Dewasa
Pada awal masa kenabian hingga periode dakwah sembunyi-sembunyi,
tercatat ada 10 orang sahabat berusia di atas 30 tahun yang masuk Islam. Mereka adalah:
• Abu Bakar Ash Shiddiq (37 tahun)
• Ubaidah bin Al-Harits (50 tahun)
• Yasir bin Amir (sekitar 50 tahun)
• Utsman bin Affan (34 tahun)
• Abu Hudzaifah bin Utbah (32 tahun)
• Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad (31 tahun)
• ‘Ayash bin Rabi’ah (31 tahun)
• ‘Amir bin Rabi’ah (31 tahun)
• Na’im bin Abdullah (31 tahun)
• Ammar bin Yasir (31 tahun)
Golongan Muda
Golongan ini disebut berjumlah 21 orang dengan rentang usia antara 15-30 tahun. Mereka adalah:
• Zaid bin Haritsah (20 tahun)
• Abdurrahman bin Auf (30 tahun)
• Sa’ad bin Abi Waqash (17 tahun)
• Bilal bin Rabah (sekitar 30 tahun)
• Abu Ubaidah bin Jarah (27 tahun)
• Arqam bin Abi Arqam (16 tahun)
• Utsman bin Mazhun (30 tahun)
• Qudamah bin Mazhun (19 tahun)
• Abdullah bin Mazhun (17 tahun)
• Sa’id bin Zaid (< 20 tahun)
• Khabab bin Al-Art (sekitar 20 tahun)
• Mas’ud bin Rabi’ah (17 tahun)
• Ja’far bin Abu Thalib (18 tahun)
• Shuhaib ar-Rumi (< 20 tahun)
• Thulaib bin Umair (sekitar 20 tahun)
• Saib bin Mazhun (sekitar 20 tahun)
• Amir bin Fuhairah (23 tahun)
• Mush’ab bin Umair (24 tahun)
• Miqdad bin Al-Aswad (24 tahun)
• Abdullah bin Jahsy (25 tahun)
• Utbah bin Ghazwan (27 tahun)
Golongan Wanita
Golongan ini 7 orang sahabiyat, yakni sebagai berikut:
• Khadijah (55 tahun)
• Zainab binti Rasulullah (12 tahun)
• Ruqayyah binti Rasulullah (10 tahun)
• Ummu Kultsum binti Rasulullah (8 tahun)
• Fatimah binti Rasulullah (6 tahun)
• Sumayyah binti Khayyat (sekitar 50 tahun)
• Fatimah binti Khatab (20 tahun)
Golongan Anak-anak
Golongan ini sebanyak 6 orang sahabat dan sahabiyat berusia di bawah 15 tahun yang masuk Islam pada awal masa kenabian hingga periode dakwah bawah tanah. Mereka adalah:
• Ali bin Abu Thalib (8 tahun)
• Ummu Kultsum binti Rasulullah (8 tahun)
• Fatimah binti Rasulullah (6 tahun)
• Thalhah bin Ubaidillah (13 tahun)
• Zubair bin Awwam (12 tahun)
• Abdullah bin Mas’ud (14 tahun)
Dari nama-nama dan usia para sahabat yang pertama-tama masuk Islam ini kita bisa melihat bahwa mayoritas assabiqunal awwalun adalah para pemuda.
Keunggulan Dua Golongan Pendukung Nabi
Sebagaimana yang disebutkan bahwa rata-rata pendukung Nabi merupakan orang-orang dengan latar belakang orang-orang lemah, miskin dan tertindas, bahkan ada yang budak.
Kekhasan karakter dari orang dengan keterbatasan ekonomi sering kali cakap mengembangkan mental bertahan hidup yang sangat kuat. Mereka tangguh, kreatif dalam mengelola sumber daya minimal, dan terbiasa beradaptasi dengan cepat terhadap krisis. Namun, pola pikir ini umumnya berfokus pada “bertahan hari ini”, bukan “bertumbuh untuk masa depan”.
Di lain pihak, keunggulan dari pengikut Nabi yang kedua, yaitu dari golongan anak-anak muda. Karakteristik dari usia anak-anak muda yaitu keberanian menghadapi ketidakpastian dan tantangan.
Masa muda sering disebut sebagai masa badai dan tekanan (storm and stress) karena fase ini dipenuhi dengan pergolakan emosional, konflik, dan pencarian identitas. Hal ini didorong oleh perubahan hormon, fisik, dan sosial yang sangat cepat pada diri seorang anak muda.
Bagi anak muda, petualangan jiwa adalah pencarian jati diri, pembebasan dari zona nyaman, dan keberanian mengambil risiko. Dorongan ini hadir karena keinginan untuk menaklukkan tantangan dan menemukan kebahagiaan melalui pengalaman baru yang mendalam.
Petualangan jiwa pada usia muda membentuk karakter spesifik:
• Pola pikir pembelajar: Selalu penasaran dan memandang dunia sebagai ruang untuk bertumbuh.
• Berani mengambil risiko: Tidak takut gagal, serta senang mengeksplorasi budaya atau ide baru.
• Mandiri: Terbiasa menghadapi masalah dan memecahkannya sendiri.
• Berjiwa bebas: Terbuka terhadap berbagai pengalaman hidup yang membentuk ketahanan mental.
Dapat dibayangkan, Rasulullah Muhammad yang tenang, terpercaya, akurat, optimis dan teguh pendirian, bertemu dan bersatu dengan orang-orang dengan jiwa muda yang bergolak tidak puas dengan keadaan ditambah orang-orang yang terbiasa tangguh menghadapi penderitaan.
Itulah kualitas basis pendukung yang diperoleh Nabi Muhammad Saw dari kalangan muda dan orang-orang miskin dan tertindas.
Hal ini menjadi pelajaran bagi para organisator bahwa kedua basis di atas merupakan pendukung yang dapat diandalkan dalam mengubah tatanan dan keadaan.
Oleh: Syahrul E Dasopang, Penulis Buku Penuntun Jalan Kaum Miskin*






