Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin
Ada luka yang tidak terlihat oleh mata, tetapi diam-diam menghancurkan jiwa manusia dari dalam. Ada kata-kata yang tidak menumpahkan darah, tetapi mampu mematahkan semangat hidup seseorang. Dan ada manusia yang terlihat tenang wajahnya, sementara batinnya hancur karena ucapan orang lain yang terlalu tajam, terlalu kasar, terlalu merendahkan.
Hari ini manusia hidup di zaman yang aneh. Teknologi berkembang begitu cepat, tetapi adab justru berjalan terseok-seok. Informasi bergerak dalam hitungan detik, tetapi kebijaksanaan tertinggal jauh di belakang. Orang semakin mudah berbicara, tetapi semakin sulit memahami. Semakin cepat berkomentar, tetapi semakin lambat merenung. Semakin berani menyerang, tetapi semakin miskin empati.
Di tengah dunia modern yang hiruk-pikuk ini, kekerasan verbal telah berubah menjadi wabah sosial yang menggerogoti peradaban manusia secara perlahan. Ia hadir di rumah-rumah, di tempat kerja, di sekolah, di pasar, di media sosial, bahkan terkadang di tempat-tempat yang seharusnya menjadi ruang menenangkan jiwa. Lidah manusia berubah menjadi senjata. Kalimat berubah menjadi peluru. Dan ucapan yang kasar menjadi racun yang menyebar tanpa disadari.
Betapa sering seseorang dihancurkan bukan oleh pukulan tangan, tetapi oleh kalimat yang meremehkan dirinya. Betapa banyak anak kehilangan rasa percaya diri karena terus dibanding-bandingkan. Betapa banyak perempuan menangis diam-diam karena kata-kata yang merendahkan harga dirinya. Betapa banyak bawahan kehilangan semangat hidup karena dipermalukan di depan umum. Betapa banyak persahabatan runtuh bukan karena pengkhianatan besar, tetapi karena ucapan yang tidak dijaga.
Ironisnya, sebagian manusia justru merasa dirinya hebat ketika berhasil melukai orang lain dengan lisannya. Mereka menganggap sindiran sebagai kecerdasan. Menganggap penghinaan sebagai keberanian. Menganggap bentakan sebagai ketegasan. Bahkan ada yang merasa mulia ketika mampu mempermalukan orang lain di hadapan publik.
Padahal Allah SWT. telah mengingatkan manusia dengan peringatan yang sangat agung:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka. Dan jangan pula perempuan-perempuan merendahkan perempuan lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka. Dan janganlah kamu saling mencela satu sama lain serta jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”(QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat ini seakan sedang berbicara kepada manusia modern hari ini. Sebab dunia sekarang dipenuhi budaya saling menjatuhkan. Orang lebih suka memperolok daripada menghargai. Lebih suka mempermalukan daripada menenangkan. Padahal boleh jadi orang yang direndahkan justru lebih mulia di sisi Allah dibanding orang yang menghina.
Kekerasan verbal sering kali lahir bukan dari kekuatan, tetapi dari kelemahan jiwa yang disembunyikan. Orang yang terlalu sibuk menyerang kadang sedang kalah melawan dirinya sendiri. Mereka haus pengakuan. Haus validasi. Haus pujian. Dan ketika semua itu tidak diperoleh, mereka melampiaskannya melalui ucapan yang menyakitkan.
Inilah penyakit zaman modern:, manusia ingin terlihat benar, tetapi tidak ingin belajar bijaksana. Ingin menang berdebat, tetapi tidak ingin menjaga persaudaraan. Ingin dipandang hebat, tetapi lupa menjaga kemanusiaannya.
Padahal Islam mengajarkan bahwa lisan bukan sekadar alat bicara, melainkan cermin hati dan amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Allah berfirman:
> مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”(QS. Qaf: 18)
Betapa menggetarkan ayat ini. Tidak ada ucapan yang benar-benar hilang. Semua dicatat. Semua direkam. Semua akan dimintai pertanggungjawaban. Bahkan kata yang dianggap “hanya bercanda” bisa berubah menjadi dosa besar ketika melukai hati manusia lain. Rasulullah SAW. bersabda:
> إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang dimurkai Allah, yang ia anggap remeh, namun karena kalimat itu ia terjerumus ke dalam neraka.”
