Warisan Pinisepuh Bangkit! CUPANK DODOL Serbu Pasar Lebaran 1447 Hijriah, Puluhan Kilogram Ludes Dipesan

NUSANTARA ~ Momentum Bulan Suci Ramadhan serta Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 tidak hanya menjadi ruang silaturahmi dan penyucian jiwa, tetapi juga panggung kebangkitan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. Di tengah semangat takbir yang menggema, CUPANK DODOL hadir sebagai penganan tradisional yang dikemas dengan sentuhan modern, tanpa tercerabut dari akar budaya Nusantara. Peluncuran lunak (soft launching) produk ini menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat identitas kuliner bangsa di tengah arus globalisasi.

Langkah ini selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2019 tentang Ekonomi Kreatif, yang mendorong pengembangan produk berbasis warisan budaya sebagai kekuatan ekonomi nasional. Tradisi membuat dodol yang diwariskan turun-temurun oleh para pinisepuh Nusantara bukan sekadar praktik kuliner, melainkan perwujudan nilai gotong royong, ketekunan, dan kesabaran (nilai yang sejalan dengan ajaran Islam tentang kerja keras dan keberkahan rezeki).

Direktur Eksekutif Marketing, Dewi Hapsari, KHP, S.T, dalam keterangannya menyampaikan bahwa peluncuran CUPANK DODOL dilakukan sebagai bagian dari memeriahkan Idul Fitri tahun ini. “Dalam menyambut Iedul Fitri 1447 Hijriah, kami melakukan soft launching CUPANK DODOL sebagai penganan atau cemilan tradisional yang turun-menurun diwarisi oleh Pinisepuh Nusantara. Alhamdulillah, baru beberapa hari diluncurkan, puluhan kilogram dodol beraneka varian rasa telah diserbu pesanan masyarakat,” ujarnya.

Fenomena tingginya minat masyarakat tersebut mencerminkan adanya kerinduan kolektif terhadap cita rasa autentik yang sarat nilai sejarah. Dalam perspektif hukum perlindungan konsumen sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, produsen wajib memastikan mutu, keamanan, serta kejelasan informasi produk. Pihak CUPANK DODOL menyatakan komitmennya untuk memenuhi standar tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral dan hukum.

Dari sisi kemasan dan diferensiasi produk, inovasi menjadi daya tarik tersendiri. jaenudin, yang akrab disapa Jay Jantuk selaku owners vendor rekanan, menjelaskan bahwa konsep kemasan dirancang unik dan berbeda. “Dalam kemasan dan jenis produk, ada yang unik. Banyak yang bertanya-tanya, dodol imut itu seperti apa. Justru rasa penasaran itulah yang membuat produk ini cepat dikenal,” tuturnya.

Bang Jay menambahkan, Kehadiran “dodol imut” dengan varian rasa yang beragam memperlihatkan bahwa tradisi dapat berdialog dengan kreativitas tanpa kehilangan ruhnya. Hal ini juga selaras dengan prinsip pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM, yang menekankan pentingnya inovasi, daya saing, dan pemberdayaan ekonomi rakyat.

Secara religius, bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah yang berujung Idul Fitri adalah momentum kembali kepada fitrah. Dalam konteks ekonomi, fitrah itu dapat dimaknai sebagai kembali pada produk lokal yang jujur, bersih, dan penuh keberkahan. Dodol yang dimasak dengan kesabaran, diaduk dalam waktu panjang, seakan menjadi metafora perjalanan spiritual manusia, bahwa kemanisan hidup lahir dari proses yang tidak instan. Ungkap Zay Jantuk kepada awak media, Selasa (24/2/2026).

Dewi Hapsari menimpali dengan semangatnya, Namun demikian, pelaku usaha tetap dituntut menjaga legalitas dan standar produksi pangan sesuai ketentuan perundang-undangan, termasuk aspek perizinan, labelisasi, serta sertifikasi halal sebagaimana diamanatkan dalam regulasi yang berlaku. Kepatuhan terhadap hukum bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan wujud integritas dan tanggung jawab sosial.

“Secara visioner, soft launching produk dodol ini bukan sekadar momentum musiman. Ia dapat menjadi embrio gerakan kebangkitan kuliner tradisional berbasis identitas Nusantara yang mampu menembus pasar nasional bahkan internasional (global-red). Dengan strategi pemasaran yang adaptif dan kemasan yang komunikatif, CUPANK DODOL berpeluang menjadi ikon baru penganan khas Lebaran yang membanggakan,” Terang Dewi Hapsari.

Di tengah kesucian Ramadhan serta gema takbir dan doa yang melangit, hadirnya CUPANK DODOL mengingatkan bahwa membangun bangsa tidak selalu dimulai dari hal besar. Kadang ia bermula dari dapur sederhana, dari adonan yang diaduk penuh kesabaran, dari niat menjaga warisan leluhur. Jika dikelola dengan profesional, taat hukum, dan berlandaskan etika, maka manisnya dodol bukan hanya terasa di lidah, tetapi juga menjadi simbol manisnya kebangkitan ekonomi umat. Pungkas Dewi Hapsari KHP, S.T.

(CP/red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *