(Mengejar Puncak,Tetapi Kehilangan Akar)
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin
Ada langkah yang terdengar gagah di hadapan dunia, tetapi sesungguhnya rapuh di hadapan doa orang tua. Ada keberhasilan yang dielu-elukan, tetapi diam-diam dibayar dengan luka yang tidak pernah mereka ucapkan. Dan ada ambisi yang tampak mulia, namun perlahan menggerus sesuatu yang jauh lebih mulia, yakni hati orang tua kita sendiri.
Di sinilah tragedi itu bermula, bukan pada kegagalan, tetapi pada keberhasilan yang kehilangan arah.
Karena tidak semua yang kita capai adalah kemenangan, jika di dalamnya ada air mata yang jatuh tanpa kita lihat. Tidak semua yang kita bangun adalah masa depan, jika di dalamnya kita meninggalkan mereka yang menjadi asal kehidupan kita.
Lalu, pernahkah kita berhenti sejenak, dan benar-benar jujur pada diri sendiri?. Apakah kita masih ingat, kapan terakhir kali kita duduk di samping mereka tanpa tergesa?. Kapan terakhir kali kita mendengar cerita mereka, tanpa merasa bosan?. Kapan terakhir kali kita memeluk mereka, bukan karena diminta, tetapi karena rindu yang tulus?
Ataukah kita justru lebih akrab dengan dunia daripada dengan mereka yang melahirkan dan membesarkan kita?. Bukankah kita begitu cepat menjawab panggilan orang lain, tetapi lambat ketika ibu dan ayah memanggil?.Bukankah kita begitu sibuk mengejar peluang hingga lupa bahwa doa mereka adalah peluang terbesar dalam hidup kita?
Dan yang lebih menyakitkan, apakah kita sadar bahwa mungkin hari ini adalah kesempatan terakhir, tetapi kita memperlakukannya seolah-olah mereka akan selalu ada?. Allah mengingatkan dengan nada yang begitu lembut, namun mengguncang:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra: 23)
Namun kita sering memilih jalan lain. Kita lebih bangga dengan pencapaian kita daripada menyadari siapa yang diam-diam mendoakan kita tanpa henti. Kita lebih takut kehilangan dunia daripada kehilangan mereka.
Lalu bagaimana jika suatu hari kita ingin berbakti, tetapi semuanya telah terlambat?. Bagaimana jika kita pulang, tetapi rumah itu telah sunyi?. Bagaimana jika kita ingin memeluk, tetapi yang tersisa hanya tanah yang dingin?. Bagaimana jika kita ingin berkata, “Maafkan aku”, tetapi tak ada lagi yang bisa mendengar?
Bukankah itu saat di mana penyesalan tidak lagi memiliki makna?. Kita ingin membahagiakan mereka dengan harta, tetapi mereka sudah tiada. Kita ingin melihat senyum mereka, tetapi senyum itu telah pergi untuk selamanya. Kita ingin membuat mereka bangga, tetapi yang tersisa hanya kenangan yang tidak bisa kita ulang kembali.
Dan di titik itu, kita akan bertanya dengan hati yang hancur: Untuk apa semua ini… jika mereka tidak lagi ada untuk menyaksikannya?. Untuk siapa semua keberhasilan ini… jika mereka tidak lagi bisa merasakannya?. Lebih menyayat lagi… bagaimana jika selama mereka hidup, kita justru sibuk dengan dunia?. Bagaimana jika kita lebih sering bertengkar dengan saudara-saudara kita di hadapan mereka?. Bagaimana jika kita saling menjatuhkan antar saudara demi harta yang tidak seberapa?
Pernahkah kita membayangkan, betapa hancurnya hati seorang ibu dan ayah ketika melihat anak-anaknya saling bermusuhan?. Betapa perihnya hati seorang ibu dan ayah ketika melihat putra-putrinya berebut dunia, tetapi lupa menjaga cinta?. Apakah itu yang mereka harapkan dari kita?. Apakah itu balasan dari pengorbanan yang mereka berikan sejak kita belum mampu berjalan?. Rasulullah SAW.bersabda:
رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”
Maka, masihkah kita merasa ambisi kita lebih penting daripada hati mereka?. Masihkah kita merasa dunia ini layak diperjuangkan jika harus mengorbankan kebahagiaan mereka?. Allah kembali mengingatkan:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang.” (QS. Al-Isra: 24)
Merendahkan diri di hadapan orang tua bukanlah kelemahan. Itulah puncak kemuliaan. Maka sebelum semuanya benar-benar terlambat, sebelum waktu mengambil mereka tanpa bisa kita cegah, sebelum doa itu berhenti mengiringi langkah kita…bertanyalah pada diri sendiri dengan jujur dan dalam: Apakah aku sudah cukup membahagiakan mereka atau justru menyakiti mereka dalam diam?. Apakah kehadiranku membuat mereka tenang atau justru gelisah?. Apakah aku menjadi anak yang mereka banggakan atau yang diam-diam mereka tangisi dalam doa?
Jika hari ini adalah hari terakhir mereka, apakah kita siap menerima kenyataan itu tanpa penyesalan?. Jika jawabannya belum, maka masih ada waktu. Pulanglah… bukan sekadar ke rumah, tetapi ke hati mereka. Dekatlah… sebelum jarak itu menjadi abadi. Cintailah… sebelum cinta itu hanya tersisa dalam kenangan.
Jangan tunggu kehilangan untuk belajar mencintai. Jangan tunggu penyesalan untuk mulai berbakti. Karena pada akhirnya surga yang kita cari begitu jauh ternyata pernah sangat dekat, di bawah kaki mereka yang sering kita abaikan.
#Wallahu A’lam Bish-Shawab