(HR. Bukhari)
Hadits ini menampar kesadaran manusia yang terlalu mudah berbicara tanpa berpikir. Betapa banyak permusuhan panjang bermula dari satu kalimat. Betapa banyak rumah tangga retak karena satu ucapan kasar. Betapa banyak hubungan persaudaraan hancur karena lidah yang tidak dikendalikan.
Hari ini media sosial memperburuk keadaan. Manusia merasa lebih berani ketika bersembunyi di balik layar. Mereka menuduh tanpa tabayyun. Menghakimi tanpa ilmu. Menghina tanpa rasa bersalah. Bahkan terkadang membuka aib orang lain demi mendapatkan perhatian dan sensasi. Padahal Allah SWT. telah mengingatkan:
> وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولًا
“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS. Al-Isra’: 36)
Ayat ini mengajarkan adab besar dalam interaksi sosial, bahwa jangan mudah berbicara tentang sesuatu yang belum jelas. Jangan mudah menuduh. Jangan cepat memvonis. Karena banyak kekerasan verbal lahir dari prasangka dan ego yang tidak terkendali. Abdullah bin Mas‘ud RA berkata:
> وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ شَيْءٌ أَحْوَجُ إِلَى طُولِ سِجْنٍ مِنْ لِسَانٍ
“Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, tidak ada sesuatu di muka bumi yang lebih pantas dipenjara lebih lama daripada lisan.”
Betapa dalam kalimat ini. Sebab sebagian besar kehancuran manusia lahir dari lidah yang terlalu liar. Banyak orang kehilangan sahabat karena lisannya. Kehilangan keluarga karena lisannya. Kehilangan kehormatan karena lisannya. Imam Asy-Syafi’i berkata:
> إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَتَكَلَّمَ فَتَدَبَّرْ، فَإِنْ ظَهَرَ أَنَّهُ لَا ضَرَرَ عَلَيْكَ تَكَلَّمْ، وَإِنْ ظَهَرَ الضَّرَرُ فَلَا تَتَكَلَّمْ
“Jika engkau ingin berbicara, maka renungkanlah terlebih dahulu. Jika jelas tidak ada mudaratnya maka berbicaralah. Namun jika tampak ada mudaratnya, maka jangan berbicara.”
Inilah akhlak yang mulai hilang dari manusia modern. Hari ini orang berbicara terlalu cepat, tetapi berpikir terlalu lambat. Mengetik lebih cepat daripada merenung. Mengomentari lebih cepat daripada memahami.
Padahal kadang diam adalah bentuk kebijaksanaan tertinggi. Rasulullah SAW. bersabda:
> سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ
“Mencaci seorang muslim adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kekufuran.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, kekerasan verbal bukan persoalan sepele. Ia adalah tanda rusaknya akhlak, hilangnya empati, dan menurunnya kualitas ruhani manusia. Ketika lidah sudah tidak lagi dijaga, maka hati perlahan kehilangan cahaya.
Namun sesungguhnya manusia tidak diciptakan untuk saling melukai. Manusia diciptakan untuk saling menguatkan, saling menenangkan, dan saling memuliakan.
Dunia hari ini terlalu penuh dengan orang yang suka menghakimi. Maka jadilah pribadi yang memahami. Dunia terlalu gaduh dengan hinaan. Maka jadilah peneduh. Dunia terlalu penuh dengan kebencian. Maka jadilah pembawa kasih sayang.
Karena manusia yang paling kuat bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling mampu menahan lisannya. Dan manusia yang paling mulia bukan yang pandai mempermalukan orang lain, tetapi yang mampu menjaga kehormatan sesamanya.
Maka sebelum lidahmu melukai orang lain… renungkanlah. Sebelum ucapanmu menghancurkan hati seseorang… tahanlah. Sebab bisa jadi satu kalimat yang keluar dari mulutmu akan terus hidup sebagai luka di hati orang lain sepanjang hidupnya.
Dan sungguh, dunia ini tidak membutuhkan lebih banyak manusia yang gemar menyerang. Dunia ini sedang membutuhkan manusia yang mampu menghadirkan ketenangan, kelembutan, dan kasih sayang di tengah kerasnya kehidupan.
#Wallahu A’lam Bish-Shawab






