Saudaraku Seiman, Mari Bangun di Sepertiga Malam dan Pilih Jalan Menuju Surga

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI /F-PKS / Kalimantan Selatan I

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Bacaan Lainnya

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb semesta alam. Dialah yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji siapa di antara hamba-hamba-Nya yang paling baik amalnya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Saudaraku seiman yang dirahmati Allah,

Setiap hari kita bangun dari tidur, bekerja, mencari nafkah, berinteraksi dengan manusia, dan mengejar berbagai urusan dunia. Namun pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: untuk apa semua ini? Ke manakah tujuan akhir perjalanan hidup kita?

Setiap manusia sesungguhnya sedang berjalan menuju satu tujuan yang pasti, yaitu kematian. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindarinya. Allah SWT berfirman:

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)

Kematian bukanlah akhir dari segalanya. Ia hanyalah pintu gerbang menuju kehidupan yang sesungguhnya, yaitu kehidupan akhirat yang kekal abadi. Setelah kematian, manusia akan dibangkitkan, dikumpulkan di Padang Mahsyar, dihisab seluruh amal perbuatannya, kemudian ditentukan tempat tinggalnya yang abadi: Surga atau Neraka.

Karena itulah sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari)

Seorang musafir tentu tidak akan membangun rumah megah di tempat persinggahannya. Ia akan fokus mempersiapkan bekal menuju tujuan akhirnya. Begitu pula seorang mukmin. Dunia bukan tujuan, melainkan jalan menuju akhirat.

Hanya Ada Dua Pilihan

Jika direnungkan secara mendalam, sesungguhnya pilihan hidup manusia sangat sederhana.

Tidak ada pilihan ketiga. Tidak ada wilayah netral. Tidak ada tempat persinggahan abadi selain dua tempat yang telah Allah siapkan. Surga atau Neraka.

Allah SWT berfirman:

“Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka yang menyala-nyala.” (QS. Asy-Syura: 7)

Pilihan menuju keduanya juga jelas. Jalan menuju surga adalah keimanan, ketaatan, kesabaran, ibadah, kejujuran, sedekah, menolong sesama, menjaga shalat, berbakti kepada orang tua, dan menjauhi maksiat.

Sedangkan jalan menuju neraka adalah kekufuran, kemunafikan, kezaliman, kesombongan, kemaksiatan, meninggalkan shalat, memakan harta haram, dan mengikuti hawa nafsu tanpa batas.

Maka pertanyaannya bukanlah apakah surga dan neraka itu ada.

Pertanyaannya adalah: Hari ini, jalan mana yang sedang kita tempuh?

Surga Dikelilingi Kesulitan, Neraka Dikelilingi Kesenangan

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat.” (HR. Muslim)

Hadits ini merupakan salah satu hadits paling dalam maknanya. Mengapa banyak orang sulit bangun shalat Subuh? Karena tidur terasa lebih nikmat.

Mengapa banyak orang berat mengeluarkan sedekah? Karena harta terasa sangat dicintai.

Mengapa banyak orang enggan menuntut ilmu agama? Karena hiburan terasa lebih menyenangkan.

Mengapa banyak orang sulit menjaga pandangan? Karena hawa nafsu selalu menggoda. Inilah pagar-pagar surga.

Sedangkan jalan menuju neraka sering kali tampak indah. Korupsi terlihat menghasilkan kekayaan cepat. Zina terlihat menyenangkan.

Sementara ghibah terasa menghibur. Riba terlihat menguntungkan. Pamer kekayaan terlihat membanggakan.

Padahal semua itu hanyalah jebakan yang tampak indah di permukaan namun menghancurkan di akhirnya.

Ibarat seseorang yang berdiri di puncak gunung, untuk mencapai puncak diperlukan perjuangan yang berat. Namun untuk jatuh ke jurang cukup dengan melangkahkan kaki sedikit saja. Begitulah surga dan neraka.

Kisah Malaikat Jibril Melihat Surga dan Neraka

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi disebutkan bahwa ketika Allah menciptakan surga, Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk melihatnya.

Setelah melihat keindahan surga, Jibril berkata:

“Demi kemuliaan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengarnya kecuali pasti ingin memasukinya.”

Lalu Allah mengelilingi surga dengan berbagai kesulitan dan ketaatan. Jibril kembali melihatnya dan berkata:

“Aku khawatir tidak ada seorang pun yang mampu memasukinya.”

Kemudian Allah memperlihatkan neraka kepada Jibril.

Setelah melihat dahsyatnya azab neraka, Jibril berkata: “Tidak ada seorang pun yang mendengarnya lalu ingin memasukinya.”

Lalu Allah menghiasi jalan menuju neraka dengan berbagai syahwat dan kesenangan. Setelah melihatnya kembali, Jibril berkata: “Aku khawatir tidak ada seorang pun yang selamat darinya.”

Betapa relevan hadits ini dengan kehidupan kita hari ini. Dunia modern menawarkan berbagai kemudahan dan hiburan tanpa batas. Dalam genggaman tangan melalui telepon pintar, seseorang bisa mengakses ilmu atau dosa, pahala atau maksiat, surga atau neraka.

