1 MUHARRAM 1448 H: Kita Sedang Berhijrah atau Hanya Berpindah Kalender?

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar

Tahun baru Islam sesungguhnya bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, melainkan pergantian cara pandang dalam menjalani kehidupan. Muharram datang bukan hanya untuk mengingatkan bahwa usia bertambah, tetapi juga untuk mempertanyakan apakah kualitas diri ikut bertumbuh. Sebab tidak sedikit manusia yang bertambah tua, tetapi tidak bertambah bijaksana, bertambah pengalaman, tetapi tidak bertambah kesadaran, bertambah usia, tetapi tidak bertambah manfaat bagi sesama.

Hijrah yang diwariskan Rasulullah SAW. bukan hanya perpindahan tempat, melainkan perpindahan mentalitas. Hijrah dari kelemahan menuju kekuatan, dari keputusasaan menuju harapan, dari keluhan menuju ikhtiar, dan dari menjadi bagian masalah menuju bagian dari solusi.

Di tengah dunia yang dipenuhi ketidakpastian, krisis moral, polarisasi sosial, dan persaingan yang semakin keras, umat Islam tidak boleh tumbuh menjadi generasi yang gemar menyalahkan keadaan. Sejarah tidak pernah diubah oleh mereka yang sibuk mengeluh, tetapi oleh mereka yang berani memperbaiki diri dan menghadirkan manfaat bagi lingkungannya.

Allah Swt. berfirman:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman.”
(QS. Ali Imran: 139)

Ayat ini bukan sekadar penghiburan, tetapi suntikan energi peradaban. Seorang mukmin tidak dibangun oleh mental menyerah, tetapi oleh keyakinan bahwa setiap kesulitan selalu menyimpan peluang untuk bangkit.

Muharram mengajarkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari keberanian mengambil langkah kecil. Karena itu, jangan menunggu menjadi tokoh besar untuk berbuat baik. Jadilah cahaya sekecil apa pun di tempat kita berada. Sebab bangsa yang kuat lahir dari pribadi-pribadi yang kuat, dan masyarakat yang bermartabat lahir dari individu-individu yang berakhlak.

Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata:
لَيْسَ الْإِيمَانُ بِالتَّمَنِّي وَلَا بِالتَّحَلِّي، وَلَكِنْ مَا وَقَرَ فِي الْقَلْبِ وَصَدَّقَهُ الْعَمَلُ
“Iman bukanlah angan-angan dan bukan pula sekadar penampilan, tetapi sesuatu yang tertanam dalam hati dan dibuktikan oleh amal.”

Karena itu, ukuran keberhasilan Muharram bukanlah seberapa meriah peringatannya, melainkan seberapa nyata perubahan yang dihasilkannya.

Kita membutuhkan generasi yang kuat dalam ilmu tetapi santun dalam akhlak. Tegas dalam prinsip tetapi lembut dalam sikap. Kritis dalam berpikir tetapi bijak dalam bertindak. Berani memperjuangkan kebenaran tanpa menebar kebencian. Mampu menghadirkan solusi tanpa harus menjatuhkan orang lain. Sebab kemenangan yang dibangun di atas permusuhan sering kali melahirkan luka baru, sedangkan kemenangan yang dibangun di atas kebijaksanaan akan melahirkan kemaslahatan yang lebih luas.

Ali bin Abi Thalib RA. pernah mengingatkan:
كُنْ فِي الْفِتْنَةِ كَابْنِ اللَّبُونِ، لَا ظَهْرٌ فَيُرْكَبُ وَلَا ضَرْعٌ فَيُحْلَبُ
“Di tengah fitnah dan konflik, jadilah seperti anak unta yang belum cukup besar untuk ditunggangi dan belum memiliki susu untuk diperah.”

Nasihat ini mengajarkan kebijaksanaan agar tidak mudah menjadi alat kepentingan yang merugikan umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Memasuki 1 Muharram 1448 H, mari berhijrah dari budaya saling menyalahkan menuju budaya saling menguatkan. Dari budaya kebencian menuju budaya persaudaraan. Dari budaya pesimisme menuju budaya optimisme. Dari budaya konsumtif menuju budaya produktif. Dari sekadar menjadi penonton sejarah menuju pelaku perubahan sejarah.

Karena sesungguhnya, umat terbaik bukanlah umat yang paling banyak berbicara tentang perubahan, tetapi umat yang paling banyak menghadirkan perubahan itu dengan akhlak, ilmu, dan keteladanan.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ هِجْرَتَنَا هِجْرَةً إِلَى الْخَيْرِ، وَاجْعَلْنَا مِفْتَاحًا لِلصَّلَاحِ وَمِغْلَاقًا لِلشَّرِّ
“Ya Allah, jadikan hijrah kami sebagai hijrah menuju kebaikan, serta jadikan kami pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan.”

#Wallahu A’lam Bishawab

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *