BEKASI — Derasnya arus urbanisasi dan pertumbuhan kawasan industri di Kabupaten Bekasi kembali mengingatkan publik pada satu persoalan klasik yang kerap diabaikan: sungai yang dipenuhi sampah dan kehilangan martabat ekologisnya. Di tengah situasi tersebut, secercah harapan hadir dari gerakan kolaboratif bertajuk Program Sungai Bersih yang digelar di pintu Puri Nirwana Residence, Cikarang Utara, Rabu (20/5/2026). Kegiatan ini menjadi simbol bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak dapat dibebankan kepada negara semata, melainkan harus lahir dari kesadaran kolektif seluruh elemen masyarakat.
Program yang diinisiasi oleh Sungai Watch tersebut melibatkan berbagai unsur lintas sektor, mulai dari relawan lingkungan, unsur Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi, aparat Tentara Nasional Indonesia melalui Babinsa, hingga jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia melalui Bimaspol. Dengan semangat gotong royong yang menjadi identitas luhur bangsa, para relawan bahu-membahu mengangkat tumpukan sampah yang mengendap di aliran sungai. Pemandangan itu bukan sekadar aksi bersih-bersih, melainkan juga cermin perlawanan terhadap budaya abai yang selama ini perlahan merusak ekosistem air.
Secara hukum, gerakan tersebut sejalan dengan amanat Pasal 28H ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menegaskan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat. Selain itu, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup juga menempatkan masyarakat sebagai subjek penting dalam upaya pelestarian lingkungan. Karena itu, keterlibatan masyarakat dalam menjaga sungai bukan hanya tindakan sosial, melainkan juga bagian dari implementasi konstitusional demi menjaga keberlangsungan hidup generasi mendatang.

Sekretaris Jenderal DPP KITA MUDA, Rizky Meylana Yoanko, menilai kegiatan tersebut sebagai contoh konkret gerakan moral yang patut diapresiasi secara luas. Ia menegaskan bahwa KITA MUDA merupakan organisasi yang konsen bergerak di bidang kemanusiaan, sosial budaya, serta lingkungan hidup, sehingga isu kebersihan sungai dan edukasi masyarakat menjadi bagian penting dari perhatian organisasi dalam membangun kesadaran publik yang berkelanjutan.
“Kami melihat program ini sangat bagus dan memiliki nilai edukasi yang kuat bagi masyarakat. Mereka datang jauh-jauh dari Bali untuk menggerakkan personel dan relawan agar turun langsung peduli terhadap kebersihan sungai. Ini bukan hanya kegiatan simbolik, tetapi bentuk nyata rasa tanggung jawab bersama terhadap lingkungan hidup,” ujar Rizky Meylana Yoanko kepada awak media, Rabu (20/5/2026).
Ia menambahkan, kolaborasi lintas komunitas dan lembaga seperti ini harus menjadi gerakan nasional yang terus diperluas. Menurut Rizky, sungai bukan sekadar aliran air, melainkan urat nadi kehidupan masyarakat yang berkaitan langsung dengan kesehatan, pertanian, hingga ketahanan pangan daerah.
“Besar harapan kami agar ke depan dapat terjalin kolaborasi yang lebih luas untuk mengubah sungai yang kotor menjadi bersih dan kembali memberikan manfaat bagi masyarakat. Kesadaran menjaga lingkungan harus menjadi budaya bersama, bukan hanya ketika ada kegiatan seremonial,” tegasnya.

Lebih jauh, Rizky juga mengingatkan bahwa pencemaran sungai memiliki dampak domino terhadap kehidupan para petani di wilayah hilir, termasuk kawasan Sukatani yang selama ini menggantungkan kebutuhan air dari aliran sungai. Penumpukan sampah dan limbah domestik, menurutnya, dapat memicu pendangkalan, banjir, hingga penurunan kualitas air irigasi yang berimbas langsung pada produktivitas pertanian masyarakat. Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, menjaga sungai berarti menjaga masa depan ekonomi rakyat kecil.
Kegiatan Sungai Bersih di Cikarang Utara itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar aksi sosial. Ia menjelma menjadi pesan moral bahwa peradaban besar selalu lahir dari kepedulian terhadap alamnya sendiri. Ketika tangan-tangan relawan mengangkat sampah dari sungai, sesungguhnya mereka sedang mengangkat kembali kesadaran bangsa agar tidak tenggelam dalam budaya merusak lingkungan. Dari aliran sungai yang dibersihkan bersama, tumbuh harapan bahwa Bekasi dan Indonesia dapat melangkah menuju masa depan yang lebih hijau, sehat, dan bermartabat. Pungkasnya.
(CP/red)