Teknologi itu netral. Yang menentukan adalah penggunanya.

Penyakit Zaman Modern

Imam Al-Ghazali rahimahullah pernah mengingatkan bahwa manusia akan menghadapi zaman di mana semangat ibadah melemah dan kecintaan kepada dunia semakin besar.

Jika Al-Ghazali hidup pada abad ke-11, maka apa yang beliau khawatirkan telah nyata pada zaman kita sekarang.

Hari ini manusia memiliki kendaraan lebih cepat, komunikasi lebih mudah, informasi lebih banyak, tetapi ketenangan jiwa justru semakin sulit ditemukan.

Banyak orang mampu menghabiskan tiga jam menonton video. Namun berat menghabiskan lima menit membaca Al-Qur’an.

Banyak orang rela begadang demi hiburan. Namun sulit bangun untuk Tahajud. Banyak yang hafal jadwal pertandingan olahraga. Namun tidak hafal jadwal shalat.

Banyak yang mengetahui harga saham. Namun tidak mengetahui kapan terakhir menangis dalam sujud kepada Allah. Inilah penyakit terbesar zaman ini: sibuk dengan dunia hingga melupakan akhirat.

Keutamaan Shalat Tahajud

Karena itulah para ulama selalu mengajak umat Islam untuk menghidupkan malam dengan Tahajud.

Allah SWT berfirman:

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat Tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79)

Tahajud adalah ibadah orang-orang pilihan. Saat manusia terlelap dalam tidur, para pencinta Allah bangun menghadap Rabb mereka.

Mereka menangis. Mereka memohon ampun. Mereka mengadukan segala kesulitan hidupnya. Mereka memohon surga dan perlindungan dari neraka.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang telah dijamin masuk surga tetap melaksanakan Tahajud hingga kedua kaki beliau bengkak.

Mengapa? Karena beliau mengetahui nilai sebuah kedekatan dengan Allah.

Dalam hadits disebutkan:

“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir seraya berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri, siapa yang memohon ampun kepada-Ku akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa ruginya seorang hamba yang melewatkan kesempatan luar biasa ini setiap malam.

Persiapkan Diri Seolah Ajal Akan Datang Esok Hari

Para sahabat Rasulullah hidup dengan kesadaran bahwa kematian bisa datang kapan saja.

Umar bin Khattab berkata: “Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab.”

Kesadaran akan kematian bukan membuat seseorang pesimis. Justru membuat hidupnya lebih bermakna.

Orang yang mengingat kematian akan lebih mudah memaafkan. Lebih ringan bersedekah. Lebih semangat beribadah. Lebih berhati-hati dalam berbicara. Lebih menjaga amanah. Sebab ia tahu semua akan dipertanggungjawabkan.

Allah SWT berfirman:

“Barang siapa mengerjakan kebaikan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8)

Tidak ada amal yang hilang. Tidak ada air mata yang sia-sia. Tidak ada sedekah yang terlupakan. Tidak ada dosa yang tidak tercatat. Semuanya tersimpan rapi di sisi Allah.

Cahaya Hidayah Adalah Karunia Terbesar

Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 22:

“Maka apakah orang yang Allah bukakan hatinya untuk menerima Islam lalu ia memperoleh cahaya dari Tuhannya sama dengan orang yang membatu hatinya?”

Hidayah adalah karunia terbesar. Bukan harta. Bukan jabatan. Bukan popularitas. Berapa banyak orang kaya yang tidak tenang. Berapa banyak pejabat yang gelisah. Berapa banyak selebritas yang hidupnya kosong.

Sebaliknya ada orang sederhana yang hidupnya penuh ketenangan karena hatinya dipenuhi cahaya iman.

Karena itu jangan pernah berhenti berdoa:

“Ya Muqallibal Qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik.”

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Penutup: Tentukan Pilihan Kita Hari Ini

Saudaraku yang dirahmati Allah. Kita tidak tahu apakah masih hidup esok pagi. Kita tidak tahu apakah masih sempat bertemu Ramadhan berikutnya.

Kita tidak tahu kapan malaikat maut datang menjemput. Namun yang kita tahu adalah bahwa surga itu nyata. Neraka juga nyata. Hisab itu nyata. Mizan itu nyata.

Shirat itu nyata. Dan pertemuan dengan Allah adalah nyata.

Karena itu mari mulai malam ini memperbaiki shalat kita. Memperbanyak istighfar. Memperbanyak sedekah. Membaca Al-Qur’an. Berbakti kepada orang tua. Menjaga lisan. Menghidupkan Tahajud. Menuntut ilmu agama. Menjauhi maksiat.

Sebab sesungguhnya pilihan itu ada di tangan kita. Jika ingin surga, tempuh jalan ketaatan. Jika takut neraka, tinggalkan kemaksiatan. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memperoleh hidayah, istiqamah dalam kebaikan, dimudahkan menghadapi sakaratul maut, dilapangkan kuburnya, diberatkan timbangan amalnya, dan akhirnya dikumpulkan bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di surga Firdaus yang tertinggi.

آمين يا رب العالمين

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *