COLLIQ PUJIE: Kartini Bugis yang Dilupakan & Penjaga Peradaban yang Luput Dihargai Sejarah?

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin

Dalam bentangan sejarah Sulawesi Selatan yang kaya akan nilai dan kearifan, ada satu nama yang tidak sekadar layak dikenang, tetapi layak direnungkan secara mendalam sebagai teladan peradaban, Colliq Pujie. Ia bukan hanya perempuan Bugis berdarah bangsawan dari Tanete Rilau Barru, tetapi juga seorang intelektual, budayawan, penulis, dan penjaga warisan leluhur yang jejak pengabdiannya melampaui sekadar ruang dan waktu, yang kemudian dilanjutkan oleh putrinya yang bernama Siti Aisyah We Tenriolle adalah tokoh emansipasi wanita .

Siti Aisyah We Tenriolle adalah Datu (Ratu) Kerajaan Tanete (kini Barru), Sulawesi Selatan pada tahun 1855-1910.Selain menguasai Kerajaan Tanete, Siti Aisyah We Tenriolle juga menguasai Kerajaan Bugis. Berkat kontribusi Siti Aisyah We Tenriolle dalam menerjemahkan mahakarya epos La Galigo dari bahasa Bugis kuno ke bahasa Bugis umum, Tanete memperoleh popularitas hingga samudra dan benua Eropa. Waktu kelahiran Siti Aisyah tidak diketahui secara pasti. Namun, Siti Aisyah We Tenriolle wafat pada tahun 1919, di desa Pancana Tanette ri Lau, yang juga kampung kelahirannya. Kiprahnya dalam memperjuangkan emansipasi wanita melaui sekolah perempuan merupakan warisan intelektual dan spirit perjuangan dari ibunya Colliq Pujie.

Colliq Pujie lahir dalam lingkungan aristokrat Bugis yang menjunjung tinggi adat, ilmu, dan kehormatan. Namun, ia tidak larut dalam kenyamanan status sosialnya. Justru dari ruang itulah ia memulai perjalanan panjangnya sebagai seorang perempuan yang sadar akan pentingnya ilmu dan pelestarian nilai. Ia tumbuh dalam tradisi lisan dan tulisan yang kuat, di mana aksara lontara menjadi medium utama untuk merekam kehidupan, sejarah, dan falsafah hidup masyarakat Bugis.

Dalam dirinya, berpadu kehalusan budi, ketajaman intelektual, dan keteguhan moral. Ia bukan hanya membaca tradisi, tetapi menafsirkannya. Ia bukan hanya mewarisi budaya, tetapi menghidupkannya kembali dalam bentuk yang lebih terjaga dan terarah.

Salah satu kontribusi terbesarnya adalah keterlibatannya dalam penyelamatan dan penyuntingan naskah-naskah lontara, termasuk epos agung La Galigo. Di tengah ancaman hilangnya manuskrip-manuskrip tersebut, Colliq Pujie hadir sebagai penjaga sunyi yang dengan penuh ketekunan menyalin, menyusun, dan merawat teks-teks tersebut. Ia bekerja bukan untuk popularitas, tetapi untuk keberlangsungan peradaban.

Apa yang ia lakukan bukan sekadar pekerjaan filologis, tetapi sebuah misi kemanusiaan. Sebab dalam setiap lembar lontara yang ia selamatkan, tersimpan nilai-nilai moral, etika sosial, dan pandangan hidup yang menjadi fondasi masyarakat Bugis, tentang kehormatan (siri’), solidaritas (pesse), dan prinsip hidup saling memanusiakan (sipakatau), saling memuliakan (sipakalebbi), serta saling mengingatkan (sipakainge).

Dalam konteks inilah Colliq Pujie layak disebut sebagai “Kartini Bugis”. Jika Raden Ajeng Kartini membuka cakrawala perempuan melalui pendidikan dan kesadaran, maka Colliq Pujie menjaga akar peradaban melalui tulisan dan pelestarian budaya. Keduanya bergerak dalam ruang yang berbeda, tetapi menuju tujuan yang sama, mengangkat martabat manusia, khususnya perempuan, agar tidak terpinggirkan dalam sejarah.

Namun keistimewaan Colliq Pujie tidak hanya terletak pada kontribusinya dalam dunia literasi dan budaya. Ia juga merupakan simbol perempuan yang mampu memainkan peran strategis dalam masyarakat tanpa harus kehilangan jati dirinya. Ia tidak menanggalkan identitas Bugisnya, tetapi justru menjadikannya sebagai kekuatan. Ia tidak menabrak nilai, tetapi menghidupkan nilai itu dalam bentuk yang lebih relevan.

Di tengah realitas hari ini, di mana perempuan sering kali dihadapkan pada dilema antara kebebasan dan nilai, sosok Colliq Pujie menghadirkan alternatif yang sangat penting, bahwa perempuan dapat mandiri tanpa harus kehilangan akar, dapat berdaya tanpa harus meninggalkan adab, dan dapat berkontribusi tanpa harus mengorbankan identitas.

Ia mengajarkan bahwa emansipasi bukanlah tentang melampaui batas, tetapi tentang menemukan keseimbangan. Bahwa kekuatan perempuan tidak harus ditunjukkan dengan konfrontasi, tetapi dapat diwujudkan melalui konsistensi dalam menjaga nilai dan memberi manfaat.

Jika kita membaca perjalanan hidupnya secara lebih dalam, kita akan menemukan bahwa Colliq Pujie adalah representasi dari perempuan yang bekerja dalam keheningan, tetapi menghasilkan gema yang panjang. Ia tidak tampil sebagai orator, tetapi sebagai penulis sejarah. Ia tidak membangun panggung, tetapi membangun fondasi. Dan justru dari situlah kekuatannya muncul.

Dalam konteks kemaslahatan, kontribusi Colliq Pujie sangat luas. Ia menjaga identitas budaya, memperkuat literasi, dan menanamkan nilai-nilai moral yang menjadi rujukan hidup masyarakat. Ia adalah penghubung antara masa lalu dan masa depan, antara tradisi dan modernitas.

Di tengah arus globalisasi yang sering kali menggerus identitas lokal, peran seperti yang dimainkan Colliq Pujie menjadi semakin relevan. Ia mengingatkan kita bahwa kemajuan tanpa akar adalah kerapuhan, dan bahwa modernitas tanpa nilai adalah kekosongan.

Maka ketika kita berbicara tentang perempuan hari ini, kita tidak cukup hanya berbicara tentang kesetaraan, tetapi juga tentang arah. Tidak cukup hanya tentang kebebasan, tetapi juga tentang makna. Dan dalam hal ini, Colliq Pujie telah memberikan contoh yang sangat jelas.

Ia adalah perempuan yang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk generasi. Ia tidak hanya menjaga apa yang ada, tetapi memastikan bahwa apa yang baik tetap hidup dan diwariskan.

Pada akhirnya, Colliq Pujie bukan hanya milik Sulawesi Selatan, tetapi milik bangsa ini. Ia adalah bukti bahwa perempuan Nusantara sejak dahulu telah memiliki kapasitas intelektual, kedalaman moral, dan kontribusi nyata dalam membangun peradaban. Colliq Pujie hadir dan memperjuangkan nasib dan hak peremuan jauh sebalum RA. Kartini lahir dan berkiprah.

Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk zaman yang sering melupakan esensi, kita perlu kembali belajar darinya, tentang bagaimana menjadi perempuan yang tidak hanya hadir, tetapi bermakna. Tidak hanya terlihat, tetapi memberi arah.

Karena sejatinya, sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang paling keras bersuara…tetapi oleh mereka yang paling setia menjaga nilai.

#Wallahu A’lam Bishawab

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *