Lebih dari Sekadar Doa: Menghidupkan Ridha dalam Setiap Takdir

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI Dapil Kalsel I dari Fraksi PKS

Ada satu wilayah sunyi dalam diri manusia yang jarang disentuh kata-kata: tempat di mana doa dan kenyataan saling berhadapan. Lisan bisa begitu fasih memohon kebaikan, namun batin belum tentu lapang menerima bentuk kebaikan itu ketika ia datang tidak sesuai harapan. Di sanalah kualitas iman diuji—bukan pada apa yang kita minta, tetapi pada bagaimana kita menyambut apa yang diberikan.

Bacaan Lainnya

Tulisan ini mengajak menelusuri makna ridha—bukan sebagai konsep yang ringan diucapkan, melainkan sebagai sikap batin yang dalam, yang ditopang oleh Al-Qur’an, hadits, dan jejak para nabi.

1. Ridha dalam Perspektif Al-Qur’an: Jalan Dua Arah

Ridha bukan hanya tentang manusia menerima ketentuan Allah, tetapi juga tentang Allah meridhai hamba-Nya. Dalam Al-Qur’an, hubungan ini bersifat timbal balik:

“Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”

(QS. Al-Bayyinah: 8)

Ayat ini menunjukkan bahwa ridha bukan sekadar kepasrahan, melainkan puncak hubungan spiritual. Ketika seorang hamba mampu menerima ketetapan Allah dengan lapang, di situlah ia sedang menapaki jalan menuju keridhaan Allah.

Namun Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa manusia sering kali tidak memahami kebaikan yang tersembunyi:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini menampar ilusi kendali manusia. Apa yang kita anggap sebagai kerugian bisa jadi justru penyelamat, dan apa yang kita kejar mati-matian bisa menjadi sumber luka.

2. Hadits: Ukuran Kebaikan Seorang Mukmin

Rasulullah ﷺ memberikan ukuran yang sangat jelas tentang kualitas iman melalui sikap terhadap takdir:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu pun baik baginya.”

(HR. Muslim)

Hadits ini tidak mengatakan bahwa hidup seorang mukmin selalu mudah. Justru sebaliknya—yang membuat semuanya “baik” adalah sikap batinnya, bukan kondisi luarnya.

Dalam hadits lain:

“Barang siapa yang ridha, maka baginya keridhaan (Allah), dan barang siapa yang murka, maka baginya kemurkaan (Allah).”

(HR. Tirmidzi)

Di sini, ridha bukan hanya hasil dari iman, tetapi juga sebab turunnya keridhaan Allah.

3. Nabi Ayyub: Ridha di Tengah Kehilangan

Kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalam adalah cermin paling jernih tentang ridha dalam penderitaan. Ia kehilangan harta, keluarga, dan kesehatan. Namun tidak ada keluhan yang keluar dari lisannya selain doa yang penuh adab:

“Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

(QS. Al-Anbiya: 83)

Perhatikan, Nabi Ayyub tidak memprotes takdirnya. Ia hanya menyampaikan keadaan, tanpa menyalahkan. Itulah ridha—mengakui rasa sakit tanpa menuduh Allah tidak adil.

Dan bagaimana Allah membalas?

“Maka Kami pun mengabulkan doanya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya…”

(QS. Al-Anbiya: 84)

Ridha tidak selalu menghapus ujian seketika, tetapi ia membuka pintu pertolongan yang tepat waktunya.

4. Nabi Yusuf: Ketentuan yang Terlihat Pahit, Berujung Indah

Nabi Yusuf ‘alaihissalam dijatuhkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, difitnah, dan dipenjara. Jika dilihat dari permukaan, hidupnya adalah rangkaian ketidakadilan.

Namun pada akhirnya, ia berkata:

“Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki.”

(QS. Yusuf: 100)

Kalimat ini lahir dari hati yang sudah berdamai dengan seluruh perjalanan hidupnya. Ia tidak lagi melihat masa lalu sebagai luka, tetapi sebagai rangkaian rencana Ilahi yang utuh.

5. Nabi Ibrahim: Ridha yang Menembus Logika

Salah satu ujian paling berat dalam sejarah manusia adalah ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail.

Apa yang terjadi?

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”

(QS. Ash-Saffat: 102)

Dan jawaban Nabi Ismail:

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Ini adalah puncak ridha: ketika perintah Allah bertentangan dengan naluri terdalam manusia, namun tetap dijalankan dengan keyakinan penuh.

6. Mengapa Ridha Sulit?

Secara manusiawi, ridha sulit karena beberapa hal:

Kita mencintai kontrol: ingin semua sesuai rencana.

Kita menilai secara sempit: hanya dari apa yang terlihat saat ini.

Kita takut kehilangan: padahal sering kali kehilangan adalah bentuk perlindungan.

Padahal, Allah mengingatkan:

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.”

(QS. At-Taghabun: 11)

Petunjuk itu bukan selalu berupa solusi cepat, tetapi ketenangan dalam memahami.

7. Apa yang Perlu Dilakukan untuk Belajar Ridha?

Ridha tidak datang tiba-tiba. Ia dilatih, dipupuk, dan dijaga.

Pertama, luruskan pemahaman tentang takdir

Takdir bukan musuh, tetapi bagian dari rencana Allah yang lebih luas.

Kedua, perbanyak doa yang jujur

Bukan hanya meminta hasil, tetapi juga meminta hati yang lapang.

Contoh doa:

“Ya Allah, jadikan aku ridha terhadap apa yang Engkau tetapkan bagiku.”

Ketiga, belajar melihat hikmah, bukan hanya peristiwa

Setiap kejadian punya makna, meski tidak langsung terlihat.

Keempat, jaga syukur dalam hal kecil

Syukur melatih hati untuk menerima.

Kelima, kurangi perbandingan dengan orang lain

Karena sering kali ketidakridhaan lahir dari membandingkan takdir.

8. Penutup: Pertanyaan yang Tidak Bisa Dihindari

Pada akhirnya, ridha adalah kejujuran paling dalam. Ia tidak bisa dipalsukan, tidak bisa ditampilkan hanya di lisan.

Kita boleh terus berdoa, berharap, dan berusaha. Itu bagian dari ibadah. Namun ada satu pertanyaan yang harus terus kita ajukan kepada diri sendiri:

Apakah kita hanya ingin takdir yang sesuai keinginan, atau benar-benar ingin dekat dengan Allah dalam segala keadaan?

Karena bisa jadi, kedekatan itu tidak datang melalui apa yang kita minta—melainkan melalui apa yang awalnya kita tolak, namun akhirnya kita terima dengan hati yang tunduk.

Di situlah ridha tumbuh. Dan di situlah ketenangan sejati ditemukan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *