Menjadi Tuan Rumah bagi Hati di Era Serba Instan

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI /F-PKS / Kalimantan Selatan I

“Dalam rumah hati, kegembiraan dan kesedihan datang dan pergi. Tugas kita adalah menjadi tuan rumah yang bijak, tidak membiarkan satu pun mengambil alih kendali.”

— Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali mengibaratkan hati sebagai sebuah rumah. Rumah itu tidak pernah sepi dari tamu. Ada tamu bernama kegembiraan, ada pula tamu bernama kesedihan. Keduanya datang silih berganti tanpa meminta izin. Namun, Al-Ghazali mengingatkan bahwa kita bukanlah tamu di rumah itu. Kitalah pemilik rumah. Maka, jangan sampai tamu justru menguasai rumah, sementara sang pemilik kehilangan kendali.

Pesan ini sangat relevan pada zaman sekarang, ketika kehidupan berjalan begitu cepat. Era digital membuat manusia terbiasa dengan segala sesuatu yang instan. Informasi datang dalam hitungan detik, pujian dan cacian tersebar dalam hitungan menit, sementara kebahagiaan sering diukur dari jumlah “like”, “view”, dan “followers”. Akibatnya, hati menjadi sangat mudah terombang-ambing oleh keadaan.

Al-Qur’an telah memberikan panduan agar manusia tidak larut dalam dua keadaan yang berlebihan. Allah SWT berfirman:

“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 23)

Ayat ini bukan melarang manusia bersedih atau bergembira. Islam mengakui bahwa keduanya adalah fitrah. Yang dilarang adalah berlebihan hingga kehilangan keseimbangan. Kesedihan yang berlarut dapat berubah menjadi putus asa, sementara kegembiraan yang melampaui batas dapat melahirkan kesombongan.

Rasulullah SAW sendiri memberikan teladan keseimbangan emosional. Ketika putra beliau, Ibrahim, wafat, air mata beliau menetes. Namun beliau bersabda:

“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati ini bersedih, tetapi kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak menolak emosinya, tetapi juga tidak diperbudak olehnya. Kesedihan diakui, namun tetap dikendalikan oleh keimanan.

Dalam sejarah Islam, kita melihat keteguhan luar biasa dari Abu Bakar Ash-Shiddiq. Saat Rasulullah SAW wafat, banyak sahabat tidak mampu menerima kenyataan. Umar bin Khattab bahkan sempat menolak kabar tersebut. Namun Abu Bakar berdiri dengan tenang dan berkata:

“Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Barang siapa menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.”

Kemudian beliau membaca firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 144.

Peristiwa ini menjadi pelajaran besar tentang kepemimpinan hati. Abu Bakar tidak menghilangkan kesedihan, tetapi beliau tidak membiarkan kesedihan melumpuhkan akal dan tanggung jawab.

Sayangnya, di era media sosial saat ini, banyak orang justru menyerahkan kunci rumah hatinya kepada orang lain. Sebuah komentar negatif mampu merusak suasana hati sepanjang hari. Sebuah unggahan orang lain membuat iri dan merasa hidup sendiri tidak berarti. Sebaliknya, pujian yang berlebihan membuat seseorang lupa diri dan haus akan validasi.

Fenomena ini melahirkan apa yang disebut sebagai budaya “dopamine instan”. Notifikasi menjadi sumber kebahagiaan, sedangkan sepinya respons dianggap sebagai kegagalan. Padahal hati yang sehat tidak boleh bergantung pada sesuatu yang sangat mudah berubah.

Imam Al-Ghazali sejak berabad-abad lalu telah mengingatkan bahwa penyakit hati lebih berbahaya daripada penyakit jasmani. Sebab hati yang sakit akan memengaruhi seluruh cara manusia memandang kehidupan.

Karena itu, Islam mengajarkan latihan pengendalian hati melalui dzikir, shalat, sabar, syukur, dan tafakur. Allah SWT berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketenangan bukan berasal dari dunia yang selalu berubah, melainkan dari hubungan yang kokoh dengan Allah Yang Maha Tetap.

Menjadi tuan rumah bagi hati berarti menyambut setiap perasaan dengan kesadaran. Saat bahagia datang, kita bersyukur tanpa sombong. Saat sedih datang, kita bersabar tanpa putus asa. Saat marah datang, kita menahannya. Saat takut datang, kita bertawakal. Semua emosi dipersilakan singgah, tetapi tidak diberi hak untuk menjadi penguasa.

Pada akhirnya, kehidupan bukanlah tentang menghindari kesedihan ataupun mengejar kegembiraan tanpa henti. Kehidupan adalah perjalanan mendidik hati agar tetap berada di jalan yang lurus, apa pun musim yang sedang dilewati.

Pesan Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa hati ibarat rumah yang akan selalu didatangi berbagai tamu. Kegembiraan akan datang, lalu pergi. Kesedihan pun demikian. Yang menentukan kualitas hidup bukanlah tamu yang datang, melainkan bagaimana sang pemilik rumah menyambut dan memperlakukannya.

Semoga kita menjadi pribadi yang mampu menjaga hati tetap tenang di tengah hiruk-pikuk dunia digital, tidak larut oleh kesedihan, tidak mabuk oleh kegembiraan, dan selalu menempatkan Allah sebagai pusat ketenangan hidup.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *