GIANYAR – Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan daerah pemilihan Bali I Nyoman Parta tampak hadir di tengah kemeriahan lomba burung merpati di Lapangan Gianyar, Bali (26/4/2026) Minggu pagi.
Di bawah langit cerah, ratusan pasang mata mengikuti detik-detik pelepasan merpati yang berlomba kembali ke kandangnya masing-masing, sebuah tradisi yang bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarat makna.
Kehadiran Parta melengkapi jajaran tokoh yang turut hadir, di antaranya Bupati Gianyar Agus Mahayastra, anggota DPRD Bali Gek Diah, anggota DPRD Kabupaten Gianyar Made Ratnadi, serta Sekda Gianyar Ngurah Bem. Para pecinta merpati dara Bali pun memadati arena, membawa burung-burung terbaik mereka untuk berlaga dalam lomba lepas dan beauty contest.
Namun bagi Parta, merpati bukan sekadar hobi. Ia dikenal sebagai sosok yang menyukai burung, dan kedekatan itu membuatnya melihat lebih dalam makna di balik setiap kepakan sayap.
Dalam unggahan di akun media sosialnya, Parta mengaitkan suasana lomba dengan sebuah kisah heroik dari masa perjuangan kemerdekaan—tentang seekor merpati pos yang dikenal sebagai “Letnan Anumerta Merpati Pos”. Kisah itu membawa ingatan pada tahun 1946, saat Indonesia masih berjuang mempertahankan kemerdekaan.
Di tengah situasi genting, seekor merpati menjadi penghubung vital antara pasukan TRI Ronggolawe di wilayah Lamongan dan Bojonegoro dengan Surabaya. Jarak sekitar 120 kilometer ditempuhnya membawa pesan penting. Namun di tengah perjalanan, pihak Belanda yang mencurigai perannya melepaskan tembakan. Sayap kanan burung kecil itu tertembak.
Luka parah tak menghentikannya
Dengan tubuh bersimbah darah, merpati itu tetap terbang. Ia menembus jarak yang tersisa, menahan sakit, hingga akhirnya tiba di tujuan. Pesan penting berhasil disampaikan—dan tepat di hadapan komandannya, burung itu gugur.
Pengorbanannya kemudian dikenang. Ia diberi penghormatan sebagai “Letnan Anumerta”, sebuah gelar yang jarang—bahkan mungkin satu-satunya—diberikan kepada seekor hewan di Indonesia. Jasadnya diawetkan dan disimpan di Museum Brawijaya, menjadi saksi bisu pengabdian tanpa pamrih.
Bagi Parta, kisah itu bukan sekadar sejarah, melainkan pengingat nilai kesetiaan, keberanian, dan pengabdian. Ia menilai lomba merpati seperti yang digelar di Gianyar juga membawa semangat yang sama—tentang ketekunan, naluri pulang, dan ikatan antara manusia dengan alam.
“Merpati bukan hanya indah, tapi juga punya sejarah panjang dalam perjuangan kita. Dari hobi, kita bisa belajar nilai-nilai besar,” tulisnya.
Di tengah riuh tepuk tangan saat merpati-merpati kembali ke pangkuan pemiliknya, cerita tentang burung kecil yang pernah menyelamatkan pesan di masa perang itu seakan hidup kembali—mengingatkan bahwa bahkan makhluk paling sederhana pun bisa menjadi bagian dari sejarah besar bangsa.






